Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Sesak Dada Gita menghilang


__ADS_3

"Jangan marah padaku ya, hmm..yang kemarin itu aku Khilaf. tolong maafkan aku," Gita mengiba kembali sembari memegang tangan Galih.


"Yang kemarin sudah ku lupakan, aku mewajarimu, sekarang sudah makan siang belum?" Galih bertanya.


"Aku sudah makan lih,"


"Baiklah kalau begitu, aku duluan ke ruangan yah. Mau ada rapat lagi," ucap Galih kepada Gita, memutar langkahnya kembali menuju kedalam ruangannya.


Gita tersenyum puas, dadanya kini tidak lagi sesak karna Galih, ia sudah tenang saat ini karena Galih sudah bersikap biasa kembali terhadap dirinya.


"Karena terlalu mencintaimu, aku seperti ingin mati saja ketika tidak mendapat kabar atau bertemu dirimu semenit saja," Gita berpeluh lirih dalam hatinya.


"Rasa ini tidak pernah mau pergi dari nya. di otak ku hanya ada kamu, namamu dan suara kamu. Bagaimana caranya untuk mengganti dirimu dengan lelaki lain, ya tuhan bantulah aku melupakannya," dalam hatinya Lagi.


Gita pun kembali berjalan ke ruangannya yang berlawanan arah dengan ruangan Galih.


Galih kembali duduk dimeja kerjanya, menatap kembali layar monitor komputer dan membereskan beberapa berkas untuk rapat sore ini.


Galih tetap bekerja dengan giat dan semangat tidak sama sekali mempunyai firasat atas apa yang sudah dilakukan istrinya dibelakang dirinya saat ini.

__ADS_1


Galih mengambil hp nya dan menelpon istrinya yang sedari pagi tidak mengirimkannya pesan.


kring kring kring....


HP Nadifa berdering, setelah ia baru sampai duduk dimeja kerjanya. Nadifa kaget suaminya menelpon dan ia baru ingat belum mengabari atau menanyakan sudah makan siang atau belum. Mengatur nafas yang masih tersengal-sengal karna memindik mindik masuk kedalam ruangan yang sudah hening itu .


"Assalammualaikum iya sayang," Nadifa membuka obrolah di telepon.


"Waalaikumsallam, sudah makan ? kemana saja kok tidak ada Wa," tanya Galih dan Nadifa terdiam sebentar.


"Oh iya maafkan, aku baru saja selesai makan. Tadi kami ada rapat sampai melewati jam makan siang yang, maaf yah," Nadifa menjelaskan.


"Ya sudah sayang, kamu hati hati nanti pulangnya ya, aku mau lanjut kerja lagi," Nadifa menyudahi percakapan mereka ditelepon.


Malik tiba didalam ruangan kerjanya, menatap ke layar komputer yang sudah dibetuli oleh tim IT. Hal yang sama pun terjadi dengan Nadifa, ia kembali mengerjakan beberapa laporan yang sempat tertunda karena ditinggal oleh nya untuk makan siang bersama tadi.


"Aku salah terus mencintaimu dalam keadaan ku yang seperti ini," dalam hati Nadifa melihati Malik yang sedang fokus menaruh jemarinya di keyboard komputer.


Beberapa lama kemudian, Malik membereskan tas kerjanya dan bergegas cepat keluar dari ruangan menuju meja Nadifa dan Nadifa yang masih terus menunduk menulis beberapa hitungan dikertas buram.

__ADS_1


"Nadif, maaf saya harus pulang duluan. Letta jatuh dari tangga rumah dan sekarang sedang diklinik," Malik berdiri disamping meja nadifa dan memberi penjelasan. Nadifa langsung memberi mimik wajah kaget dan penuh takut.


"Ya allah pak, terus keadaanya gimana sekarang?" Nadifa ikut panik. ia merasa anak Malik adalah anaknya juga.


"Saya belum tau pastinya, tetapi kata PRT saya, Letta sudah diobati, saya tinggal jemput saja ke klinik, tidak usah khawatir ya, Semua akan baik baik saja,"


"Nadifa bisa bantu apa ya Pak ?"


"Doakan saja Letta supaya tidak apa-apa, setelah jam kerja selesai, Nadifa cepat pulang ya jangan berlanjut sampai malam disini, saya pulang duluan ya," ucap Malik menepuk pundak Nadifa dengan pelan.


Lalu Nadifa menyodorkan tangannya untuk memberikan salam kepada Malik.


"Baiklah hati-hati ya, jika sudah sampai rumah kabari Nadifa ya," ucap Nadifa melepas Malik pulang duluan.


Percakapan itu terdengar sangat pelan, kebetulan meja nadifa terletak paling jauh dekat dengan pintu masuk ruangan.


Semua karyawan yang sedang bekerja tetap fokus menatap layar komputer, namun tidak dengan Riska, yang sedang melihati Nadifa dan Malik sejak tadi di meja depan sebalah kanan.


"Pak Malik sepertinya kelihatan akrab sekali dengan Nadifa, ah..mungkin mau menanyakn tentang laporannya," ucap Riska. Riska memang satu ruangan dengan Nadifa dan Dania tetapi mereka berbeda Divisi, Riska berada di divisi bagian penawaran tetapi masih dalam bawahan Malik Gunawan.

__ADS_1


__ADS_2