
Assalammualaikum readers kesayangan lancar yaa ibadah puasanya..keep reading๐๐ค๐๐ค
***
Nadifa tetap berada dalam dekapan Galih yang begitu kuat dan erat. Begitu kuatnya sampai Nadifa tidak bisa bergerak dari cengkraman itu. Galih belum dapat bersua untuk menjelaskan mengapa akan dirinya.
"Mas?" Nadifa mengelus punggung suaminya dengan lembut," Mba Gita sama si dedek bayi gimana keadannya Mas?" Nadifa kembali mengulangi pertanyaan yang sama. Ia semakin sesak dan gelisah. Galih tetap belum mampu untuk berbicara.
Tak lama kemudian dari pintu Kamar Operasi keluarlah seorang perawat yang sedang mendorong sebuah ranjang pasien dengan posisi pasien yang tertutup oleh kain putih menyeluruh.
"Maaf Pak, jenazahnya sudah siap untuk dibawa pulang," Ucap salah satu dari mereka yang tengah berdiri melihati punggung belakang Galih yang masih mendekap tubuh Nadifa.
Nadifa tercengang, matanya melotot tajam lalu memerah, seperti ada tamparan kilat mengaung diangkasa, terasa seperti air es dingin telah jatuh dari ubun-ubun sampai ke telapak kaki, jantungnya berdebar tidak karuan, ritme itu terasa juga sampai ke jantung Galih, ia tetap mendekap Nadifa lalu mengeluarkan air mata nya.
Tak berapa lama, hantaman halilintar itu membuat mata Nadifa terasa berat dan gelap. Kedua kakinya seperti layu tidak kuat menopang tubuhnya lalu Ia terjatuh tak sadarkan diri menyandar di bahu kepemilikan Galih.
Mereka bertiga terlihat begitu sangat menyakitkan dengan keadaan seperti ini.
****
__ADS_1
Dua jam kemudian.
"Dif?" panggil Dania pelan-pelan. Nadifa masih diam diatas tempat tidur miliknya, terus menangis sambil melihati sudut kamar.
"Kita turun yuk, Jenazah sudah selesai dikafani." Ucap Dania sambil memegangi tangan Nadifa yang lemah tidak berdaya.
Nadifa berkali- kali pingsan, terkahir ia pingsan ketika sedang membantu memandikan jenazah itu. Lalu tubuhnya dibawa oleh Galih untuk dibiarkan istirahat di kamar.
Nadifa pun mengangguk dan memberikan tangannya untuk dipapah oleh Dania. Ia pun berjalan pelan menuruni tangga, dilihatnya tamu sudah mulai berdatangan, mengambil posisi masing-masing untuk membacakan doa.
Rumah yang baru ia pijaki dengan bahagia langsung berubah menjadi suasana amat mencekam akan duka panjang yang akan menyelimuti hatinya.
Galih masih terdiam di samping jenazah, ia terus melihati tubuh yang kaku dan dingin yang sudah dibalut dengan kain kafan putih bersih menutupi.
Nadifa amat polos dengan wajah tidak berdandan sama sekali, ia tetap menjadi sorotan setiap mata memandang, akan kecantikan yang terpampar dari wajahnya. Ia terus berjalan, menggapai tubuh suaminya yang masih terdiam karna perpisahan hari ini.
"Mas?!" Nadifa mendekat, memegang bahu Galih. Galih pun menoleh, lalu merangkul Nadifa untuk duduk disampingnya. Nadifa kembali menangis, isak tangisnya kembali menggema. Tangan Galih menggenggam erat tubuh Nadifa seperti memberikan kekuatan untuk tetap bertahan.
Dari deretan tamu yang hadir, sudah ada Malik, Kinanti, Dendi, Dania, dan Fajar serta teman-teman kerja, atasan dan bawahn Galih dikantor.
__ADS_1
Galih dan Nadifa tidak akan menyangka dihari lahir bayi lelaki yang gagah, sehat dan lucu menjadi hari kepergian sang bunda menuju Alam Semesta.
Malik terus melihati wajah Nadifa yang tenggelam akan air mata, begitu kuat rasa cinta yang hadir antara Galih dan mantan kekasih hatinya itu. Kinanti seperti ingin bergerak bangkit menghampiri Nadifa untuk memeluk, namun langkah itu seketika dihentikan oleh Malik dan menoleh menatap wajah istrinya itu dengan gelengan kepala.
Tak lain dengan Fajar yang masih menyoroti tangan Galih yang begitu kuat merangkul tubuh Nadifa tanpa celah. Semakin rapat, semakin dalam.
Malik dan Fajar terus melihati isi rumah ini yang begitu sejuk dan damai, terlihat deretan foto-foto kebersamaan Nadifa dan Galih yang begitu bahagia, dari jaman masa SMA, Kuliah dan Menikah. Semua itu terpampang nyata menghiasi mata mereka.
"Maaf Pak, ini nama lengkap istrinya siapa ya? mau disiapkan nisan sementara dulu." Ucap salah satu lelaki dari yayasan pengurus jenazah.
"Sagita Aryani," Galih menjawab lugas.
Galih dan Nadifa hening kembali terus meratapi kepergian Gita.
"Terima kasih Gita, engkau telah memberikanku suatu anugerah yang tiada tara indahnya, Maafkan aku telah menjadi suami yang gagal untukmu, ku berjanji akan menjaga anak kita sebaik mungkin, ia akan selalu mengenang mu dihatinya"
"Selamat jalan duhai istriku..sahabatku.."
Rintihan Galih pada saat menciumi kening dan kedua pipi jenazah almarhumah Gita, untuk terkahir kali sebelum dimasukan kedalam keranda untuk di Shalat kan.
__ADS_1
Kini Tuhan telah memanggil jiwanya untuk kembali ke kehidupan yang lebih Nyata, karna bumi hanyalah tempat sementara. Ia akan Mempertanggung jawabkan atas segala perbuatan dan amal yang telah dikerjakan selama didunia. Ia pun telah mempunyai pahala besar karna sudah melahirkan seorang anak dan menukarnya dengan Nyawa. Sang pencipta lebih mencintai Sagita Aryani dari pada manusia yang berada disekelilingnya saat ini.
Like dan komen ya guyss๐ค๐ค๐