
Nadifa masih berdiri memegangi bingkai foto yang ia genggam saat ini, menatapi nya dalam-dalam yang dipenuhi kabut keterpaksaan hati ," Sejak kapan kalian menikah?" Nadifa masih membelakangi tubuh mereka.
Ia terus meratapi foto Akad Nikah Galih dan Gita yang begitu sederhana dengan kekuatan tanpa air mata berlinang.
Galih hanya bisa diam dan menyenderkan dirinya di sofa sebagaimana Gita yang hanya diam melihati Nadifa.
Sepertinya kejadian ini telah membuat Gita sadar, jika saat ini ia sudah menjadi perusak dan penjahat sesama kaum Hawa.
"Sejak?!" Nadifa kembali memecah keheningan itu dengan suaranya yang lembut.
Lalu Gita menjatuhkan dirinya dan berjongkok tepat dibelakang kedua kaki Nadifa, ia menangis sejadi-jadinya.
"Maafkan aku, Dif. Aku yang salah..kami khilaf," Gita semakin menjadi-jadi dalam tangisnya.
Nadifa meraih bahu Gita dan mengangkat tubuh itu untuk berdiri keatas," Sudah Mba, aku tidak apa-apa,"
Nadifa berjalan ke meja makan, lalu menuangi air minum digelas yang dibawanya kepada Gita.
"Minum lah dulu, biar hati kamu tenang," Nadifa menenangkan Gita dari isak tangisnya.
__ADS_1
Gita terenyuh dan amat terpukul dengan apa yang dilakukan saat ini, ia merasa sangat tidak pantas.
"Bereskan pakaian dan barang-barangmu Mba, secukupnya saja dan ikut lah tinggal bersama kami!"
"Apa ?!" Galih melengkingkan suaranya lalu bangkit dari sofa mendekati Nadifa dan memegang bahu nya.
"Aku ingin Mba Gita tinggal bersama kami, dirumah kamu, Mas,"
"Itu rumah kamu sayang, aku membelinya untukmu, hanya buat kamu,"
Kalimat itu sangat membuat Gita hancur dan sakit, namun ia sadar bahwa dirinya telah hadir menjadi duri penghancur kehangatan di rumah tangga ini.
"Enggak Dif, aku disini saja bersama Anakku," Gita memelas sambil memegangi perutnya.
"Aku dan Mas Galih akan menjaga kamu dan Anak..kalian," Nadifa melakukan penekanan di kalimat terakhirnya.
"Bukan kan perhatian ini yang kamu inginkan? menginginkan suamimu untuk selalu menjagamu, Mba!"
Nadifa kembali mengingatkan kedua pasangan ini dengan kejadian kemarin yang ia lihat.
__ADS_1
Galih hanya bisa mengelengkan kepalanya tanda malu amat berat dan tanda tidak setuju jika Gita harus tinggal satu atap dengan mereka.
Dengan hal itu, ia merasa tidak menyangka Nadifa akan sebijak ini. Sudah terbayang-bayang dalam benaknya, Nadifa akan mengamuk sesampainya dirumah Gita mungkin saja ia akan menjambak-jambaki rambut Gita.
Gita pun amat tidak menyangka, ia akan berhadapan dengan wanita berhati mulia seperti ini, ia sungguh salah menilai terlebih dalam bagaimana sikap dan ketulusan hati Nadifa.
"Ayo Mba, bereskan baju-baju mu!"
Nadifa meminta Gita untuk cepat berkemas, karena ia merasa dirinya masih letih dan butuh tidur kembali.
Galih merasa Nadifa tidak benar-benar mengucapkan itu dari hatinya, ia takut Nadifa sedang memainkan Gita dan dirinya.
"Baiklah," Gita beranjak pergi berjalan masuk ke kamarnya.
Galih merangkul tenguk Nadifa dan memeluknya lalu Nadifa mengayunkan telapak tangannya untuk membelai lembut pipi sang suami.
Jiwa Galih masih bergetar atas apa yang sudah ia lihat kini.
Gita masih memilih-milih pakaian yang akan ia bawa kerumah Galih. Saat ini ia merasa gairah mendapatkan Galih seperti mau musnah karena sikap Nasifa yang begitu bijaksana.
__ADS_1
"Aku sangat menyesal, amat sangat-sangat malu dengan wanita semulia dia! Ia tetap memperlakukan aku tanpa sekalipun mengeluarkan kata-kata kasar menerjang jiwa dan batinku!"
Batin Gita sakit mengelupas, ia mampu melakukan ini semua tanpa memperhatikan apa yang akan terjadi dibelakang ini semua.