Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Puing-puing kekuatan


__ADS_3

Sarapan hari ini sudah tersaji lebih pagi dari biasanya di meja makan. Ada Nasi goreng, cumi goreng tepung, telur dadar dan acar timun, tidak lupa segelas susu hamil rasa cokelat untuk Gita dan susu biasa untuk Galih.


Kamar atas masih terlihat gelap, mungkin saja Galih dan Gita belum bangun. Nadifa melangkahkan kaki menuju kamar atas untuk membangunkan mereka untuk segera mandi dan sarapan.


Awalnya ingin mengetuk terlebih dahulu pintu itu nyatanya pintu terdorong sendiri karna tidak terkunci.


Dilihatnya Gita masih didalam selimut hanya sendirian ditempat tidur ia tidak menemukan sosok suaminya disini.


"Mba Gita bangun, ayo mandi lalu sarapan," Gita mengangguk dan bangkit dari tempat tidur." Mas Galih dimana, Mba?"


Gita menggeleng dan baru menyadari jika semalam Galih tidak tidur bersamanya.


Nadifa pun berlalu turun ke bawah untuk mencari Galih.


Krekk...dibuka pintu ruang kerja suami nya. Terlihat Galih sedang tidur di kursi kerja dengan kepala tertunduk ke meja dan tangan melingkarinya.


"Kasian sekali suamiku," batin Nadifa menghampiri Galih lalu memegang bahunya.


"Mas, ayo bangun. Mandi lalu sarapan," Nadifa membisik lembut dan merangkul suaminya.

__ADS_1


Merasa suara yang dinanti hadir, Galih pun membuka mata dengan baik."Aku masih ngantuk sayang dan badan ku pegal-pegal semua,"


Mengingat semalaman ia tidur dengan posisi seperti itu tanpa melonjorkan seluruh badannya dikasur.


"Kenapa tidak tidur dikamarmu, Mas. Ini sungguh menyiksa kamu,"


"Ini tidak ada apa-apanya dibanding perasaan mu yang hancur karna aku dan wanita itu,"


Nadifa menggelengkan kepala dan membeli rambut suaminya,"Aku enggak apa-apa Mas, wanita itu juga istrimu, wanita yang saat ini mengandung anak mu yang juga anak ku,"


Galih menggeleng dan kembali bermanja dipangkuan Nadifa, ia terus menyenderkan kepalanya didada Nadifa menaruh tangannya kepundak istrinya kini.


"Ayo mandi, Mas. Aku juga mau mandi dan siap-siap, habis itu kita sarapan bersama,"


*****


Nadifa datang lebih pagi seperti biasa, dilihatnya ruangan masih sepi dan ruangan kerja Malik pun masih gelap. Ia kembali sibuk menatap layar komputer dan menuntaskan pekerjaanya.


Datang lah dari arah pintu masuk sesosok lelaki yang sangat ia rindukan.

__ADS_1


"Assalammualaikum, Nadifa sehat ?" tanya Malik yang berhenti di meja kerja Nadifa sambil membawa tas kerjanya.


Hari ini Malik menggunakan stelan jas lengkap karna ada rapat penting lagi dengan PresDir perihal laporan bulanan. Nadifa pun akan ikut bersama untuk mendampinginya seperti bulan-bulan sebelumnya.


Nadifa terus melihati Malik yang saat ini terlihat gagah sekali dan tampak lebih berkarisma dengan stelan jas yang jarang sekali ia pakai.


"Waalaikumsallam Pak, alhamdulillah sehat. Pak Malik juga sehat ya," jawab Nadifa lembut dengan suara agak serak dan mata masih terlihat sedikit sembab karna menangis kemarin.


Malik pun faham akan hal itu, ia tau Nadifa menahan sedih tidak tertahan seperti hal dirinya yang semalam juga tidak bisa tidur.


"Nanti kita rapat jam 11 ya, saya mau minta data pengeluaran bulan kemarin ya, tolong nanti antarkan ke ruangan saya," Pinta Malik kepada Nadifa.


Nadifa mengangguk dengan senyum," Baik Pak,"


Malik kembali mengayun langkah kaki nya untuk terus berjalan menuju ruangannya.


Dada Nadifa terasa sesak lagi, Ia betul-betul tidak bermimpi jika hari ini Malik bukanlah miliknya lagi, tidak lagi menatap dalam cinta dan memanggil dengan kata sayang.


Semua berubah dengan sangat cepat. Nadifa harus bisa mengikuti semua itu, ini semua untuk kebaikan mereka bersama.

__ADS_1


__ADS_2