
Galih pun termenung sebentar memikirkan istrinya itu. Ia masih tidak habis fikir dengan kejadian yang menimpa istrinya tempo hari lalu. Ia pun bermaksud untuk melihat CCTV yang dipasang disetiap sudut ruangan, bagaimana kronologis yang terjadi pada malam itu dengan Nadifa.
"Assalammualaikum lih," Gita mengagetkan Galih dari lamunannya. Gita berdandan cantik sekali hari ini, ia merasa hari ini dimulai untuk mendapatkan Galih. Ia membawakan Galih pudding strawberry kesukaan Galih.
"Waalaikumsallam Git, silahkan duduk ,"
"Makan lah, aku bawakan kamu puding," Gita meletakannya dimeja.
"Bagaimana keadaan Nadifa,apakah sudah membaik ?" Tanya Gita penuh perhatian
"Aku fikir hari ini ia sudah baik, maka aku izinkan untuk pergi masuk kantor lagi, tetapi aku salah ia masih sakit Git, barusan menelpon ku memberitahu kalau sudah sampai dirumah,"
"Baguslah hahahah ," dalam hati Gita penuh kemenangan.
__ADS_1
"Berikan Vitamin lih, istirahat yang cukup dan makan yang banyak, Nadifa pasti pulih dengan cepat ," Gita meyakinkan Galih.
"Aku masih merasa janggal dengan kejadian malam itu, seperti ada unsur kesengajaan..tapi ini memang masih kecurigaan ku,"
Mendengar hal itu, sontak membuat Gita mendadak resah dan takut. Takut jika dirinya diketahui karena menjadi dalang dari semua ini.
"Aku fikir sih ini hanya kecelakaan biasa lih, Nadifa terlalu tidak hati-hati menginjak lantai yang basah karena cairan yang berceceran dilantai," Gita meyakinkan Galih untuk mengubur kecurigaannya.
dengan amat bodohnya Galih menafsirkan segala kecurigaan itu di Benak Gita. Gita yang licin seperti ular akan lebih jitu mencari Akal untuk mengelabui Galih kembali.
"Aku ingin melihat rekaman CCTV itu," Galih meyakinkan dirinya. Gita yang pintar dalam menguasai Hatinya tidak terlihat Ketakutan sama sekali dihadapan Galih, padahal dibalik itu Gita sangatlah takut dan merasakan dadanya berdegup dengan sangat kencang.
"Biar aku saja yang menyelidiki ini, Aku yang akan melihat rekaman CCTV ini, kamu pulang cepat saja lih, kasian Nadifa takut kenapa-napa sendirian dirumah." Gita memberi ide cemerlang untuk Galih.
__ADS_1
"Makasih Gita, kamu adalah sahabat terbaik yang aku punya selama ini, terima kasih sudah mulai menerima Nadifa dihidup kita," Galih memuji wanita berhati jahat ini.
"Cih !! sampai kapanpun aku tidak akan sudi menerima sosok istrimu itu didalam hidup kita, dia adalah sosok yang harus cepat aku musnahkan dari hidupmu," Balas Gita dalam Hatinya.
Galih pun bersiap memberes-bereskan beberapa kertas-kertas yang ada dimeja, mematikan komputer nya untuk bersiap pulang kerumah.
Gita pun mengantar Galih sampai ke pintu ruangan untuk turun menggunakan Lift.
"Aku duluan ya , kamu hati-hati dikantor," Galih kembali memberikan perhatianya kepada Nadifa ia pun turun sambil membawa bingkisan puding yang ia dapat dari Gita.
"Kamu yang lebih penting, hati-hati dijalan ya," Gita membalas dengan senyuman cintanya.
Kini ia terus dirundung dengan perasaan takut, cemas dan gelisah harus memutar otak untuk mencari cara agar dirinya tidak terlibat dalam kejadian yang mengakibatkan Nadifa mengalami kecelakaan kecil tersebut.
__ADS_1