
Galih melemparkan sekotak bolu di meja ke arah Lukman yang sudah menunggu dirinya lebih dari waktu yang mereka sepakati.
"Maaf broh, gue telat!" Galih menjatuhkan dirinya di bangku cafe. Ia terlihat lelah dan capek saat ini.
"Santai broh, lo kenapa lemes gitu? lagi haid?" Lukman meledek.
"Makan tuh atau bawa pulang buat Lala, itu bolu enak kesukaan bini gue."
Lukman melipat dahi nya dalam-dalam. "Lah aneh, katanya kesukaan bini lo, ngapain ngasih ke gue bray..?"
"Difa lagi ngidam, mau nya aneh-aneh terus. Awal dia minta A pas udah ada malah minta B, kalo nggak keturutan mood nya jelek, ngambek sampai kadang suka nangis-nangis. Pengen ikut marah, tapi gue nggak tega!"
Galih merebahkan dirinya lebih dalam lagi ke sandaran kursi. Memijit-mijit keningnya beberapa kali.
"Wajar bray, namanya bini lagi ngidam. Udah pusing aja lo, baru juga ngidam anak pertama, coba dong gue udah tiga anak. Lo bayangin tuh Lala dia kan lebih heboh dari Difa,"
Lukman menepuk bahu Galih beberapa kali, seraya memberi kekuatan pada sahabatnya.
"Ada apa lo ngajak gue ngopi ? kangen ?"
"Dih, jijik gue dengernya Men.." Galih melepaskan tangan Lukman dari bahu nya.
"Men" adalah panggilan sayang untuk Lukman.
Ia terdiam sebentar, mengambil nafas perlahan agar ketika sedang bercerita bisa lancar tanpa hambatan.
"Kayanya si Fajar harus gue kasih pelajaran nih, dia masih aja berani WA in bini gue Men!"
Lukman yang sedari tadi santai langsung bersikap tegap.
"Gue udah suruh Difa untuk resign, tapi dia tetep kokoh pendirian untuk tetap kerja, karna menurutnya, dia bisa ngelakuin semuanya sendiri. Ngurus rumah, gue, anak gue dan kerjaan nya. Gue akui emang dia telaten dan cekatan untuk ngurus gue sama Gifali."
__ADS_1
"Kalo lo suruh dia resign cuman karna lo takut Difa bakal bersikap kaya dulu, lo udah salah jalan Lih!" dirasa tidak ada sanggahan dari Galih ia pun berujar lagi "Harus nya malah lo dukung dia untuk terus berubah, lo tunjukin ke lelaki yang pengenin Difa, bahwa Difa itu lebih milih lo sekarang, dia lebih cinta sama lo. Lo bahagian Difa, kasih apapun yang dia mau, buat dia enggak bisa lepas dari lo. Karna masih banyak Fajar-Fajar diluar sana yang mungkin akan rebut Nadifa dari tangan lo, walaupun dia udah nurutin kemauan lo untuk dirumah aja. Banyak kok istri yang ketahuan selingkuh walau dia cuman ibu rumah tangga!"
Galih berkali-kali menarik ulur nafas nya agar lebih konsen dengan semua ucapan Lukman.
"Nadifa itu wanita yang baik dimata gue, dia bisa salah jalan mungkin karna Tuhan lagi coba rumah tangga kalian aja Lih. Sekarang kan liat ketika badai telah menerjang rumah tangga kalian, Tuhan kasih kalian nikmat dengan dikabulkan nya doa-doa kalian untuk dapetin anak."
"Nadifa itu cerdas Lih, dia nggak akan lagi salah jalan. Dengan masalah dia lalu masalah lo sama Gita, adanya Gifali saat ini dan sekarang dia lagi mengandung. Itu semua udah membuka mata dia, untuk belajar dari segala kesalahannya!"
Galih hanya bisa diam tidak bergeming, dirinya sangat tahu bahwa apa yang dikatakan Lukman itu semua benar. Ia merasa terbantu dengan saran dan arahan Lukman.
"Gue rasa, Fajar harus dikasih ultimatum sedikit biar dia jera, nggak lagi mengharapkan bini lo!"
"Oke Men, malam ini. Lo mau kan bantuin gue ?"
"Siap bro ! buat lo.."
Entah apa yang akan dilakukan Galih dan Lukman nanti malam dengan Fajar. Semoga saja cara yang mereka pilih memang betul membuat Fajar berhenti atau mungkin bisa jadi semakin menggencarkan aksinya untuk merebut Nadifa Putri Hadnan.
***
Fajar masih memapah Alea untuk duduk dibangku taman. Sesuai janjinya kemarin bahwa Fajar akan mengajak jalan-jalan Alea untuk mengirup udara segar.
"Ganteng banget sih kamu Mas,"
Alea terus memandangi Fajar tidak henti-henti.
Lain dengan Fajar yang masih terus memikirkan Nadifa, bagaimana dengan rencana pertemuan mereka nanti malam. Seperti ada sedikit keraguan di dalam hatinya.
"Bukan sih gue nggak seneng mau ketemuan makan ice cream sama Difa, tapi apa benar dia akan datang? atau dia cuman ngerjain gue doang?"
Fajar tidak sebodoh itu rupanya, ia merasa insting dia kuat saat ini. Lalu ia meraih HP nya untuk mengirim pesan kepada Nadifa ingin menanyakan bagaimana pertemuan mereka nanti malam.
__ADS_1
Sayang memang, nasib baik sedang tidak berpihak dengannya saat ini. Seakan alam pun ingin ikut serta menghukum Fajar nanti malam.
"Duh..lowbat..ahh!" Fajar menggerutu kesal ketika mendapati HP nya mati total. Maka keinginannya untuk mengirimi pesan kepada Nadifa menjadi urung.
"Kamu kenapa Mas?" Alea menanyakan sikap Fajar yang sedikit grasak-grusuk.
"Nggak apa-apa kok. Alea mau makan apa lagi nih? itu ada somay, bakso------?"
Ucapan Fajar terhenti sejenak, matanya terbelalak hatinya cukup kaget ketika Alea dengan segala keberaniannya mencium pipi kanan Fajar dengan cepat.
Entah apa di fikiran wanita ini, mengapa ia begitu ekstrim melakukan hal itu. Ia begitu menyukai Fajar sampai tidak mampu menahan diri nya.
Mereka pun hening, baik Fajar dan Alea tidak ada yang bisa bicara. Akhirnya dengan rona wajah Alea yang memerah, gadis itu pun bangkit dari bangku taman berjalan meninggalkan Fajar sendirian disana.
"Alea..Ale..kamu kenapa ?" Fajar berusaha mengejarnya dan menarik lengan Alea untuk menghentikan langkah gadis ini.
Alea hanya menunduk menahan rasa amat malu, diangkat dagu nya perlahan oleh Fajar. Terlihat ada genangan air mata mendidih dikelopak mata Alea.
"Kamu kenapa? kok nangis? aku ada salah ya?" ucap Fajar memelas.
Salah dari mana? jelas-jelas ini semua karna Alea sedang menutupi rasa malu nya.
Alea pun memeluk Fajar dengan erat, membuat lelaki ini sekali lagi tercengang kaget. Ia terpaku ketika dadanya di kekang erat.
"Aku suka sama kamu Mas...!"
***
Maaf ya guyss, update nya malem kemaleman hehehe.
Kaya biasa, minta dukungan kalian buat Like, Vote, Point dan tinggalin komenan kalian ya..moga terus menginspirasi aku untuk terus mengenyangkan mata kalian untuk terus membaca cerita Nadifa, Galih dan Malik.
__ADS_1
🖤🖤🖤 dan makasih banget buat kalian..ailopyuu🥰