Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Fajar menggendong tubuh Nadifa


__ADS_3

Nadifa dan Dania pun berbaris dengan yang lainnya setelah mereka mendapatkan piring untuk mengambil makanan yang ada di meja prasmanan, lalu ketika Nadifa sudah selesai mengambil makananya ia pun berjalan dengan langkah cepat menuju meja bersama Dania.


Krek...!! Hak sepatu Nadifa berbunyi akan patah, Nadifa yang saat ini mau seperti terjatuh karena kurang keseimbangan dan diarah lain Fajar yang sedang berkumpul dengan teman yang lain melihat apa yang akan terjadi dengan tubuh Nadifa itu, dengan cepat ia berlari dan menopang tubuh Nadifa yang sebentar lagi mendekat ke lantai..


Pranggg...!! Bunyi piring Nadifa terjatuh ke lantai dan mengagetkan semua orang, kini semua mata berbalik sedang tertuju kepada Fajar yang telah menopang tubuh Nadifa yang hampir terjatuh, Piring jatuh dan pecah dilantai dan semua makanan itu berserakan.


Begitupun tatapan Malik yang begitu kaget dan tajam dengan apa yang ia lihat kini dari kejauhan jarak 5M.


"Kamu enggak apa-apa ?" tanya Fajar menurunkan tubuh Nadifa ke lantai.


"Kaki ku mas ," Nadifa merintih sambil memegangi kakinya.


"Keseleo yah kayanya ," Dania ikut memegangi tubuh Nadifa.


Malik yang berada dikejauhan pun dengan cepat berjalan ingin menghampiri Nadifa namun langkahnya kurang cepat ketika Fajar memutuskan untuk menggendong tubuh Nadifa terlebih dahulu untuk dibawa ke ruangan P3K.


Langkah Malik pun terhenti hanya bisa membiarkan tubuh sang kekasih dibawa pergi oleh lelaki yang ia cemburui.


Malik pun tak kuasa menahan rasa kesalnya namun ia kembali mengontrol emosinya untuk diam mengembalikan mood nya.

__ADS_1


****


-----Ruang P3K--------


Sesampainya diruang P3K, Fajar menurunkan tubuh Nadifa di sofa agar bisa merebahkan diri, Dania yang ikut kesana pun turut menemani Nadifa.


"Bisa tolong ambilkan minyak urut itu mba, dikotak sana ," Fajar meminta Dania sambil menujuk kotak P3K yang bertengger di dinding.


" Ini , jar ," Dania memberikan minyak itu.


Fajar pun menaikan celana Nadifa sampai setengah betisnya, ia melihati area sekitar tumit Nadifa seperti biru memar samar. Diolesi minyak urut itu secara perlahan dibagian yang samar.


"Sabar ya , nanti juga ngilu nya hilang ," Fajar terus menguruti Nadifa dengan hati-hati


Kemudian sosok Malik pun tiba di ruangan P3K , Nadifa pun kembali teringat peristiwa yang baru saja terjadi, Saat ini ia hanya berdoa agar Malik bisa bersikap bijaksana.


" Apa kamu mahir dalam urusan mengurut ?" tanya Malik kepada Fajar, untuk saat ini ia harus menahan kekesalannya untuk menebus kesalahannya tidak bisa menjaga Nadifa.


"Insya allah Pak , saya sedikit bisa ,"

__ADS_1


"Baiklah, teruskan saja ," Malik menjawab dengan bersahabat kali ini.


Nadifa bernafas lega, memberikan senyum tipisnya kepada Malik. Malik tetap hanya fokus kepada kaki Nadifa yang sedang diurut itu.


"Kesempatan mu kali ini sangat luar biasa, Jar !" batin Malik harus merelakan kejadian ini terjadi.


" Apa mau diantar ke dokter saja ?" ucap Malik kepada Nadifa.


"Tidak perlu pak, setelah diurut Nadifa agak enakan sekarang ," jawabnya terus merasakan pijatan tangan fajar terhadap kaki nya.


"Ke dokter gak mau, kalau dipijit sama dia aja kamu mau ," Malik menggerutu kesal dalam hatinya.


Nadifa mengerti akan tatapan sinis itu, Malik tidak suka..ya..benar-benar tidak menyukainya.


Kemudian Pijitan itu pun selesai.


"Bagaimana rasanya ?" tanya Fajar menunggu reaksi dari Nadifa.


" Sudah mendingan mas, terima kasih banyak sudah menolong aku ," Nadifa memberi senyumannya yang manis.

__ADS_1


"Dasar centil....!" batin Malik, ia hanya diam pura-pura tidak mendengarkan percakapan itu.


__ADS_2