
Kring...Kring...dering HP Malik berbunyi, ia pun memasang headset portable untuk menjawab telepon karna saat ini sedang menyetir untuk berangkat kerja.
Malik : ***Assalammualaikum ya hallo***
Nadifa: ***Waalaikumsallam, kamu sudah dimana?bisa jemput aku?***
Malik : ***Bisa, kamu tunggu saja disebrang depan rumahmu***
Nadifa :***Baiklah hati-hati ya***
Malik :*** Iya sayang****
Sesuai perintah, Nadifa pun menunggu disebrang depan rumahnya menunggu mobil Malik berhenti untuk membawanya bersama menuju kantor.
Malik pun sampai, tanpa menunggu lama Nadifa langsung membuka pintu dan duduk disamping kursi kemudi.
Dijalankan kembali mobil itu.
Nadifa langsung menangis dan memeluk Malik, Malik yang merasa heran akan sikap kekasihnya yang sangat berbeda hari ini.
__ADS_1
Jangan bilang hari ini kita akan putus ya !
Mungkin kalimat seperti itu yang ada dibayangan kepala Malik saat ini.
Memperlambat lajuan mobil dan mengusap-usap lengan Nadifa yang masih bertengger didada Malik memeluk erat sambil membasahi kemeja nya dengan air mata Nadifa yang semakin jelas menetes.
"Kenapa sayang?" tanya Malik sangat lembut mencoba tegar untuk mau mendengar apapun yang terjadi.
"Aku rindu sama kamu!" balas Nadifa, masih menangis.
"Aku pun sama sayang," Malik bernafas lega merasa Nadifa hanya memang sedih karena rindu bukan karena hubungan mereka yang ingin kandas.
Jelas saja Malik tidak kembali lega, dadanya kembali sesak dan ia mulai tidak fokus mengemudi, kemudian ia mulai membelokan mobilnya ke arah berlawanan menuju kantor lebih tepatnya kini ia ingin membawa Nadifa ke tempat yang lebih tenang dulu.
Mobil Malik kini menepi di sebuah jalan sepi yang hanya diringi pohon-pohon besar setiap sisi kanan dan kiri jalan.
Ia ingin menenangkan hati Nadifa yang sedang kacau dan masih menangis.
"Ada Apa sayang?" tanya Malik kembali memberanikan diri mendengar semua yang ia terka-terka disepanjang jalan.
__ADS_1
"Ruangku dibelenggu oleh Galih, gerak-geriku diawasi olehnya, makan siang harus bersama pulang kerja pun harus dijemput, bermain lama-lama dengan HP pun sekarang tidak bisa, disela-sela WA ku selalu online dia akan mengirim pesan sedang chat dengan siapa, aku takut kita sudah diketahuinya,"
Nadifa menjelaskan panjang lebar yang diringi dengan jejak tangisnya.
Malik berkali-kali terperangah dan menelan ludahnya, tetapi ia tetap berusaha tegar untuk menguatkan Nadifa.
Memeluk erat tubuh Nadifa memberi kenyamanan dan berhenti melupakan ketakutan itu," Kita belum diketahui sayang, mungkin ini baru insting suamimu, kalau sudah diketahui ia pasti akan mencari atau mungkin langsung membunuhku..!"
Ucapan Malik pun terhenti dengan jari Nadifa yang menyentuh bibir Malik agar menyudahi kalimat itu.
"Sudah aku tidak mau dengar itu!" Nadifa kembali menangis dengan suara yang lebih pecah dibanding sebelumnya.
Malik kembali mengelus-elus punggung Nadifa dengan lembut dan masih memeluk erat tubuhnya sesekali mencium pucuk rambut Nadifa.
"Kita atur jarak saja ya, kamu enggak masalah kan? jangan ngambek atau marah sama aku ya?" pinta Nadifa kepada Malik.
"Aku hanya ngambek, kalau kamu berduaan dengan si fajar itu, tetapi kalau untuk suamimu aku tidak akan marah, suamimu memang lebih berhak atas diri kamu," balas Malik mengucapkan kenyataan yang harus mereka sadari saat ini.
Sepertinya angin sejuk mendukung mereka yang kini hanya berduaan dimobil saling memeluk satu sama lain.
__ADS_1