Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Terkuak


__ADS_3

Dendi masih bingung dengan pekerjaan yang diminta oleh Galih saat ini, mengingat ia harus berkorban meninggali beberapa pekerjaannya yang tengah menumpuk di meja.


Dendi seperti orang yang tengah dibanjiri dengan kebingungan, mengapa ia harus melakukannya.


"Kerjain aja ! saya kasih kamu dispensasi waktu!"


"Bisa libur dihari kerja maksudnya ?" Dendi mulai bernego kepada sang Wakil Direktur


"Bisa ! usahakan sampai ditempat kerja sebelum bangun dari tidur !" gelak tawa Galih terkekeh-kekeh.


"Maksud saya, kasih dispensasi libur sehari aja Pak!"


"Jomblo libur mau ngapain si?"


Dendi memajukan bibirnya.


"Marabin lele Pak," Dendi ikut hanyut dalam kekonyolan orang nomor dua di SUAM


"Jadilah jomblo yang profesional Den, nggak akan pacaran sebelum punya pacar !"


lagi dan lagi Dendi hanya jadi bahan banyolan Galih.


"Oke deh saya acc kamu libur," Galih mulai memberi secerca harapan untuk si jomblo akut ini.


Muncul raut senang di wajah Dendi.


" Libur di hari..Minggu," Galih kembali tawa terbahak-bahak.


Benar-benar Galih, disaat menegangkan seperti ini saja ia masih sempat-sempatnya meledeki Dendi.


15 menit telah berlalu, kedua mata mereka terus berputar-putar melihati layar komputer.


"Gimana Den? bisa nggak?" kalimat pertanyaan yang diulang-ulang oleh Galih terus melihati Dendi tengah bersipaku dengan layar komputer diruangan kerja Galih.


Setelah tiga jam berada dikantor Lukman, akhirnya Galih memutuskan untuk menuju kantor dan meminta Dendi untuk cepat datang menemui nya diruangan.


"Sabar Pak, lagi koneksi," balas Dendi yang jengah dengan sikap Galih yang tidak sabaran.


"Sortir untuk 3 bulan terakhir ya Den!"


Dendi mengangguk.


Galih terus menatapi layar komputer bersamaan dengan Dendi yang tengah berusaha. Dendi dikenal dengan kecerdasannya dibidang IT, ia tidak akan melewatkan kelihaian anak buah nya ini untuk membantu nya membereskan sebuah misi yang harus diakhiri dengan cara terhormat.

__ADS_1


Ting...


Kedua mata Dendi mulai membulat lurus lalu terdengar desisan suara kemenangan disana, Ia berhasil membuka akun pesan seseorang yang tengah diselidiki oleh mereka.


"Sudah bisa Pak," Dendi memberikan wajah senangnya ke arah Galih, yang terus menatapi akun pesan yang telah terbuka dengan anggukan kepala yang mengakui kecerdasan Dendi.


"Nih.." Galih memberikan uang dua lembar merah dari dompetnya ke meja lalu digeserkan ke arah Dendi.


"Buat beli permen sutra," Gelak tawa Galih terpingkal-pingkal di udara.


Seketika sang jomblo akut merasa tercengang dengan sebuah rezeki yang mendadak turun kepada dirinya.


"Bisa beli segunung nih..haha. Makasi Pak, saya pamit." ucap Dendi bangkit lalu berlalu meninggalkan Galih yang masih menatapi layar komputer diruang kerja nya.


Bola mata nya naik turun, satu kepalan tangan kiri diletakan dibawah dagu dan tangan kanan menggenggam mouse untuk digerakan kesana kemari.


MALIK.


Nama yang pertama kali diketik oleh Galih di akun chat milik istrinya. Ia pun mulai melihati proses loading dalam mencari.


NIHIL.


Galih tidak menemukan nama itu muncul disana, Nadifa sudah menghapus nomor Malik untuk kepentingan sama-sama melupakan. Toh setiap hari bertemu, jika ada yang ingin dibahas tentang pekerjaan. Ia bisa menghubunginya langsung atau lewat sesama telepon kantor.


Lalu ia kembali menarik nafasnya dalam-dalam, semoga dengan nama yang akan ia ketik, hasilnya seperti yang pertama. Ia tidak menemukan chat apapun antara Nadifa dan Malik.


"Mereka sudah tidak berhubungan, gue lega."


Respon tubuh Galih makin membaik.


Kemudian ia mengetik kembali sebuah nama yang sebenarnya enggan ia lakukan.


FAJAR.


Proses loading pencarian telah berlangsung, lalu seketika matanya terbelalak lebih dekat ke layar, mengeras kan kembali rahang. Ketika menemukan rentetan chat dengan Nadifa dari percakapan 3 bulan yang lalu.


Fajar : Lagi apa Dif # 20:00


Difa : Maaf Mas baru balas # 07:00


Fajar : Maksi keluar yuk # 11:00


Difa : Mas maaf HP ditinggal # 13:00

__ADS_1


Fajar : Dif aku didepan kosan kamu # 19:00


Difa : Difa masih lembur di kantor # 20:00


Fajar : Difa lagi apa # 21.20


Fajar : Dif # 21.30


Fajar : P # 21. 44


Fajar : P # 21.45


Fajar : Lagi online kok nggak bales Dif # 22:00


Beberapa contoh percakapan Fajar dengan Nadifa di akun chat pribadi istrinya. Hanya jawaban dingin dari Nadifa dalam menanggapi Fajar. Tidak ada respon apapun, apalagi bertukar pesan dengan bumbu cinta.


Tidak ada sama sekali !


"Brengsek nih setan! malah seminggu yang lalu masih sempet-sempetnya chat istri gue nanyain lagi apa ! Bed-ebah----!"


Galih menghentakan genggaman tangan ke meja kerjanya.


"Sialan ! keparat ! an****!"


Emosi Galih makin memuncak, ia terus menatap layar chat dengan mata sinis akut tanpa maaf. Dada nya terasa panas berkobar-kobar. Sesekali terdengar gretukan gigi dibalik dalam mulutnya.


"Lelaki durrjanah----bang----- !"


Galih terus mengumpat, memaki dan menyebut nama hewan-hewan yang berlarian menari-nari dipandangan nya.


"Tunggu, balasan dari gue !" Galih memegang janji pada dirinya.


Disela amarah yang tengah membuncang, ia teringat akan wajah istri yang semalaman sudah ia sakiti hatinya, ia jauhi dan tidak ia diperdulikan.


"Sayang?" desah peluh Galih mengiringi langkah kaki nya cepat untuk berlalu meninggalkan kantor.


Mereka harus tetap kuat dan berpegang erat ketika badai tengah menerjang lalu lantah memborbardir tubuh mereka.


***


Kaya biasa🀭🀭


Aku tunggu Jempol like dan komen kalian..serta VOTE terbaiknya.

__ADS_1


Hatur Nuhun 😘😘😘**


__ADS_2