
"Bangun sayang, kita sarapan dulu yuk." Galih membangunkan Nadifa yang masih terlelap.
"Mamah kan harus minum obat," Galih mengelus-elus perut datar sang istri.
Nadifa membuka matanya perlahan, mencoba menyeka rasa kantuk yang masih bergelayutan.
"Oh iya Gifali gimana Pah ?"
Hanya nama anak itu yang ditanyakan pertama kali oleh Nadifa.
"Gifali udah mandi, minum susu, sekarang juga udah tidur lagi. Kamu nggak usah mikirin, ada aku yang jagain dia,"
"Oh Syukurlah, makasi ya suamiku," Nadifa bangkit lalu memeluk dan mencium suaminya.
"Aku mau mandi ya," Nadifa melepas pelukannya.
"Aku yang mandiin kamu ya,"
Nadifa mengangguk tanda setuju. Hati Nadifa diliputi rasa gempita, ia merasa Galih sangat mengistimewakan dirinya. Membuat ia seperti bidadari saat ini. Perlakuan seperti itu memang sangat baik untuk memperbaiki kondisi kandungan Nadifa yang masih lemah.
Nadifa diduduki di bathup dengan posisi memunggungi sang suami yang sudah duduk dibelakang dirinya. Bersiap Menyikat dan menggosok punggung tubuhnya.
Galih melakukan pijatan lembut disekitar pundak dan tengkuk leher kepemilikan sang istri. Memperlihatkan suasana punggung yang putih dan mulus memancar disana.
Aroma wangi sabun pun sudah menyeruak menyelimuti tubuh Nadifa. Hal itu membuat wanita ini terlihat begitu tampak sexy dan membuat gairah sang suami mengguncang.
Galih tetap fokus untuk mengendalikan keinginannya, jika tidak
mengingat akan keadaan Nadifa, ia sudah memakan nya saat ini juga.
"Gue harus bisa tahan ! sabar Galih ! demi istri loe !"
Galih sebisa mungkin untuk tetap menahan segala keinginan hasrat nya, untuk saat ini. Mengingat perintah Dokter untuk tidak dulu menyentuh Nadifa sampai beberapa bulan kedepan.
Nadifa terlihat sangat menikmati sentuhan dan pijatan dari sang suami. Sesekali ia mengelukan nafasnya agak berirama dengan baik. Tubuhnya terasa kaku dan tegang karna keseharian aktivitasnya yang cukup padat. Mengurus Gifali, Galih, rumah dan bekerja.
"Berbaliklah !"
Lalu Nadifa membalik kan tubuh depan nya langsung ke hadapan Galih tanpa ada sekat sama sekali. Kedua mata Galih dapat dengan bebas menikmati setiap inci kulit dan memandangi dua buah gunung ciremai yang masih mengantung dengan cantik.
"Duh!"
Hasratnya semakin mendidih, bergelora dan memuncak. Lagi-lagi ia harus menarik nafas dalam-dalam lalu dihembuskan ke udara. Dengusan nafas keras nya bersuara tepat ditelinga Nadifa, ia pun membuka pejaman kedua matanya dengan cepat. Dilihati sang suami masih menggosok semua sisi tubuhnya dengan sabun.
__ADS_1
"Papah kenapa ? kok nafasnya sengal-sengal gitu?" Suara Nadifa membangunkan lamunan Galih.
"Enggak apa-apa Mah, lagi haus aja,"
"Yaudah sana, minum dulu aja. Mama bisa sendiri nih," Nadifa mencoba mengambil sabun foam nya. Tangan Galih seketika mundur kebelakang untuk menjauhi gapaian tangan istrinya.
"Enggak boleh dulu minum katanya, aku harus puasa dulu tiga bulan," Galih berdecis geli, melambungkan tawa dengan tinggi ke udara.
Nadifa yang baru faham pun, ikut tertawa."Rasain papah, puasa deh sampai anak nya lahir," Nadifa kembali meledek.
Dirasa sudah selesai, Nadifa pun di giring keluar kamar mandi dengan handuk yang meliliti tubuh putihnya. Galih terus merangkul tubuh sang istri sampai menepi didepan lemari miliknya.
"Lebih baik warna Hijau atau warna kuning ya Pah?" Nadifa memperlihatkan dua buah dress daster ditangannya.
"Hijau adem, kuning juga cerah. Di pakai dua-duanya juga cantik, terserah kamu mau pilih yang mana, lagi pula kamu juga hanya dirumah aja sekarang." balas Galih duduk ditepi ranjang.
"Jangan terserah dong, ayo pilihin yang hijau apa yang kuning ? walau hanya dirumah, aku tetep mau keliatan cantik buat papah," wajah Nadifa merayu dan manja.
"Kok Difa jadi manja begini ya ? seumur-umur enggak pernah kaya gini sikapnya !"
"Pah, yang mana? kok bengong sih,"
"Ya udah yang hijau aja,"
Galih mengerutkan dahinya berulang-ulang."Ya udah yang kuning aja," balas Galih mempersingkat waktu.
"Gimana sih Pah, tadi bilang nya yang hijau aja,"
"Ya udah yang hijau aja kalo gitu Mah,"
"Tapi kata kamu yang kuning juga cerah," Nadifa kembali menunggu pilihan sang suami.
"Yaudah yang kuning aja, cantik terus cerah,"
Galih tetap mengembangkan senyum untuk meluluhkan hati sang istri yang kini tengah membuat dirinya pusing dari semalam.
"Di awal kamu pilihnya Hijau, enggak konsisten kamu ah !" Nadifa menggerutu.
"Demi abang ketoprak semalem ! sampe sekarang, gue masih salah aja dari tadi !"
Galih mulai lirih.
"Aku kebawah dulu ya, siapin sarapan sama obat-obatan kamu, kalau mau turun. Teriak aja, nanti aku susul ke atas," ucap Galih dengan langkah cepat.
__ADS_1
Lebih baik ia menghindar dari pada telinganya panas karna sikap labil sang istri.
Selang berapa lama. Nadifa pun keluar dari kamar menuruni anak tangga, menghampiri Galih yang masih menyiapi sarapan untuk Nadifa.
Galih menoleh.
"Kok udah turun, enggak panggil Ak----!" Galih menghentikan ucapanya, terdiam lama lalu menaikan satu alisnya yang tebal, matanya melihati Nadifa tidak urung-urung.
"Kok Mamah jadi pakai daster yang warna Ungu ? tadi kan nanya ke papah antara warna hijau atau Kuning?"
Galih memastikan jikalau Nadifa sudah pikun saat ini.
"Tiba-tiba lagi kepengen aja warna yang ungu, lagi pula hanya dirumah saja kan, nggak kemana-mana," jawab Nadifa dengan santai tanpa ada rasa dosa terpancar disana.
Galih hanya bisa memiringkan setengah bibirnya, seraya merintih dan memelas
"Ya Allah, Sabar Lih. Sabar !" mengingat dirinya hampir berdebat dengan sang istri hanya karna daster beberapa menit yang lalu.
Sepertinya Galih harus terus mengisi ulang stok rasa sabar agar tidak habis-habis.
"Ayo sini kamu makan dulu," Galih menarik tangan istrinya untuk duduk.
Nadifa melihati seluruh menu makanan yang sudah tersaji didepan matanya. Ia termenung agak lama.
"Jangan bilang, kalo doi pengen makanan yang lain, aduh udah luluh lantah nih badan!"
"Kenapa sayang?" tanya Galih yang berada disamping nya.
Nadifa menoleh senyum. "Alhamdulillah kaya nya aman nih, Difa enggak akan minta macem-macem," batin Galih menggeliat lalu membalas senyuman sang istri dengan amat cinta.
"Kaya nya aku pengen soto aja deh, soto yang didepan kantor kamu Pah,"
Galih seperti merasakan sengatan listrik yang mendadak menghujam tubuh nya. Nadifa seperti tidak habis memberikan bom bom tar nya untuk sang suami tercinta.
"Ya Allah?"
Entah bagaimana wajah Galih saat ini
🤭😁
****
Aku tunggu Jempol like dan komen kalian..serta VOTE terbaiknya.
__ADS_1
Hatur Nuhun 😘😘😘