Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Menangis bersamaan


__ADS_3

"Akhh..!" suara parau Nadifa kembali muncul setelah 10 menit ia pingsan tidak sadarkan diri.


Kedua tangan memegangi kepalanya yang masih terasa sakit dan pusing. Galih yang masih dalam kemudi, menoleh dan memegangi bahu Nadifa dengan tangan kirinya.


"Sayang..?" panggil Galih mencoba menguatkan tubuh sang istri. Ia pun mulai menepi kan mobilnya.


"Masih pusing Mah?" Galih merubah posisi duduk nya menjadi miring mantap ke arah Nadifa.


Nadifa mengangguk, memejamkan matanya kembali dan masih memegangi kepala. Lalu dengan cepat ia mendorong tangannya untuk menghalau wajah Galih agar tidak mendekat ke arahnya.


"Jangan dekat-dekat, jangan sentuh aku!"


Nadifa masih teringat perkara di Cafe tadi.


"Kamu salah faham Mah!"


Nadifa menoleh tajam, kedua matanya mulai berair.


"Sakit atuh tuh diginiin terus sama kamu..!"


Nadifa meletakan salah satu tangannya didada seraya memberi hentakan disana.


"Perih banget hati aku tau nggak!" ujar Nadifa sesegukan menangis.


"Kamu bilang cinta, sayang, nggak bisa hidup tanpa aku, cuman aku yang bisa jadi mama buat anak-anak kamu! itu cuman dongeng kamu aja buat nutupin kejahatan kamu sama aku kan?"


"Sayang nggak gitu!" ucap Galih dengan nada putus asa. "Kamu salah faham, tolong percaya dulu aku akan jelasin!" Galih menggenggam tangan istrinya dengan erat.


"Kamu mau bales aku?" ucap Nadifa dengan nada melengking didalam udara mobil.


"Buat apa sih kita tetep nerusin pernikahan ini, kalo kamu masih punya dendam sama aku Mas?"

__ADS_1


"Apa kurang pengabdian aku buat rawat Gifali? anak kamu sama Gita. Buah cinta kalian!"


Mendengar kalimat terakhir membuat wajah Galih merubah memerah menjadi tatapan sinis tidak suka. Ia benci kata-kata itu.


"Aku nggak suka kamu ngmong kaya gitu! kamu nggak ikhlas ngurusin dia? ya aku tau emang dia bukan anak kamu!"


Nadifa menoleh keras, ia semakin diperbudak oleh nafsu amarah saat ini.


"Aku ikhlas banget demi Allah. Gifali akan selalu jadi prioritas dihidup aku! kamu jangan sekali-kali buat aku marah soal ini!"


"Terus kenapa---?"


"Kenapa apa..!" Nadifa memotong cepat ucapan Galih. "Hubungan aku sama Malik itu nggak sejauh seperti kamu dan Gita! tapi aku masih bisa nerima kamu! bisa kuat dan ikhlas ngeliat kamu bisa nidurin dia dan menghasilkan anak! yang keterlaluan itu siapa sekarang? lalu sekarang kamu mau balas aku? apakah itu sebanding?"


Nadifa mengucap dengan mata mendidih menatap Galih. Barulah Galih mengerti bagaimana kesakitan hati istrinya selama ini. Ia selalu menuduh Nadifa tanpa bisa menilai dirinya sendiri.


"Aku mau pergi!"


Handle pintu mobil dibuka cepat oleh Nadifa. Ia berjalan dengan langkah kasar hanya menggunakan sendal jepit yang sudah tipis mungkin hampir melekat ke aspal.


Dengan secepat kilat, Galih pun turun mengejar sang istri yang tengah hamil memasuki usia 2 bulan. Menarik tangan Nadifa untuk membawanya kembali ke dalam mobil.


"Lepasin!" tangan itu ditepis oleh Nadifa ke udara.


"Jangan kaya gini dong, malu dilihatin orang-orang!"


Mereka huru hara dibahu jalan. Terus berjalan sekitar 5 meter, meninggalkan mobil yang masih menyalah di belakang sana.


"Ayo pulang, kita selesain dirumah. Kamu nggak kasian sama Gifali, dia sendirian dirumah!"


Langkah kaki Nadifa terhenti sekejap. Ia seperti terlupa dengan bayi itu. Mengingat Nadifa sudah meninggalkan nya selama 1 jam lebih di box bayi.

__ADS_1


"Ayo sayang, kita pulang dulu. Udara dingin, udah malem juga. Nggak bagus buat tubuh kamu!" Galih meraih lembut tangan sang istri. Nadifa hanya diam menunduk, Ia pun merangkul kembali membawa sang istri masuk kedalam mobil.


Didalam mobil Nadifa tidak berhenti untuk terus menangis. Kondisi nya saat ini ia tengah hamil, pasti hormon yang ada dalam tubuhnya menjadi salah satu faktor utama untuk membuat dia menjadi lebih sensitiv dan berubah-ubah.


Setengah jam kemudian mobil telah terpakir di garasi, dengan setengah berlari Nadifa menuju kamar untuk mendapati Gifali di box nya.


"Ya Allah, syukur lah," Nadifa menghela nafasnya ketika melihat bayi itu masih terlelap dalam tidurnya.


Ia pun duduk dilantai menyenderkan punggungya di dekat dipan tempat tidur. Memeluk kedua kaki sambil menundukan wajahnya ke atas dua dengkul kakinya. Ia pun menangis terisak-isak.


Sungguh malang melihati keadaan Nadifa malam ini, ia begitu frustasi dengan kelakuan Galih.


"Sayang, dengerin aku dulu. Kamu salah faham, aku nggak kaya gitu. Kamu jangan serta merta langsung dengerin omongan Fajar ! dia itu mau buat kita pisah!"


"Ya bagus dong? buat kita pisah, biar kamu bisa nikah lagi sama wanita lain! kayanya kamu tuh udah nggak cinta sama aku Mas! pantesan aja ya, beberapa hari kemarin kamu tuh selalu marah-marah, nuduh aku yang nggak jelas. Oh ini ya sandiwara kamu, biar aku bisa pergi dari sini!"


"Ngmong apa sih kamu, sakit aku dengernya! aku tuh cinta banget sama kamu! aku kaya gini, karna pengen ngelindungin kamu."


"Aku minta kamu ceraikan aku aja Mas, aku janji nggak akan halang-halangin kamu buat ketemu sama anak kamu nanti. Aku cuman pengen lihat kamu bahagia, mungkin kalau sama aku. Kamu akan selalu tersiksa! nggak percayaan sama aku, selalu curiga sama aku, insya allah aku masih sanggup biayain anak ini sendiri!" Nasifa mengelus perutnya yang mulai sedikit terlihat menonjol.


Galih mulai mengalirkan air mata ke pipinya. Entah bagaimana melewati malam ini sampai besok pagi. Kini mereka berdua sama-sama menangis malam ini.


Berbeda dengan Fajar di arah sana, mungkin saat ini ia tengah berpesta ria merayakan kemenangannya.


***


Kaya biasa


Like dan komennya ya guyss🖤🖤


Thankyou😘

__ADS_1


__ADS_2