
Nadifa sudah sampai dilobbi kantor. ia berjalan terus kekanan memasuki lift dan pergi menuji lantai 3 ruangannya. Terdengar suara sepatu melangkah cepat berada dibelakangnya.
"Tunggu dif," seru malik menyusul Nadifa.
nadif menoleh dengan cepat, ia hafal suara itu.
"Assalammualaikum pa ," Nadifa berseru. lalu mereka menaiki lift bersama.
"Sudah selesai semua laporannya ?" tanya Malik membuka pembicaraan.
"Sudah Pak, alhamdulillah," jawab Nadifa meyakinkan.
"Hari ini mau makan siang dimana Dif ?" tanya malik.
"Dikantor aja Pak, soalnya Nadifa bawa bekal untuk makan siang,"
"Oh, baiklah, oiya saya turun disini saja. mau langsung ke mushola..mau Duha,"
"Iyaa baik Pak, saya ke ruangan dulu aja menaruh tas dulu," Malik mengangguk dan seketika berjalan keluar lift menuju mushola.
__ADS_1
Nadifa tetap berada didalam lift menuju lantai 3 dimana ruangan kerjanya berada.
"Assalammualaikum mba nia,"kata Nadifa.
"Waalaikumsallam Dif," Dania menoleh ke arah Nadifa dengan wajah sembab dan memar disebelah mulutnya. Nadifa kaget dan melihat lebih dekat ke arah wajah Dania.
"Ya Allah Mba , wajah mba kenapa ?" tanya nya.
"Enggak apa-apa Dif, tadi aku terjatuh," jawab dania santai.
"Mau diobatin ya Mba,aku bawa salep,". Nadifa mengeluarkan dompet sedang yang berisi lengkap obat-obatan. mengoleskan salep anti lebam itu ke sudut bibir Dania.
"Auh, ngilu nya," ujar Dania mengeluh kesakitan. Nadifa terus mengobatinya. Datanglah Malik masuk kedalam ruangan, setelah habis Duha.
"Ini Pak Mba Dania terjatuh," Nadifa menjelaskan, sembari mengeluarkan obat anti sakit.
"Oiya Mba sudah sarapan belum ?" tanya Nadifa dan Dania menggelengkan kepala dan masih menahan sakit diarea wajahnya.
"Makan dulu saja bekal ku Mba, langsung minum obat ," Nadifa memberikan bekal sarapanya ke Dania. Malik masih berdiri melihati kebaikan Nadifa itu. Malik sudah hafal sekali apa yang terjadi dengan Dania, bukan rahasia umum lagi jika lebam diwajah dania itu muncul karna tamparan keras yang diberikan oleh suami dania, Hanya saja Nadifa belum tau tentang semua itu.
__ADS_1
"Enggak usah Dif, aku tidak lapar. ini juga sudah tidak sakit," jawab Dania.
"Makan saja dulu lalu minum obat, jika badanmu jadi tidak enak. istirahat saja dulu dirumah," Malik menambahkan. Nadifa tersenyum manis ke arah Malik.
"Engga apa-apa Pak, saya sudah cukup baik hari ini," dania tersenyum semangat.
"Ya sudah dimakan ya Mba, terus obatnya diminum,"Malik pun mebawa kembali langkahnya kedalam ruangan dan Nadifa kembali ke meja kerjanya.
"Baik sekali dia, bahkan untuk dirinya sendiri ia berikan pada orang lain," gumam Malik dalam hatinya sembari melihati Nadifa yang sedang menatap layar komputernya.
Dania akhirnya mengikuti anjuran Nadifa, memakan bekal tersebut dan minum obat. ia menoleh ke arah Nadifa dengan rasa terharu.
"Alhamdulillah, allah kirimkan teman sebaik dirinya," Dania berbicara pada hatinya.
"Pantas, perlakuan Pak Malik sangat istimewa. Ya dia pantas mendapatkannya," ucapnya lagi dan terus menghabiskan makananannya.
Nadifa terus berkonsen menyelesaikan beberapa laporan, tidak mengehtahui bagaimana dalam hati Malik dan Dania yang sedang memuji-muji dirinya.
xxxx
__ADS_1
"Den, tolong berkas ini berikan kepada Gita ya, minta direvisi. tambahkan surat tugas keluarnya," Dendi mengambil berkas tersebut dan menyengitkan dahinya. bertanya tanya pada hatinya, kenapa Galih harus menyuruhnya mengantarkannya ke Gita, biasanya Galih langsung turun sendiri.
Kini Galih sudah memutuskan untuk menjauhi Gita sampai keadaan benar benar stabil kembali. persahabatan yang masih terjalin sebaiknya tidak usah ada lagi fikirnya, karena dengan terus bersama. semua perasaan Gita tidak akan pernah bisa hilang.