
"Aku di rumah aja ya, Mas. Kasian Gifali,"
Nadifa tidak punya pilihan lain, ia tetap menolak untuk menjalani rawat inap. Dirinya tidak sampai hati, jika harus membawa bayi sekecil itu ke dalam Rumah Sakit. Mengingat Baby Day Care tidak menerima penitipan anak dalam waktu 24 jam berturut-turut dan Galih belum tentu bisa mengurus Gifali dengan baik.
"Kamu kan tadi dengar apa yang dikatakan oleh Dokter barusan, kandungan kamu lemah sayang. Aku takut--!" Galih menghentikan ucapan nya. Menggeleng-gelengkan kepala karna tidak mau membayang kan kejadian itu lebih jauh.
"Betul Difa, sebaiknya kamu dirawat. Saya khawatir kondisi kamu semakin memburuk. Untuk masalah Gifali serahkan pada saya. Kinanti dan saya bisa mengurusnya sementara dirumah kami," Malik memberi angin segar untuk pasangan suami istri ini.
Galih tidak menyangka, Malik akan membantu mereka se tulus ini.
"Enggak Pak, Difa enggak bisa jauh dari Gifali. Anak itu susah, enggak akan berhenti nangis kalau belum dipeluk sama Difa. Gimana kalau malam-malam bangun dan merengek, Difa enggak akan bisa tenang disini."
"Nadifa akan semakin stress jika jauh dari Gifali. Masalah ini akan semakin menambah buruk kondisi kandungan nya," kata Galih dalam hati nya.
"Sayang, tapi apakah kamu yakin? enggak mau mengikuti saran dokter?" Galih kembali mengingati istrinya yang begitu keras kepala.
Nadifa mengangguk mantap, seketika mengubah wajah sendu nya menjadi wajah yang penuh akan kekuatan. "Iya Mas aku yakin,"
__ADS_1
Ia harus bersikap kuat, agar mereka mempercayai bahwa Nadifa bisa mempertahankan kandungannya sendiri tanpa harus menjalani rawat inap disini.
"Pak, maafin Difa ya. Banyak ijin kerja bulan ini," Nadifa merintih kepada Malik.
"Enggak usah mikirin kerjaan dulu, yang penting kamu dan bayi mu cepat segera membaik," balas Malik, ia sangat mengerti dengan keadaan Nadifa saat ini.
"Oiya Lih, kamu harus terus jaga Difa, perhatikan makanan nya, susu, vitamin dan istirahat yang cukup untuknya dan satu lagi yang penting, kamu harus Puasa dulu selama tiga bulan. Jangan dulu buat adonan," ucap Malik mengingati Galih sembari berdecis geli menahan tawa.
Galih kembali geram, ia tidak suka jika di ingati dengan hal itu. Hal yang akan susah ia laksanakan.
"Pak!" ujar Nadifa dengan lembut, ia tidak mau dua lelaki ini saling meledek.
Setelah pulang dari Rumah Sakit, Galih dan Nadifa bergegas untuk menjemput Gifali dari Day Care. Mereka ingin memberitahukan kepada pihak Day Care bahwa Gifali tidak akan di titip dahulu selama tiga hari. Pihak Day Care pun mengerti dengan baik. Kini Nadifa merasa sudah tenang, karna ia bisa bedrest total dirumah sambil mengasuh Gifali.
"Hati-hati sayang," ucap Galih terus memapah Nadifa sampai ke tepi ranjang. Bersikap sangat pelan kepada istrinya.
"Enggak usah mandi ya, aku elap aja tubuh kamu pakai air hangat, gimana ?"
__ADS_1
"Iya, Mas. Aku mau," balas Nadifa yang masih duduk selonjoran diatas ranjang. Kini mual dan muntahnya sudah sedikit teratasi karna sudah menelan obat yang diberikan oleh Dokter Kandungan di Rumah Sakit tadi.
"Alhamdulillah cintaku, akhirnya kamu hamil juga. Maafin kata-kata ku dulu ya, aku sangat menyesal. Harusnya aku sadar untuk terus bersabar dalam menunggu anak ini,"
Galih mengelus-elus perut Nadifa lalu menciumi tangan istrinya. Tidak terasa air matanya pun turun dari kelopak mata nya yang tebal, ia menangis menahan haru karna telah di kabul kan nya doa panjang mereka selama ini.
"Iya Mas, yang dulu-dulu biarlah berlalu. Enggak usah kita bahas lagi. Sekarang yang harus kamu fikir kan hanya Aku, Gifali dan adiknya Gifali. Kita sebagai orang tau harus ekstra bekerja untuk menghidupi kebutuhan dan kehidupan mereka." ucap Nadifa lembut sambil mengelus-elus kedua pipi suaminya.
"Aku enggak mau kamu capek, sudah mengurus anak-anak, aku, rumah dan juga membantuku mencari nafkah. Toh, sekarang gaji ku sudah naik 4x lipat, sepertinya sudah cukup jika hanya aku yang bekerja,"
"Maksud kamu, Mas ?" Nadifa mengerutkan keningnya menjadi beberapa lipatan yang tidak beraturan, dirinya di buat bingung dengan pernyataan Galih barusan.
"Aku ingin kamu resign bekerja secepatnya. Hanya dirumah fokus mengurusi aku dan anak-anak kita!"
Galih menatap Nadifa serius, Ia tidak ingin Nadifa memberikan alasan apapun lagi.
Aku tunggu Jempol like dan komen kalian..serta VOTE terbaiknya.
__ADS_1
Hatur Nuhun 😘😘😘