Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Lelucon menjadi nyata


__ADS_3

"Jangan hubungi aku besok, aku akan ikut acara Gathering dikantor istriku," Ucap Galih sambil mengancingi kemejanya kembali


Gita menatap kesal setiap mendengar kalimat istriku..Cih !!


"Tetapi minggunya kan kita ada pemberesan berkas dikantor ?" balas Gita yang masih berada dibawah selimut menutupi tubuhnya tanpa sehelai pun.


"Hari minggu aku tetap ke kantor, ingat jaga sikap mu nanti, hanya Dendi yang tau masalah ini," Galih sudah selesai memakai kemejanya dan kembali rapih seperti semula.


Entah setan dari mana yang kini hinggap di tubuh Gita ia sanggup memainkan sandiwara ini dengan begitu maximal.


Galih terdiam sedang menyesali segala perbuatannya ini, tapi Nasi sudah menjadi bubur tidak akan bisa tanak pulen kembali.


"Aku pulang dulu, jaga anakmu itu!" Galih melangkah keluar dari kamar.


"Tentu saja..ini juga anakmu!" Gita tertawa lepas ia sedang membayang-bayangkan keributan yang bagaimana akan terjadi setelah Nadifa mengetahui hal ini.


Entah mengapa Galih sudah mulai tenang, karena pernikahan ini sudah berlangsung, ia yakin jika kemauan Gita sudah dituruti maka ia tidak akan berani mengusik Nadifa atau memberitahukannya mengenai hubungan mereka.


"Aku rindu istriku," batin Galih. Ia mulai menjalankan mobilnya menuju ke kantor Nadifa untuk menjemputnya pulang, karena baterai HP nya habis, terpaksa ia langsung datang menjemput tanpa mengabarinya terlebih dahulu.


Ditengah perjalanan, ia berhenti masuk kedalam toko bunga untuk membelikan bunga mawar merah untuk Nadifa.


Ia mendadak sangat romantis, sepertinya ia ingin membayar semua penyesalannya itu.

__ADS_1


"Aku rindu kamu sayang," ucap Malik kepada Nadifa yang sedang membereskan beberapa dokumen dimejanya karena bersiap mau pulang, karena diruangan ini hanya mereka yang belum pulang.


"Hemmm," balas Nadifa malas


"Yessss!!" Malik bersorak.


"Apa sih enggak jelas," Nadifa mengumpat.


Kemudian bangkit dan langkahnya pun dihalang oleh Malik.


"Tidak rindu memang ?" Malik menujukan wajah yang begitu dirindukan oleh Nadifa.


Nadifa pun mulai mengangkat tangannya untuk mengelus pipi Malik.


"Sayanggg!" terdengar suara panggilan yang menyelinap masuk diantara mereka, Nadifa dan Malik menoleh dengan cepat mendengar sumber suara tersebut.


krekkk !!! handle pintu terbuka, Galih sudah berada didepan pintu melihati Nadifa dan Malik yang tengah berdiri berdua.


Mereka semua kaget terperangah, seketika buku yang ada ditangan Malik terjatuh ke bawah lantai.


"Makanya Pak hati-hati yaa jalannya, jadi kesandung gini kan," Nadifa bersandiwara sambil membantu Malik yang sedang berjongkok membereskan buku yang berserakan.


Galih terus masuk dan menghampiri mereka

__ADS_1


Nadifa pura-pura terkejut," Loh Mas, kenapa tidak mengabariku dulu kalau mau jemput"


Malik tetap berusaha bersikap santai tidak mau terlihat gugup karna akan dicurigai.


Galih terus memandangi wajah Malik dengan tatapan mata serius tetapi tidak kejam.


"Baiklah, saya duluan," ucap Malik pamit meninggalkan mereka.


"HP ku mati, lalu aku tanya sama receptionis dimana ruangan kamu, maka aku bisa kesini,"


"Mengapa kalian bisa berduaan tadi?"


"Kita hanya berbarengan mau keluar ruangan karena Pak Malik tersandung buku-bukunya berserakan semua, ya aku hanya ikut bantu membereskannya" Nadifa menjelaskan


"Hemmm." Galih sepertinya percaya


"Wah apa ini, buat ku ?" Nadifa mengambil bunga mawar yang sudah tertata rapih dalam boquet.


"Bukan buat kamu, tapi buat istriku ," Galih tersenyum merayu.


"Ya berarti aku dong, memang siapa lagi istrimu? Mba Gita ?" Nadifa tertawa meledek.


Galih seketika langsung diam tanpa kata-kata, bagaiamana mungkin leluconan itu bisa menjadi kenyataan saat ini.

__ADS_1


"Mas, kok melamun? ayo kita pulang," Nadifa mulai menarik tangan suaminya.


Nadifa juga masih memikirkan Malik, yaa wanita ini sangat merindunya.


__ADS_2