
" Tenang lih, kita bawa saja Nadifa ke klinik," Gita mengusulkan, saat ini ia berubah kembali menjadi bidadari setelah berperan menjadi iblis.
"iya baiklah," Galih pun mengangkat tubuh istrinya yang masih belum sadar itu. Ia begitu cemas akan istrinya. Lalu menaruh nadifa dibangku belakang kemudi yang disandrkan dipangkuanya. Mobil dikemudikan oleh Dendi dan si iblis Gita menemani disampingnya.
Gita tetap santai dan menari nari kesenangan dalam hati karena rencanaya berhasil dengan baik, ia hanya berdoa agar Nadifa mati saja saat ini.
Galih terus menggenggam tangan istrinya yang masih belum sadarkan diri itu. darah yang menetes pun semakin banyak membasahi jatuh.
"Bangun sayang..bangun," Galih tetap tidak bisa tenang.
kali ini keadaan membuat Nadifa berhasil membuat cemas dua lelaki yang sedang mencemaskan keadaan dirinya yaitu Galih dan Malik.
******
"Ayah...!" Panggil Kinanti menyadarkan lamunan Malik.
"Ayo makan dulu yah, kita kan jarang-jarang makan berdua seperti ini," ucap Kinanti sambil menyodorkan kentang kepada Malik.
"Iya sayang.." Jawab Malik yang masih dipenuhi akan fikiran mengingat Nadifa.
__ADS_1
"Apakah kamu sesenang itu bersamanya, sampai kamu lupa mengabari dan tidak membaca pesan ku," batin Malik yang semakin sesak dadanya.
Saat ini ia tidak mengetahui apa yang sudah terjadi dengan Nadifa disana. Ia hanya menerka-nerka bahwa Nadifa lupa dengan dirinya.
"Tadi sore kamu begitu lekat denganku, kenapa kini kamu seperti pergi menjauh, aku tidak ingin kehilangan kamu..." Batin Malik melemah.
Ia terus menatapi istrinya yang sedang lahap dalam makanannya.
" Maaf bunda, ayah sudah berbohong," Malik menatap kembali ke wajah istrinya itu.
Tetap saja, wajah Nadifa tidak bisa pergi dari pandangan Malik, semakin ia memikirkan..semakin ia menggila dalam rindunya, Hatinya tidak karuan dibuatnya.
30 menit sudah berlalu, Kini Nadifa sudah tersadar dari pingsannya. Ia melihat satu persatu orang yang sedang melihati ke arahnya, ditemukan wajah bahagia terlepas dari cemas dari sisi kirinya yaitu Galih, suaminya yang masih menggenggam tanganya.
"Awwww...." Rintih Nadifa saat menggerakan kepalanya
"sudah, jangan bergerak dulu. dahimu tadi habis dijahit kecil karena ada luka robek sedikit," Galih menjelaskan.
"Aku ingin pulang..," Nadifa melihati wajah suaminya.
__ADS_1
"iya sebentar lagi kita pulang, tunggu obatnya dulu. kamu istirahat dulu disini," Galih pun beranjak keluar menghampiri Gita yang sedang berpura pura baik mengunggu obat jadi dari apotik.
" Makasih Git, kamu mau nolong aku antar Nadifa sampai ke klinik ," Galih memberi ucapan terima kasih dan pujian kepada Gita.
"iya lih sama sama, Nadifa sudah aku anggap seperti adik ku sendiri," Gita memberikan senyum terbaiknya. Galih pun mengangguk dan memegang pundak Gita dengan lembut.
"Cih !! Adik macam apa ...Aku tak sudi, menyebut si perebut cintaku dengan kata Adik, Nadifa lihatlah...ini baru permulaan dari ku," ucap Gita dalam hati nya.
Galih pun masuk kedalam ruangan tindakan dan membantu Nadifa untuk turun dari brangkar pasien.
"hati hati sayang..," Galih memapah tubuh Nadifa yang masih lemah dengan balutan perban di area dahi sebelah kirinya.
"obatnya diminum teratur ya dif, minum vitamin dan susu biar kamu tidak lemas," Gita memberi saran dengan baik, ia tetap bersikap baik dan berperilaku santai menutupi kejahatannya.
Kini mereka pun kembali ke perjalan pulang kerumah untuk istirahat dari acara kantor barusan. Nadifa tetap dalam pelukan Galih, merintihkan sakit akan tubuhnya itu. Gita tetap menatap jalan dengan rasa Puas karena telah memberi pelajaran kepada Nadifa yang sama sekali tidak mempunyai salah apa-apa ke pada dirinya dan merasa tergugah karna Galih sudah bersimpati kembali kepada dirinya...
Satu tahap lagi....aku akan memiliki mu..cintaku..." sekali lagi ucapan kebahagiaan ada didalam hati Gita.
Dendi yang terus mengemudi mobil, tetap diam dan bertanya-tanya apakah kejadian ini ada hubungannya dengan Gita atau tidak.
__ADS_1