Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Menatapi layar USG


__ADS_3

Sepertinya pertikaian diantara mereka tidak akan berhenti sampai kapanpun juga.


"Mana sih dokternya ? kok belum datang juga!" Galih mulai emosi, ia sudah tidak sabar mengingat keadaan Nadifa saat ini semakin lemas tidak berdaya. Sebenarnya ia emosi karna terus melihati Malik yang tidak mau angkat kaki dari sini.


"Anda yang baru tiba 10 menit saja disini. Udah enggak sabaran bergeliat kaya cacing kepanasan. Saya dan Difa yang sudah dua jam menunggu disini, masih bisa bersabar dengan baik," ucap Malik ikut tersulut emosi dengan sikap Galih yang terlihat ke anak-anak kan.


"Mo--nyet nih Bapak-bapak!" Galih hanya bisa menahan emosinya didalam relung hatinya yang paling dalam.


Galih pun bersuara, seraya meledek malik


"Iya Om, ampun Om---- !"


Galih berdecis geli, ia tidak sanggup menahan gelak tawanya yang terkekeh-kekeh.


"Mas?!" Nadifa menoleh ke arah suaminya, memberi kode, agar Galih tetap bersikap sopan.


"Makin menjadi ajah nih anak tokek !" Malik memaki dalam hatinya.


"Kayak nya ada dedek nya Gifali nih, di dalam perut kamu sayang. Kan kita udah sebulan ini, rajin bikin adonan terus tiap malam."


Galih menatap wajah Malik sambil mengusap-usap perut Nadifa dengan tangannya. Kemudian mencium kening istrinya dengan sangat lembut.


Ia terus sengaja membuat Malik cemburu agar mau pergi meninggalkan mereka.


"Adonan semen kali ah !" batin Malik mengerang dalam mulut yang masih terkunci rapat.


Ia kembali terdiam, tidak mau mengikuti kelabilan Galih. Ia tau Galih masih cemburu kepada dirinya. Menurut Malik hal itu tidak penting untuk ditanggapi sekarang. Mengingat prioritas saat ini hanya untuk mengetahui keadaan Nadifa yang sebenarnya. Benarkah hamil atau ada penyakit lain?


"Om, enggak dicariin sama anaknya Om ?"

__ADS_1


Galih kembali membuka suara, mencari cara agar Malik merasa tidak nyaman berada disini. Ia tidak ada jera sama sekali untuk berhenti membangkitkan amarah Malik.


"Mas??" Nadifa menoleh ke arah suaminya, memberi kode kembali, agar Galih tetap bersikap sopan.


"Keponakan om yang satu ini, udah ganti pampers belum ya?" Malik menatap Galih dengan sempurna, ia kembali membalas ledekan Galih.


"Pak??" Nadifa menoleh ke arah Malik memberi kode agar tetap tenang.


Galih semakin kesal dibuatnya. Ia geram dengan Malik. Dengan cara apa lagi untuk mengusirnya dari sini.


Terlihar suster poliklinik kandungan sudah berdiri diambang pintu sambil memanggili nama-nama pasien yang mau memeriksakan kandungannya. Hal itu membuat kembali ketegangan didalam raut wajah mereka. Terutama Nadifa, ia semakin disulut rasa ketakutan dan kegelisahan.


"Aku mau pulang aja deh Mas, Pak!" Nadifa merintih dan menciut.


"Sabar sayang, kamu harus positif ya!"


Dan sampailah ketika nama Nadifa dipanggil.


"Ny. Nadifa Putri"


Dua lelaki ini refleks memegang pegangan kursi roda untuk mendorong Nadifa masuk kedalam. Karna tau akan posisinya saat ini, Malik pun mengalah dan melepaskan tangannya.


Mereka pun bertiga masuk saling beriringan. Malik mempertaruhkan rasa malu nya karna, saat ini ia sangat cemas memikirkan kondisi Nadifa. Ia terus memikirkan ucapan Dokter di IGD dua jam yang lalu.


Lain hal dengan Galih, ia terus merasa bahwa Istrinya tengah mengandung adiknya Gifali.


"Selamat siang," Dokter spesialis kandungan menyambut kedatangan mereka, mempersilahkan duduk untuk Malik dan Galih.


"Ayo ibu nya berbaring dulu di ranjang ya!" ucap Dokter yang masih menyelesaikan beberapa status pasien yang sudah diperiksa sedari tadi. Perawat pun dengan sigap membantu Nadifa untuk menaiki bed pasien. Menutup setengah Gorden agar tidak terlalu terlihat oleh kedua lelaki ini.

__ADS_1


"Bajunya dinaikan ya bu dan celananya diturunkan sampai batas bawah perut. Ia pun melumasi perut Nadifa dengan Jeli.


"Suami nya yang mana ya ?" tanya dokter terus melihati mereka berdua yang tengah duduk berdampingan.


"Saya dok suaminya," Galih menjawab cepat.


lalu Galih menoleh ke arah Malik


"Kalau ini paman nya istri saya dok," Galih berdecis geli, ia kembali meledek Malik.


"Mas!!!!!!!!" Nadifa berteriak sedikit kencang untuk menghentikan leluconan yang dibuat oleh suaminya.


"Kurang ajar nih bocah, masih muda begini dibilang paman!" Dengusan kesal tertahan di wajah Malik.


"Apa keluhan awal istri anda?" tanya Dokter kepada Galih.


"Beberapa jam yang lalu, terlihat ada darah yang mengalir dok turun sampai ke betis dan ke telapak kaki," Malik menjawab cepat.


Dokter terlihat bingung ketika yang mampu menjelaskan dengan sigap adalah pamannya. dan yang mengaku menjadi suami hanya diam saja.


"Baiklah," Lalu Dokter bangkit dari kursinya untuk menghampiri Nadifa yang sudah terlentang di Bed pasien.


"Semua melihat ke layar monitor TV USG ya,"


Dokter memberi himbauan kepada mereka untuk melihati sebuah layar TV yang sedang terpasang meninggi di dinging sudut atas.


Jantung Nadifa kembali berdegup kencang begitupun Malik yang terus menatap fokus apa yang ia lihat saat ini di layar monitor TV itu. Berbeda dengan Galih, ia tetap santai. tidak sama sekali memberikan raut wajah akan ketegangan.


Jempol nya Guyss🖤 tharenkyou

__ADS_1


__ADS_2