
"Kamu mau kemana Pah?" tanya Nadifa dari anak tangga ketika melihat Galih tengah meraih handle pintu untuk keluar. Ia memakai jaket kulit hitam dan topi menutupi kepalanya.
Galih yang terbelalak kaget sudah kepalang basah diketahui sang istri karna mencoba pergi dari rumah secara diam-diam. Ia tidak akan mungkin berkata jujur, kalau dirinya ingin menghajar Fajar habis-habisan bersama Lukman malam ini di Cafe.
"Papah mau beli pulsa dulu ya Mah, sebentar aja sekalian cari cemilan!"
Ada sedikit kerutan dikening istrinya namun kening tersembul lagi secara normal ,"Ya udah hati-hati dijalan.."
Mendapat alarm pengijinan dari sang istri ia pun melangkah cepat dan mantap menuju cafe. Jantungnya terus bergemuruh, semoga saja dirinya tidak terlalu brutal disana.
Walau dia akan menggugurkan harga dirinya dengan jabatan yang saat ini telah ia duduki, untuk sedikit membuat malu dirinya, didepan orang banyak karna ingin membuat Fajar sedikit jera dengan sikapnya untuk menjauhi Nadifa.
"Gue on the way, Men!" begitulah suara Galih ditelepon dengan Lukman sebelum ia memacu pedal gas nya untuk berlalu menuju cafe.
30 menit kemudian Galih telah sampai disana, ia datang lebih awal dari waktu yang sudah ditentukan untuk pertemuan Fajar dengan seolah-olah Nadifa.
"Mati lo sekarang !" amarah menyala-nyala di mata Galih.
Cafe terasa sepi saat ini, mungkin memang alam sedang berpihak pada Galih dan Lukman untuk menghukum Fajar.
Lalu
"Mas nunggu siapa..?" tanya seorang wanita duduk satu meja berhadapan dengan nya.
"Maaf Mba, saya lagi nunggu teman !" jawab Galih dingin seraya meminta wanita ini pergi dari hadapannya.
"...Boleh saya duduk disini?"
"Maaf Mba, mungkin kursi lain masih banyak yang kosong untuk ditempati !"
Tanpa menjawab wanita sexy itu pun berlalu membawa dirinya pergi menghilang ke antah berantah.
__ADS_1
"Wanita aneh," Galih berdecis geli. Ia masih setia menunggu kedatangan Lukman untuk menemaninya mengeksekusi Fajar.
Sudah habis 2 gelas kopi, batang hidung Lukman belum muncul juga. Dada Galih kembali mengembang ketika melihat jam di arloji nya menuju 15 menit lagi dengan waktu yang sudah disepakati dengan Fajar.
Dan kemudian datang lah Lukman dengan langkah terburu-buru menghampiri Galih.
"Maafin gue broh ! jalanan macet banget, hampir aja gue nyerempet Mbak2 jamu gendong.."
"Cantik nggak Mbak2nya ?" tanya Galih meledek
"Manis sih, tapi sayang broh pas buka mulut giginya ompong dua. Aduh apes mata gue !"
"Untung aja ompong, coba kalo kagak. Pasti udah lo ajak ke mobil !"
"Bisa aja lo ******..kadang omongan lo makin bener aja tiap hari,"
Dan mereka pun tertawa terbahak-bahak menembus hawa dingin yang mulai menyelimuti.
"Mana tuh *******..kok nggak muncul-muncul juga..?" desis Lukman sambil mengikuti arah mata Galih yang masih mencari-cari keberadaan Fajar.
"Udah lewat jam segini, tapi dia kok belum muncul ya ?" ucap Galih terus penasaran.
"Fix ini mah Fajar tau lagi ditipu sama Nadifa, dia juga mikir kali mana mungkin sih bini lo mau ketemuan sama dia disini!"
Galih kehilangan semangat. Ia merasa Fajar tidak akan datang ke tempat ini.
Hati Galih semakin mengerang. Ia terus berdoa agar dikabulkan untuk bisa memberi pelajaran kepada Fajar. Ia hanya ingin hidup nya tenang tanpa terus ada bayang-bayang lelaki itu untuk merebut istri dari tangannya.
"Udah mau satu jam ni Lih, dia nggak akan dateng! gue udah ngantuk nih coy," Lukman menguap panjang beberapa kali.
"Cemen lo jam segini udah ngantuk, kaya manusia aja lo..!"
__ADS_1
"Setan kali gue, nggak ada ngantuk nya buat ngegentayangin bini orang mulu kaya si Fajar !"
Lagi-lagi dua lelaki ini tertawa hebat diudara. Seraya hanya mereka yang telah menguasai belahan malam yang kelam. Namun keceriaan mereka tidak berlangsung lama ketika ada suara yang tidak asing dan sangat dihafal oleh Galih.
"GALIH !!!!!!!!!!!!!!!!!"
Tanpa embel-embel apapun didepan namanya, wanita itu memanggil dirinya dengan keras dan nyaring. Sontak membuat dua lelaki yang sedang cekikian tertawa membisu sekejap. Galih fokus untuk mendengar siapa pemilik suara yang telah memanggil salah satu dari mereka.
Galih dan Lukman menoleh cepat. Bagai hujan disambar petir ditengah malam nestapa.
Ada sosok Nadifa yang tengah berdiri dibelakang mereka, tengah menaruh kedua tangannya dipinggang.
Lalu ada sosok lelaki sedang berjalan lalu mengakhiri langkahnya tepat dibelakang tubuh Nadifa.
Lukman berdecis.
"Fajar...?"
Lukman terus menatapi Galih yang sedang termenung kaku melihati wanita yang sedang ada dalam hadapannya.
Fajar menyeringai bahagia.
***
masih ada lanjutannya, hari ini ada 2 part
Kaya biasa
Like dan komennya ya guyss🖤🖤
Thankyou😘
__ADS_1