Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Sikap Galih berbeda


__ADS_3

Mobil Malik pun terhenti di depan pagar rumah Nadifa.


"Bangun sayang, kita sudah sampai," Malik membangunkan Nadifa yang masih tertidur dan memeluk dadanya dari samping.


"Sayang.." panggil Malik lagi, mengusap-usap punggung Nadifa.


"Iya ," Nadifa pun menjawab dengan suara parau mengantuk.


"Makasi ya sayang," Nadifa berucap lagi, ia pun mencium pipi Malik dengan lembut, Malik pun membalasnya.


"Hati-hati ya ," Nadifa pun turun dari mobil ia pun melambaikan tangan kedalam mobil, mobil pun kemudian berjalan dan meninggalkan Nadifa disitu.


Nadifa berjalan dengan pelan-pelan mengingat kakinya yang sehabus terkilir tadi, memang saat ini sudah tidak terlalu sakit deperti diawal sebelum di urut oleh Fajar.


Ia pun masuk kedalam rumah langsung menuju kamar tidur nya untuk berganti pakaian kantor dengan daster, kemudian melangkahkan kaki untuk turun kembali ke arah dapur bersiap memasak makan malam.


*****


Kantor Galih


Saat ini Galih masih dilanda kesal dan kecewa karena proyeknya gagal, ia tidak dapat memenangi proyek tersebut dari lawan perusahaannya. Tubuhnya kini ia rebahkan ke sandaran bangku kerjanya, mengangkat kedua tangannya menyila dibelakang kepala, ia terus memejamkan matanya untuk memendam rasa kecewa.


"Lih ?" panggil Gita, ia pun sudah berdiri dihadapan Galih, Galih pun hafal suara itu namun tetap ia tidak mau mengubah posisi tubuhnya.

__ADS_1


"Kembali lah dulu keruanganmu Git, Aku masih ingin sendiri,"


"Tapi lih, baiklah aku kembali. Jika kamu butuh aku, aku siap,"


Galih Mengangguk dan Gita kembali pergi keruangannya. Galih memutuskan untuk kembali pulang kerumah mengingat sudah waktunya jam pulang kerja.


"Saya pulang duluan ya pak," ucap Galih kepada Pak Laode yang masih fokus menatapi layar komputernya.


"Baik pak, hati-hati dijalan,"


Galih pun meninggalkan kantor dengan langkah sendu dan tidak bergairah, bonus dan keuntungan besar untuk perusahaan yang sudah ada didepan mata kini pun telah sirna.


1 jam telah berlalu, kini Galih sudah tiba dirumah ia terus masuk menaiki tangga tanpa mengucap salam. Nadifa yang sedari tadi berada didapur, merasa aneh melihat sikap suaminya yang lain dari biasanya.


"Iya," Galih menjawab dengan singkat dan terus melajukan langkahnya menuju kamar.


Melihat sikap suaminya berbeda, ia pun mempercepat masaknya yang sudah hampir matang dan segera disajikan di meja makan.


"Sayang, ada apa ? kamu sakit ?" tanya Nadifa yang melepaskan kedua sepatu yang masih dipakai Galih, kini suami nya sedang merebahkan diri ditempat tidur dengan masih berpakaian kantor lengkap matanya terus melihat ke langit-langit kamar yang berwarna biru muda itu.


"Tidak sayang, aku sehat," Galih berbohong.


"Ada apa ? ceritalah pada ku, biar sesak didadamu hilang," Nadifa duduk didekat kaki suaminya dan memijiti kaki itu dengan pelan dan lembut.

__ADS_1


Galih pun bangkit dari posisi rebahanya dan langsung memeluk Nadifa dengan erat dan amat sedih.


"Ada apa sayang ?" Nadifa terkejut melihat sikap suaminya kini.


"Maafkan aku, aku batal membawamu ke New York, proyekku gagal..disabotase," Galih tetap memeluk Nadifa.


"Disabotase bagaimana maksudnya ?"


"Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya, maaf kan aku," Galih merintih dan memelas.


"Sudah lah sayang, kemanapun aku pergi asal ada kamu, aku bahagia. Walau hanya tinggal dikamar petak, akan aku ikuti yang penting tetap dengan kamu, jangan pernah merasa kalah hanya karena gagal ingin membahagiakan aku,"


Nadifa melepaskan dirinya dari pelukan suaminya itu.


lalu ia memegang kedua pipi suaminya itu dengan hangat.


"Jangan terlalu dibudaki oleh kesenangan dunia" ucap Nadifa menyemangati dan mencium Galih dari dahi, pipi,hidung dan bibir. Dilepaskan dasi yang masih menempel di kerah kemeja kerjanya.


"Kamu mandi dulu, habis itu shalat baru turun ke bawah, kita makan malam bersama," perintah Nadifa.


Seketika muncul raut bahagia dari wajah Galih karena semangat yang penuh makna dari sang istri, ia terus menciumi tangan istrinya.


"Terima kasih sayang, terus lah bersamaku dan setia sampai ajal kita menjemput,"

__ADS_1


Nadifa pun terpaku diam mendengar perkataan suaminya itu, ia seperti sedang menelan timah panas yang mengganjal dikerongkongannya, dada nya sesak tidak tertahan melihat bagaimana keadaan Galih jika tahu Istrinya telah menghianati cinta mereka.


__ADS_2