
Waktu terus berputar mengiringi aktivitas manusia. Pagi yang sejuk memutar menjadi Siang yang terik dan berakhir menjadi Malam yang paling dingin, Perputaran yang begitu cepat terjadi untuk dirasakan, tetapi lain hal oleh Malik dan Nadifa, yang diliputi rasa cemas dan rasa rindu merasa bahwa dua Hari ini amatlah berat, tidak berkomunikasi dan tidak bertemu.
"Sudah hari minggu, sudah dua hari Nadifa tidak memberi ku kabar," Malik dalam hati nya sembari duduk diteras rumah menikmati malam-malam yang berat dalam dua hari ini.
"Ada apa dengan dia ya ? WA tidak pernah terlihat Online, pesan pun tidak di baca-baca dari jumat malam, apa dia sengaja menjauhkan dirinya dari ku," Malik masih menerka-nerka dengan seribu pemikiran di kepalanya.
Nyatanya Nadifa hanya bisa terpaku dirumah tidak bisa apa-apa ia terus mencari cara agar chargernya berfungsi kembali, tetapi sayang semua caranya nihil. Ia tidak mau menimbulkan perdebatan dengan Galih, keluar dari rumah hanya untuk membeli charge dalam kondisi masih dalam keadaan lemah.
Malik terus diam terpaku duduk di teras rumah melamun dalam dinginnya malam serta sesekali berdoa ingin cepat besok pagi.
bertemu Nadifa dan menanyakan beribu-ribu pertanyaan yang ingin ia tanyakan.
---**DARMA GROUP----
__ADS_1
Senin**..
Nadifa sudah masuk seperti biasa ke kantor, Hari ini ia masih terlihat pucat dan layu. Hatinya pun makin terasa was-was bagaimana reaksi Malik melihat dirinya, Takut jika Malik marah padanya.
Kondisi hati Malik memang sedang tidak begitu baik, selama sedang jatuh cinta ia merasa sangat sensitiv, suka menerka yang tidak-tidak dan cemburuan. Semua perasaan itu hanya ia ciptakan hanya untuk Nadifa, sang kekasih hati.
Malik tetap bekerja dengan baik, cerdas dan bijaksana.
Dania menoleh ke arah Nadifa dan terkejut.
" Ya allah Nadif, itu dahi kamu kenapa pakai perban gitu," Dania mendekatkan wajahnya ke arah wajah Nadifa menegaskan perban luka yang menempel di dahi nya.
"Ini mba, ada kecelakaan kecil. aku terjatuh," Nadifa menjawab dengan santai tapi penuh makna.
__ADS_1
Tidak lama kemudian datang Malik dari luar ruangan pintu, Ia senang melihat Nadifa dan sekaligus terkejut akan kondisi Nadifa saat ini. Nadifa pun langsung memberikan ekspresi mata hangat penuh rindu.
"Dahi Kamu kenapa say...." Malik terhenti dari pertanyaanya dia hampir kelepasan berbicara sayang yang akan membuat Dania curiga. Dania pun langsung memberi ekspresi kaget kepada Malik. Malik pun menghela nafas dan kembali profesional bertanya dengan gaya atasan kepada bawahan.
"Dahi kamu kenapa Nadif ?" Malik mengulanginya kembali.
"Kecelakaan kecil pak, kemarin. Tapi ini sudah tidak apa-apa, sudah dijahit," Nadifa menjelaskan dengan baik. Sungguh akting mereka sangat memukau mengelabuhi Dania dan orang-orang disana.
Terlihat gurat wajah Malik yang memendam banyak pertanyaan-pertanyaan yang ingin segera ia tanyakan kepada Nadifa. Nadifa pun faham, Ia pun akan menjelaskannya nanti mengingat saat ini masih pagi dan ia harus kembali menyelesaikan pekerjaanya.
"Baiklah, cepat pulih kembali ya," Malik menjawab sebatas wajar dan kembali melangkahkan kakinya ke ruangan kerjanya.
Ia terus melihati Nadifa yang berjarak 2m dari hadapannya.
__ADS_1