Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Rintihan 2


__ADS_3

Gimana nih guys....masih semangat baca yaaa🖤🖤


"**Harusnya aku senang, Galih menikah tanpa melakukan perzinahan lama-lama, mungkin Gita adalah wanita terbaik yang dipilih Semesta, setelah aku untuknya!"


"Berarti selama pernikahan ini aku yang salah, aku yang tidak subur!"


"Aku tau Galih mencintaiku, tapi dia juga butuh seorang anak untuk masa depannya!"


"Bodohnya aku, terlalu tidak peka selama ini!"


"Untuk menyuruhnya menikah lagi saja!"


"Malah terus membelenggunya dalam ikatan pernikahan kami!"


"Aku yang tidak bisa hamil dan aku menghianatinya !"


"Aku akan mencoba menemaninya untuk menjadi Ayah dan suami yang baik untuk Gita!"


"Setelah semua dirasa berjalan baik, aku akan pergi dari kehidupan mereka!"


"Melepas Galih untuk fokus kedalam keluarga kecil mereka, nanti**!"


Rentetan curahan hati Nadifa yang terus bergemuruh dalam peluh asa nya, menenangkan jiwanya perlahan.


Memaafkan dan menerima Galih untuk memperbaiki kesalahannya selama ini.


"Dan..untuk nya !"


"Untuk kamu, yang masih berada tepat dihati ini!"


"Malik!"


Nadifa menahan nafasnya lebih lama


"Aku benci kata perpisahan!"

__ADS_1


"Tapi aku harus menyelamatkan keluarga kecil mu, sebelum pembalasan datang menerpa kita lagi!"


"Cukup aku yang sakit!"


"Kamu jangan!"


"Aku tidak ingin kita terus masuk dalam jeratan dosa!"


"Hati kita memang saling terpaut, tetapi status tidak bisa diraih!"


"Biarlah perasaan ini tersimpan saja dengan baik, jadikan kenangan Abadi yang hanya tersimpan dalam memori jiwa dan raga!"


"Kita masih bisa tetap berdampingan!"


"Walau jarak akan jauh sedikit!"


"Tetap saling menatap walau akan ada batas penghalang!"


"Aku ingin kamu bahagia dunia akhirat!"


"Aku sungguh mencintai, Kamu!"


Ia tidak akan menyangka jika keadannya akan separah ini, teramat sangat menyakitkan.


*****


Galih masih terdiam di sofa ruang TV, dirinya saat ini sangat berantakan, rambut nya acak-acakan karena dijenggutinya beberapa kali.


Matanya terus menyisir setiap sudut rumah ini, sesekali membayangi dirinya tengah bercanda, tengah memeluk dan tengah berkecup mesra dengan istri yang kini telah pergi meninggalkannya.


"Kamu tetaplah pertama dan terakhir bagiku, aku tidak akan biarkan kamu lepas pergi begitu saja!"


Ia meraih gagang telepon rumah yang tidak jauh dari tubuhnya.


"Hallo Den, maaf aku tidak bisa masuk hari ini, tolong handel Stock Opname kali ini,"

__ADS_1


"Dan satu lagi Den, aku ingin meminta tolong untuk mencari nomor telepon PT. Darma Group, HP ku rusak,"


Galih seperti mendengar suara jeda dari Dendi yang sedang berfikir


"Den?"


"Oke, Baiklah. Tunggu 5 menit , aku akan menelpon mu lagi," balas Dendi dengan suara mantap.


Klek...Gagang telepon rumah diletakan kembali ke tempatnya.


Galih bangkit dan masih menggenggam secarik kertas yang ditulis Nadifa sebelum pergi meninggalkan rumah.


Ia berjalan menuju dapur, membuka kulkas dan mengambil susu sesuai arahan Nadifa.


Ia melihati isi dapur ini, kegiatan yang biasanya ada sudah terhenti mulai hari ini.


Kringgggggg....Kringgggg...


Bunyi nyaring suara telepon rumah berdering.


Galih pun berlari untuk menjawabnya.


"Hallo, iya Den bagaimana?"


"Sebentar," Galih mulai mencatat nomor telepon yang ia ingini.


"Oke, makasi Den,"


Ia mulai memencet nomor yang sudah ia tulis tadi.


Tuttttt....tuttt.....suara tersambung


"Selamat pagi permisi, Maaf saya ingin minta disambungkan ke ruangan Ibu Nadifa Putri, apakah bisa?"


"Oke Baik,"

__ADS_1


Galih tetap menunggu sambungan telepon itu, ia berharap Nadifa ada disana.


Ingin secepatnya meraih kembali tubuh istrinya agar dipeluk tidak mau lepas.


__ADS_2