Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Kita berjuang sama-sama


__ADS_3

Hayy aku balik lagi


Keep read ya❤️😘


***


Sesampainya dikamar, Nadifa menghempaskan tubuhnya begitu saja di atas tempat tidur. Ia menatap lampu kamar penuh kesenduan. Ia takut jika yang diduga-duga benar-benar akan terjadi. Nadifa masih terus mengelus-eluskan perut buncitnya. Lalu air mata nya kembali menggenang, jatuh tidak tertahan.


"Ya Allah, berikanlah aku kelancaran. Hanya kepadamu lah, aku meminta."


Pintu kamar sudah dibuka, terlihat Galih masuk dengan langkah grasak-grusuk, membuat sang istri sedikit mendongakkan wajahnya.


"Kamu kenapa, sayang? kok nangis?" tanya Galih duduk ditepi ranjang, mungkin inilah pertanyaan awal untuk membuka pertanyaan yang akan ia tanyakan sesungguhnya, siapakah yang mengantar tadi?


Nadifa pun bergerak bangkit, memindahkan kepalanya untuk diletakan kembali di kedua paha sang suami. Galih mengelus-elus rambut sang istri dan menciumnya.


Namun karena melihat sikap Nadifa seperti ini, ia mengurungkan niatnya untuk bertanya. Tentu saja kecemburuan Galih menjadi faktor pendorong utamanya.


"Maafkan aku ya, aku melupakan janji untuk menemani kamu senam hamil hari ini. Aku lupa kalau ada rapat dadakan sayang."


"Nggak apa-apa, Mas."


Nadifa terus membasahi celana Galih dengan air matanya.


"Kamu mau apa? nanti akan aku belikan sayangku." Galih hanya bisa merayu seperti ini. Karena baginya Nadifa akan luluh dari marah sesaatnya dengan makanan atau barang.


"Aku nggak ingin apa-apa, Mas. Sekarang aku hanya ingin kamu disini, temani aku!"

__ADS_1


Wajah Galih terlihat bingung, ia tidak akan memaksakan kehendaknya untuk terus bertanya sampai istrinya mau berbicara ada apa dengan dirinya. Karena ia sudah terlanjur kuat menghadapi proses kehamilan Nadifa sampai saat ini.


"Kamu sudah makan sayang?" tanya nya kembali sembari mengelus-elus perut sang istri. Nadifa hanya menggelengkan kepala.


"Apa mau makan diluar?" Galih kembali memberikan tawarannya. "Enggak, Mas."


"Nanti anak kita lapar sayang, kasian dia." Galih terus memaksa.


Seketika tangannya yang masih mengelus-elus perut, langsung digenggam oleh Nadifa dengan cepat. Hal itu membuat Galih berhenti sebentar.


"Mas?"


"Iya sayang?"


"Kalau seandainya, antara aku sama anak kita. Kamu pilih yang mana Mas?"


"Pertanyaan apa itu?" Galih mulai bertanduk.


"Nggak ada yang bisa dipilih. Kalian berdua itu bukan pilihan. Sama-sama penting buat aku." Galih berdengus sedikit kesal. Ia faham sekarang, istrinya tengah khawatir dan gelisah.


"Tapi, Mas. Aku takut banget."


Galih mulai memajukan dirinya untuk lebih mendekati dan membawa sang istri kedalam pelukannya.


"Kasian anak kita, Mah. Walau dia belum lahir, tapi dia tau kamu sedang cemas, ia pun akan ikut merasakan hal yang sama. Sejujurnya aku juga resah, tapi aku yakin. Allah tidak akan menguji diluar kemampuan kita."


Nadifa masih memeluk dada sang suami. "Aku stress banget Mas, setiap hari dikepalaku hanya terus menerka-nerka saja. Selalu diringi rasa takut dan gelisah. Kejadian Mba Gita selalu terbayang-bayang."

__ADS_1


"Aku faham perasaan kamu, aku juga merasakannya. Jika kerjaan sudah beres dikantor, aku kembali teringat kamu. Tapi kita hanya bisa berdoa, kembalikan lagi semua kepada Allah." Galih terus mendekap tubuh Nadifa dengan hangat.


"Jika sedang menyetir, sedang diam dimeja kerja, atau jika tengah sendiri. Aku selalu ingat kamu dan anak kita. Jadi kamu jangan merasa sendirian, ada aku. Kita berjuang sama-sama!"


Nadifa terus memeluk, menaruh wajah diceruk sang suami. Entah mengapa hatinya mulai lega. Ia merasa mendapatkan kekuatan lagi yang lebih mujarab.


Nadifa seketika mulai nakal. Tangannya mulai memainkan kancing-kancing kemeja Galih yang masih terpakai ditubuhnya. Ia mendaratkan beberapa kecupan di ceruk leher Galih disertai gigitan-gigitan kecil.


Sontak hal itu membuat Galih terdiam sekejap dari gelak bicaranya. Ia mulai memejamkan mata untuk merasakan belaian dari sang istri.


"Ayo kecupi saja sampai merah, sepuas kamu." titah Galih diiringi rintihan desahnya.


Dirasa perasaan sang istri sudah membaik, ia pun mulai menanyakan pertanyaan yang sampai sekarang masih bertanta di benak nya penuh keingintahuan.


"Sebentar sayang."


"Kenapa Mas?" Nadifa mendongakkan wajahnya untuk menatap sang suami.


"Kamu tadi pulang, di antar sama siapa?"


Dengan wajah polos sang istri menjawab.


"Oh itu, iya Mas. Aku diantar pulang sama Pak Malik!"


Nadifa terus memberikan senyum yang indah. Entah bagaimana respon sang suami.


Kita tunggu saja.

__ADS_1


***


❤️❤️❤️


__ADS_2