
Nadifa masih termenung menatap layar komputernya. Tubuhnya dikantor tapi jiwa nya melayang-layang entah kemana. Saat ini ia kurang konsentrasi karna pernyataan Fajar tadi malam dan soal tamparan yang ia lakukan kepada suaminya.
Nadifa menyesal !
Sesekali ia mengatur kembali nafasnya. Meregangkan semua ototnya agar kembali konsen menyelesaikan pekerjaannya, namun lagi-lagi ia gagal dan frustasi lagi.
"Temuilah Galih, Dif. Minta maaf padanya, bagaimanapun tindakan kamu kemarin itu salah," Ucap Dania yang menangkap guratan kegalauan di wajah Nadifa sedari tadi.
Nadifa mengangguk pelan, sepertinya ucapan Dania ada benarnya."Aku mau ke ruangan Pak Malik dulu ya Mba," Ia pun bangkit berlalu menuju ruangan Malik.
"Pak?" Nadifa memanggil pelan lalu menduduki kursi dihadapan Malik. "Hem..ya!" Malik terus fokus menatap layar komputernya, sepertinya ia masih marah dengan sikap Nadifa kemarin.
Melihat ekspresi wajah Malik yang seperti ini, Nadifa menjadi diam sebentar. Ia seperti mundur maju untuk berucap, ia mengehela nafas panjang lalu memberanikan dirinya lagi."Pak, Difa mau ijin pulang cepat ya,"Ucap Nadifa pelan-pelan, ia terus menatap Malik yang belum mau menoleh ke arahnya.
Mendengar ucapan Nadifa, Malik pun bergerak cepat memindahkan bola matanya untuk menatap sang mantan penghuni hati."Kenapa memang?"
"Ada perlu!"
"Sama Fajar?" tanya Malik dengan suara meledek dan tidak suka.
Nadifa tau jika dirinya akan disalahkan dan disuduti namun ia tidak mau menggubris masalah Fajar.
"Boleh ya?" tanya Nadifa memelas.
"Hem..iya, tapi mau kemana?" Malik tetap dalam pendiriannya, ia ingin tau jelas.
"Iihh...!" Nadifa merengut."Mau ke RS lagi, liat keadaan Mba Gita," Nadifa tidak ada pilihan untuk berbicara jujur.
__ADS_1
"Sama siapa kesana? Fajar ?!" Malik menebak-nebak. "Jangan dengan dia, saya juga bisa anter kamu kesana!" Malik seraya memberi peringatan keras.
"Apaan sih Pak, dari tadi nama Mas Fajar terus yang disebut, Difa mau sendiri aja kesana,"
Malik masih tidak percaya akan ucapan Nadifa.
"Didepan saya bilangnya berangkat sendiri, taunya nanti ada Fajar yang sedang nunggu di Basement!" Malik masih meledek.
"Itu mah kamu sama aku dulu, upss...!" Nadifa keceplosan ia langsung menghentikan ucapannya dan menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Malik pun kembali teringat dan tertawa
"Benar bisa sendiri?"
Nadifa mengangguk mantap.
"Dan Mas Galih ?!"
Malik mengangguk dan senyum tipis," Iya"
Bagaimanapun Nadifa pernah ada dihatinya, mengisi ruang cintanya dan ia pasti masih mempunyai rasa cemburu walau itu berada dipaling ujung bagian dalam jiwanya.
*****
"Sudah belum Git?" tanya Galih diluar pintu kamar mandi, yang sedari tadi menunggui Gita sedang buang air kecil didalam."Tunggu Lih,"
"Awwww..!" terdengar suara Gita merintih, Galih pun dengan cepat masuk menerobos pintu toilet."Sudah aku gendong saja," Galih pun menggendong Gita menuju tempat tidurnya, lalu direbahkan istrinya itu diatas ranjang, merapihkan bantal agar tepat dikepala nya, menggantungkan kembali infusan ditiang dekat tempat tidur dan menarik selimut sampai menutupi perutnya.
__ADS_1
"Aku haus Lih,"
"Iya sebentar," Galih mengambil air minum dan membantu Gita untuk menegaknya.
"Nadifa?!" Gita kaget melihat Nadifa yang tengah berdiri melihati mereka entah kapan ia sudah sampai disana. Galih pun menoleh ke belakang ketika Gita menyebut nama Nadifa.
Nadifa hanya diam, terus menatapi perhatian Galih kepada Gita, dimatanya Galih terlihat sangat kebapak an, sedang menjadi suami dan ayah siaga.
"Sayang." panggil Galih lalu menghampiri Nadifa diposisi nya saat ini.
"Maaf aku datang disaat yang tidak tepat Mas, Mba. Ini aku bawakan makan siang untuk kamu Mas, dan buah-buahan untuk Mba Gita,"
Nadifa meletakan semua jinjingan yang ia bawa di meja.
"Aku permisi ya," Nadifa menundukan wajahnya lalu memutar badannya untuk melangkah ke luar pintu.
"Sayang," Galih dengan cepat meraih lengan Nadifa dan menguncinya agar tidak melanjutkan langkah kaki nya. Tetapi kekuatan Nadifa begitu kuat, sehingga cengkraman itu pun terlepas.
Nadifa terus berjalan cepat meninggalkan ruang perawatan, menyusuri lorong rumah sakit, berjalan cepat lalu diselingi dengan larian kecil.
Ia menangis ! Ia cemburu !
Dari arah belakang, Galih terus mengejar mengikuti bayangan istrinya yang pergi tanpa penjelasan.
Dan beberapa lama, genggaman tangan Galih berhasil menarik Nadifa untuk tetap tinggal dihadapannya dan menghentikan lajuannya.
Galih langsung menyergap Nadifa dengan pelukan, menempelkan kepala Nadifa didadanya dan mengunci tubuh itu dengan kedua tangannya. Ia tau istrinya ini sedang rapuh-rapuhnya. Mengusap-usap tubuh istrinya yang dirundung derai air mata karna kecemburuan.
__ADS_1
Galih menciumi terus pucuk rambut Nadifa, ia bersyukur Nadifa masih mencemburuinya itu artinya cinta mereka masih hadir dengan baik.