
Bonus nih..selamat baca yah🤗
***
Galih masih mengetuk-ngetuk pulpennya dimeja, sambil menahan kepalan tangannya di dagu. Ia mencoba untuk berfikir dan mencerna apa yang ia dengar barusan, namun seketika hatinya mendidih menjadi tidak beraturan. Ia hafal suara tadi yang sedang bersama Nadifa.
Galih sesekali melirik Alea yang juga sama tengah merajuk seperti dirinya. Wajah Alea sedari tadi masam tidak bergairah. Ia masih memikirkan Fajar yang sedari malam tidak membalas pesannya.
"Lagi apa sih dia? pesan ku nggak ada satu pun yang dibalas!" Alea mengumpat kesal dalam hatinya.
"Kamu kenapa?"
Alea menoleh ke arah Galih yang sedang mengundang dirinya dengan pertanyaan itu.
"Nggak apa-apa Pak, cuman bete aja disini!"
"...Sama saya juga!"
Alea menoleh kembali. "Iya saya perhatiin dari awal berangkat sampai tiba kaya nya Pak Galih merungut terus, ada apa Pak?"
"Lagi inget anak sama istri, saya kangen sama mereka." jawab Galih menerawang jauh.
"Telepon aja Pak atau video call.." Alea memberi beberapa saran. Namun hanya dianggap sebagai solusi pias oleh Galih. Mengingat tadi ia masih kecewa, ingin marah tapi ia merasa sedang jauh dari istrinya. Ia takut akan memperburuk suasana rumah tangganya kembali.
__ADS_1
Lalu kemudian.
Kringg....
Istriku Incaming call
"Ya Hallo?" suara mereka saling bertabrakan.
"Pah?" Nadifa memanggil suaminya pelan. Ia masih ingin mendengarkan nada suaminya terlebih dahulu.
"Iya Mah." Galih berjuang sekuat tenaga untuk tetap menahan ledakan emosi yang sedari tadi membutuhkan pemadaman. Dirasa suaminya bersahabat, Nadifa pun berujar lagi.
"Cepat pulang ya Pah, aku kangen. Gifali juga---"
Nadifa menghela nafasnya pelan. Percuma ia jelaskan kalau Galih masih dalam emosi.
"Kamu udah makan Pah?" tanya Nadifa dengan lembut.
Mendengar suara istrinya yang seperti ini, membuat ia sedikit luluh dan iba. Mungkin ia merasa istrinya telah membuka ruang untuk nya lagi.
"Sudah barusan, kamu lagi apa Mah? sudah makan belum?" Galih meredam emosinya untuk saat ini. Ia harus bisa berdamai agar hatinya menjadi tenang. Biar pekerjaan disini cepat selesai dan dia bisa pulang kembali.
"Pah, Mama takut sendirian nanti malam cuman berduaan sama Gifali." rintih Nadifa. Entah mengapa malam ini ia merasa takut hanya berdua dengan anaknya.
__ADS_1
Galih diam sebentar ia terus berfikir, karena merasa tidak tega dengan ucapan Nadifa.
Hanya berdua dengan balita usia 4 bulan dan tengah hamil muda, apalagi disekitar kompleks sedang musim-musimnya pencurian.
"Semua pintu dikunci ya Mah, jangan jauh-jauh dari HP kalau ada apa-apa cepat telepon Papah!"
"Tapi kan Papah jauh kalau kita dirumah ada apa-apa, bagaimana?"
Entah saat ini Nadifa tetap berkeinginan kalau Galih lebih baik pulang saat ini.
"Ngertiin dulu Papah ya Mah, masih ada kerjaan disini nggak bisa ditinggal, Insya Allah nanti dirumah nggak akan ada apa-apa. Gifali lagi apa sekarang?" Galih mengalihkan obrolan itu.
"Lagi tidur Pah, ya udah kalau gitu Mama tutup dulu teleponnya ya!"
Tutt...Nadifa memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak. Ia tahu suaminya tidak akan mengelak jika sudah tentang kerjaan.
Galih mencoba menghubungi istrinya kembali, namun tidak ada jawaban. Nadifa lagi-lagi merajuk. Mungkin betul ia merasa tidak enak hanya berdua dengan Gifali malam nanti.
Entah akan ada hal apa.
***
Semoga aja kalian nggak bosen yaa sama cerita ini, jujur aku lagi kurang semangat💔💔💔.
__ADS_1
segini dulu ya..bbye🥰