Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Tidak jadi marah


__ADS_3

"Bu,Pak. Saya ijin makan dimobil saja ya," pinta Pak Somad setelah pesanan makanannya sudah datang.


"Oh iya Pak, baiklah," jawab Nadifa dan iringi Anggukan kepala oleh Fajar.


Nadifa masih mengaduk-aduk soto daging yang ia pesan, untuk memecah kehengingan ia pun membuka suara,"Mas Fajar nanti mau bawa siapa saja ke acara Fam Gath?"


"Hanya bawa anak saja, istri sudah lama meninggal dunia," jawab Fajar sambil memasukan sendok kedalam mulutnya.


"Semangat ya, menjadi Single Fighter terbaik untuk sang anak," balas Nadifa.


"Insya allah, walau memang sangat sulit untuk diterima oleh Anakku, Kalau Nadifa bagaimana?"


Sambil mengunyah kerupuk dan menghabiskannya,"Hanya bawa Suami saja Mas,"


Fajar tanpa santai tidak kaget dengan jawaban Nadifa, sepertinya ia sudah tau status Nadifa sejak awal.


"Selalu berdoa jangan putus berdzikir, insya allah jika sudah saatnya maka Anak pun akan hadir," Fajar memberikan nasihat lagi.


Menambahkan dua sendok sambal kedalam mangkok dan mengaduknya,"Iya Mas, aamiin. Makasi banyak" Nadifa tersenyum manis.


Nadifa memang tipe istri yang diinginkan oleh Fajar, dari segi kemiripan wajah dengan Alm.Istri nya, tetapi ia tau bahwa Nadifa sudah menjadi milik orang lain hanya saja mungkin ia akan sesekali meminta kepada Allah, agar diberikan kesempatan mendapatkan istri seperti Alm.Istrinya lagi.


*****


brgggg..!! Nadifa meletakan tas nya dimeja kerja, dan kembali merebahkan tubuhnya dikursi kerja.


"Capek yah Dif, mau dibuatkan teh?" Dania menawarkan.


Nadifa masih merebahkan diri dan memejamkan matanya, sepertinya ia agak sedikit pusing ,"Boleh Mbak, tapi kalau tidak merepotkan mu"

__ADS_1


Dania mengangguk dan bangkit dari kursinya dan berlalu menuju pantry.


Malik pun muncul datang dari arah pintu luar ruangan dengan membawa beberapa map ditangannya, dilihatnya Sang Kekasih sudah kembali sedang memejamkan matanya.


"Baru Kembali?" Ucap Malik.


Suara tersebut membangunkan Nadifa lebih cepat dan dari arah belakang Malik terlihat Dania sudah datang menaruh secangkir teh manis hangat dimeja Nadifa.


"Minum dulu Dif," Dania mempersilahkan dan kembali duduk dikursinya


"Makasi ya Mba," Nadifa melihat Dania.


"Iya Pak, maaf jam segini baru kembali. Soalnya kita sudah 5x keluar masuk toko untuk menyeseuaikan dengan budget kantor."


Nadifa menjawab pertanyaan Malik.


"Wajah kamu pucat, sepertinya kamu kecapean Dif," Dania menimpali obrolan itu.


"Tadi saya kirim pesan ke kamu, untuk minta dikirimkan email laporan keuangan PT. SAIM," ucap Malik mengingatkan Nadifa agar membuka HP nya.


Nadifa pun terperangah karena baru ingat, ia sama sekali tidak teringat dengan HP nya sejak pagi, dengan cepat Nadifa mengambil HP nya dari dalam tas." Maaf Pak, Nadifa lupa enggak liat-liat HP sejak pagi"


"Aduuh..mati nihh. Masalah lagi!" batin Nadifa.


Tanpa menjawab, Malik kembali melanjutkan langkahnya kembali menuju ruangan kerjanya.


Nadifa cepat-cepat memeriksa WA nya, dan benar ada 10 pesan masuk dari Malik diselingi telepon WA 4x...


"Aduhhhh....kok bisa sih aku enggak inget sama ini HP !" gerutu Nadifa, ia takut Malik ngambek tidak mau faham.

__ADS_1


Nadifa :


***Maafkan aku ya, aku benar-benar tidak ingat sama sekali dengan HP***


Send...mereply pesan Malik yang sudah kadaluarsa semenjak pagi tidak dibalas olehnya.


Malik:


***Sudah biasa kan, mungkin karena bersama dia, kamu menjadi lupa..hahahaha****


"Tuuhh kan ngambek, Huh!" batin Nadifa.


Nadifa :


***Benar sayang, maafkan aku. Aku seperti mau pingsan selama di toko grosir itu, letih sekali****


Nadifa ingin Malik mengerti dan mencoba faham.


Malik :


***Baiklah, istirahat saja dulu***


Nadifa :


***Selamat ulang tahun hari ini untuk Letta ya, aku mencintainya***


Malik :


*** Katanya Letta, Ayahnya mencintaimu..hehehe**

__ADS_1


Nadifa tersenyum lega, karena Malik sudah kembali mau bercanda..mungkin betul ia tidak marah.


__ADS_2