Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
persiapan makan siang


__ADS_3

"Dif," panggil dania yang duduk dimeja sebelah.


"Aku mau ijin pulang yah, aku kayanya mau istirahat dulu dirumah," ucap dania lagi.


"Apakah mau dianter mba ?" tanya nadifa.


"Engga usah dif, aku pake grab aja," jawab dania. Lalu ia memencet no ex ruangan yaitu ke ruangan Malik.


"Dania ijin ya pak, mau istirahat dirumah,"


"Ya sudah tidak apa apa, istirahat ya,"


"Terima kasih pak," jawab dania. Ia menutup telepon dan bangkit berdiri sambil menggendong tas.


"Aku pulang ya, makasi makanannya Dif, tempat bekal nya aku bawa dulu ya," kata Dania.


"Hati-hati ya Mba, kabari kalo sudah sampai rumah," Dania mengangguk dan berlalu dengan langkah nya yang lemas. Membawa beban hidup yang kini sedang ia jalani.

__ADS_1


Nadifa kembali melihat ke arah Malik, dan Malik masih melihati nya dari jauh. mereka saling berpandang-pandangan tanpa ada sekat. Senyum penuh cinta hadir mengelilingi mereka.


Malik terus melihati jam dan menunggu komputernya dibetulkan, ia tidak sabar untuk pergi makan siang bersama Nadifa.


Sesekali ada himbauan di sebelah kanan hatinya, mengucapkan ia harus menyudahi perasaan yang semakin membuih, tetapi tetap saja ia termakan akan perjalanan cinta salah yang sudah terlanjur itu, mungkin ia penasaran dengan masa-masa pubernya.


Nadifa melihat jam, sebentar lagi memasuki waktu Ishoma. Ia bersiap siap diri menunggu waktu adzan dan secepatnya melangkah ke mushola lalu pergi bersama.


Tak lama kemudian, Malik keluar dari ruangan menuju meja Nadifa, sembari memberi isyarat ingin pergi ke mushola. Nadifa pun mengangguk pelan dan tetap sedrama mungkin agar tidak terlihat akrab dengan bos kantornya oleh teman teman kerja diruangan.


5 menit Malik pergi, disusul Nadifa dari belakang menuju mushola. Ternyata di mushola sudah banyak orang. Lalu ia mengambil wudhu dan shalat dzuhur.


Malik pun sudah selesai melaksanakan shalat lalu berjalan cepat menuju parkir dan menunggu Nadifa disana. Sedangkan Nadifa pun sekarang sudah selesai dan melipat mukenanya menaruh kembali ke lemari mushola.


Ia mengeluarkan lipstik warna cokelat nute dari kantongnya, mengoleskannya tipis ke bibirnya. Merapihkan rambut yang bergulai memanjang sebahu. Lalu bangkit keluar mushola menuju lantai bawah yaitu tempat parkiran mobil, tempat janjian mereka.


Tampak Malik sudah duduk dikemudi menunggu datangnya sang pujaan hati. terlihatnya wanita semampai, manis dengan rambut cokelat terurai yang sedang berjalan mencari cari mobilnya.

__ADS_1


Lalu brug....Nadifa menabrak orang berjalan dihadapannya.


"Sorry sorry," ucap seorang lelaki yang ditabraknya yaitu Fajar, teman sekantor mereka yang tak sengaja bertemu nadifa pada saat sarapan didekat kantor tempo hari lalu.


"Ohh iya gapapa Mas...," Nadifa menyengitkan dahi, mengingat- ngingat lelaki ini.


"Hey Nadifa, aku Fajar,"


"Oh iya mas Fajar, maaf ya mas," balas Nadifa membetulkan kemejanya.


Mata Malik terus menatap serius kearah Fajar dan Nadifa. Ia melihat Nadifa seperti akrab dengan Fajar, tanpa ia tau percakapan apa yang sedang berjalan.


"Oh iya Mas Fajar, makasi ya Mas. Waktu itu udah bayarin makananku. Aku dikasih tau sama yang jualannya pas mau bayar, tapi aku lupa mau ke Mas lagi buat ngucapin makasih,"


"Ohh yang itu hahaha..iya gak apa-apa Dif, oiya kamu ma kemana ?"


Nadifa bingung mau menjawab apa. tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Mas aku duluan ya, mau ada perlu," ucap Nadifa mengakhiri percakapan mereka.


"baiklah silahkan," jawab Fajar melanjutkan langkah kakinya menuju kantor.


__ADS_2