
Keep Reading guys...mett baca🤗🤗
"Sikap Fajar kayanya aneh nih! kenapa dia enggak anterin aja dulu, Nadifa ke kosan. Jelas-jelas rumah kita berdua kan searah, kalau gini kan dia harus muter lagi! apa mungkin ini akal-akalannya dia biar bisa berduaan sama Nadifa dimobil!"
Dania mulai berfikir aneh, terus melihati Fajar yang sedang mengemudikan mobilnya dengan fokus. Sesekali Dania menangkap mata Fajar tengah menatapi Nadifa dari samping wajahnya."Sepertinya Fajar menyukai Difa!" batin Dania makin meledak.
Sitttt.......!!
Terdengar bunyi rem mobil Fajar yang tergesek dengan aspal jalan didepan rumah Dania. Mereka telah sampai."Kalian mau masuk dulu nggak?" Dania menawarkan.
"Lain kali ya Mba, Nadifanya kasian kayanya letih banget nih," Fajar memutuskan langsung sebelum Nadifa siap menjawab.
Nadifa pun akhirnya menyetujui ucapan itu,"Iya Mba, makasi ya udah repot-repot mau nengok Mba Gita,"
"Sama-sama sayang, Difa jangan lupa istirahat yaa," Lalu Dania turun dari bangku penumpang, memberi lambaian tangan ke arah mereka sebelum Fajar melajukan kembali mobilnya.
Beberapa lama kemudian...
"Difa makan dulu ya, itu ada nasi goreng gerobakan, langganan aku sama Naka. Lumayan enak rasanya," Fajar menghapuskan keheningan yang terjadi diantara mereka kini.
Mengingat Nadifa hanya makan telur rebus seusai donor darah, ia pun menyetujui ajakan itu. Mobil pun terhenti tepat disebrang tenda nasi goreng gerobakan pinggir jalan.
"Nasi gorengnya pedas nggak ?" Fajar melepas seat belt, bersiap turun.
__ADS_1
Nadifa mengangguk," Sedang aja Mas, telur nya didadar ya," Ujar Nadifa tersenyum sambil menyenderkan kepala ke sandaran kursi mobil.
Fajar mengangguk lalu turun dari mobil dan melangkah menuju penjual nasi goreng itu.
10 menit memesan nasi goreng ia pun kembali ke dalam mobil membawa dua botol air minum dan sekotak martabak telur. Ia melihati wajah Nadifa yang sudah memejamkan mata amat sangat letih dan lelah.
Fajar makin dirasuki cinta, ia terus menatapi wajah cantik itu lebih dekat. Belum pernah ia berada sedekat itu dengan Nadifa, entah apa yang ada didalam fikirannya. Ia terus mendekatkan wajahnya untuk mencium pipi Nadifa yang sedang terlelap.
Tok..Tok..
Bunyi ketukan di pintu mobil, seketika menghentikan keinginan Fajar untuk melakukan hal itu."Duh si abang!" gerutu Fajar lalu membuka kaca mobilnya dan meraih dua piring nasi goreng untuk mereka berdua nikmati."Makasi bang,"
"Dif!" Fajar memegang bahu Nadifa untuk membangunkannya. "Eh iya Mas, maafin aku ketiduran," Nadifa mengucek kedua matanya pelan, lalu mengembalikan posisi duduk menjadi tegap karna bersiap untuk menikmati makanan yang sudah tersedia dihadapannya.
Lalu "Mas, itu didagu kamu ada cabai,"
Yaelah bambang..enggak jadi kan..hahaha!
Nadifa kembali mengunyah dengan lahap, Fajar memang terlihat sangat kecewa, namun ia bisa menutupinya dengan baik.
"Maafkan atas sikap Mas Galih tadi ya Mas!" Nadifa membuka pembicaraan terlebih dahulu membahas tentang pertikaian beberapa jam lalu
"Mungkin hatinya sedang tidak enak karena memikirkan istrinya yang sedang sakit, sehingga jadi sensitiv!" ucap Nadifa lagi sambil memasukan sendok berisi nasi kembali kedalam mulutnya.
__ADS_1
Fajar tersenyum lebar, ia memperlihatkan sikap yang begitu lapang dada.
"Lalu bagaimana nasib istri yang ini? apakah difikirkan juga perasaannya?" Fajar terus melihati Nadifa dan berhenti dari kunyahannya. Seketika sendok yang sedang dimainkan oleh Nadifa terhenti. Ia hanya bisa diam menatap luar jalan.
"Fajar sayang sama Difa, mungkin kehadiran Difa bisa mengobati kerinduanku akan sesosok istri dan ibu untuk Naka, dan begitupun kehadiran Fajar bisa menjadi obat untuk mengobati luka hati Nadifa!"
Fajar pun akhirnya memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya. Ia merasa rumah tangga Nadifa dan Galih tidak akan bisa terselamatkan lagi.
Nadifa hanya diam, ia masih merasa tidak percaya dengan apa yang kini telah didengarnya.
Mendadak aura dingin malam seperti menyeruak masuk kedalam tulang-tulang mereka, bintang-bintang diangkasa semakin memperlihat kilauannya disekitar langit gelap. Mata Nadifa terus menatap ke atas langit, ia tetap membisu tidak bisa berucap.
Ia tidak menyangka kebaikan Fajar akan berubah menjadi cinta padanya.
Lamunan Nadifa seakan buyar ketika melihat Fajar mengenggam jari jemarinya. Fajar terus menatapi wajah Nadifa menunggu jawaban yang akan keluar dari mulutnya.
"Masih ada waktu untuk dijawab, Fajar mengerti kondisi Nadifa saat ini, dan akan menunggu sampai Difa siap!" Ucapan Fajar disambut baik dimata Nadifa.
*****
Selamat sahur harii pertama ya para kesayangan..lancar puasanya sampai waktu buka nanti🖤🖤🖤
Like dan Koment ya...jangan hapus cerita ini dari Fav kalian..hatur tenkyou💖😘
__ADS_1