
---DARMA GROUP----
Malik yang kini sudah kembali ke kantor tengah sibuk menyelesaikan beberapa berkas yang akan ia rapatkan bersama dengan beberapa manajer besok yang dihadiri oleh Presdir.
Ia tetap melihat-lihat beberapa laporan yang sudah dibuat Nadifa dan Dania, ia pun tersenyum karena merasa hanya menambahkan sedikit poin saja untuk melengkapinya.
"Kamu memang pintar ," puji Malik terhadap hasil buatan Nadifa.
Tok...tok... tok ...!!. Terdengar bunyi suara ketukan dipintu kaca ruangan Malik, ia lah Fajar yang sedang berdiri untuk masuk kedalam, Malik menganggukan kepalanya memberi kode agar Fajar segera masuk.
"Assalammualaikum pak Malik ," Fajar memberi salam dan duduk didekat meja Malik.
"Waalaikumsallam pak Fajar, ada yang bisa saya bantu pak ?" Malik dengan ramah sekali.
"Saya diminta bu Sarah untuk bertemu bapak menanyakan tentang harga terbaru penjualan produk kita dibulan ini," Fajar menyerahkan beberapa berkas yang berisi harga-harga penjualan yang lama.
__ADS_1
"Baik, sebentar ya ," Malik memainkan mouse nya dengan kembali menatap komputernya untuk mencari yang diinginkan oleh Fajar.
Fajar pun tetap sabar menunggu disana, sesekali matanya diarahkan ke meja yang kosong yang berada diluar ruangan kaca Malik, dimana meja tersebut adalah meja Nadifa. Seperti betul ia sedang mencari Nadifa, wajahnya terlihat muncul guratan senyum sendiri. Ia lumayan lama melihati meja kosong tersebut, Malik pun tidak sengaja mendapati pandangan tersebut dan berdehem pelan.
"Hemmmm...," Malik tanpa sengaja membangunkan tatapan Fajar.
"Nadifa tadi pulang ya pak , wajahnya pucat sekali tadi saya lihat waktu pak Malik dan Nadifa masuk kedalam mobil ,"
Malik terkejut dengan pertanyaan Fajar yang membuat hatinya menggelegar menghujam jantungnya, tetapi Malik pandai untuk mentupi itu semua dengan sikap yang sangat biasa.
"Apakah Nadifa sudah menikah pak ?"
"Sudah pak Fajar, ada apa memang ?" Malik merubah wajahnya dengan mimik serius seperti tidak suka jika wanitanya di usik.
"Oh, ya maaf pak, tidak ada maksud apa-apa ," Fajar jawab dengan terbelalak malu dengan rona memerah di wajahnya.
__ADS_1
"Baiklah ini berkas yang diminta bu Sarah, sudah diperbaharui semua oleh saya," Malik memberikan beberapa berkas yang sudah di print olehnya barusan.
"Baik Pak terimakasih ," Fajar pun pamit lalu berlalu meninggalkan ruangan Malik. Malik tetap melihati sosok Fajar yang sedang melangkah menuju keluar ruangan utama.
"Saya dan Nadifa harus lebih berhati-hati lagi ," batin Malik. Ia pun fokus kembali bekerja.
*****
"Assalammualaikum sayang," ucap Galih yang sudah tiba diruang tamu rumah mereka, memutuskan pulang cepat dari kantor karena Nadifa sakit. Dilihatnya Nadifa sedang tertidur pulas di sofa ruang TV, Galih berjalan menuju meja makan meletakan makanan luar yang sudah ia pesan ketika menuju pulang kerumah.
lalu Dihampiri dan diciumi istrinya itu, dibelai-belai rambut cokelat Nadifa yang terurai halus.
"Bangun sayang, pindah ke kamar yuk ," Galih membangunkan lembut Nadifa. Nadifa pun berkeliat membuka mata dengan pelan dan memberikan pelukan kepada Galih dan memejamkan matanya kembali.
"Baiklah kalau manja begini...!" Galih mengambil nafas dalam dalam lalu bersiap menggendong tubuh Nadifa dari sofa, dengan wajah sedikit tersenyum dalam pejaman matanya Nadifa tidak melakukan perlawanan ia terus menikmati apa yang dilakukan oleh Galih.
__ADS_1