Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Bersikap Bar-Bar


__ADS_3

Ada suara terdengar sangat jauh, namun lama kelamaan suara itu semakin dekat dan terus mendekat, tepat terdengar di kedua telinganya. Cahaya gelap yang menghiasi kini mulai menjadi kabut putih menyilang-nyilangi pandangannya.


"Mamah !


"Sayang !


"Istriku !


"Cintaku !


"Nadifaku!


"Kao Suppasaraku ! ( artis thailand kesukaan istrinya )


Rentetan panggilan yang digunakan Galih untuk membangunkan Nadifa, sambil mengoleskan bau minyak angin di lobang ke dua hidungnya.


Nadifa mulai sadar, membuka pelan-pelan kedua kelopak mata dan meletakkan tangan di dahinya, "Apa tadi yang terkahir?" Nadifa bertanya kembali dengan kalimat terkahir yang suaminya sebutkan dengan pendengaran samar.


Galih sontak kaget ketika Istrinya sudah sadar dan namun malah mempertanyakan hal yang tidak penting.


"Kao Supasarra! kesukaan kamu------Alhamdulillah kamu udah sadar sayang," Galih langsung menciumi istrinya. Nadifa pun bangun dan menyandarkan dirinya di sandaran sofa.


Dan kemudian


"Aaaaaaaaaaaaa!!" Nadifa kembali berteriak dan memukul-mukuli Galih, ingatannya seperti baru kembali pulih.


"Sstttttt----udahhh," Galih mencoba membungkam tubuh istrinya dengan pelukan paksa, Nadifa terus berontak dalam dekapan itu. Setelah teriakan berhenti, terdengarlah suara tangisan terisak seperti anak balita yang sedang menangis, merengek kepada sang ibu.


"Udah ya sayang, coba tenang dulu rileks. Aku akan jelasin pelan-pelan!" Mendengar kelembutan suaminya, Nadifa pun menurut namum tetap masih menangis.


Terlihat Dendi yang sedang berdiri disamping Alea yang sedang menduduki kursi lain sambil menenggak sebuah gelas berisi air. Galih tidak mempunyai kekuatan dalam mengurus dua wanita yang pingsan, ia tau harus menghubungi siapa.


Alea lebih dulu sadar dibandingkan Nadifa, dia terus mengucapkan kata Maaf kepada Galih, ketika melihat ada seorang wanita yang saat ini sedang pingsan seperti dirinya pula.


Dendi dan Alea terus melihati Nadifa yang sedang berontak, berteriak dan menangis dalam dekapan suaminya itu.

__ADS_1


"Bar-bar banget sih!" Kening Alea mengerut.


Tanpa bertanya dulu kepada Galih, Dendi pun memapah Alea untuk keluar dari ruangan itu. Galih seraya setuju dalam lirikan matanya. Nadifa masih menatap sinis kearah Alea, menatap tajam, mengeraskan rahang dan terdengar dengusan nafas akan menahan kemarahan.


Dan Alea, masih tidak faham akan dirinya, kenapa wanita itu bisa pingsan dan menatap sinis padanya dan Galih memanggilnya dengan sebutan Istriku. Alea langsung lemas sampai ke tulang kaki.


"Udah punya istri toh, istri Bar-bar !" Alea terbahak-bahak dalam hatinya.


"Mau ke ruang UKS enggak?" tanya Dendi ketika menurunkan Alea dikursi kerjanya.


"Enggak usah Mas-----?"


"Saya Dendi," ---- " Oh, aku Alea Mas,"


"Yakin enggak apa-apa ?"


Alea menganggukan kepala.


"Oke deh, saya tinggal ya!" Dendi pun berlalu meninggalkan Alea yang masih menoleh ke belakang menatapi pintu ruangan Galih yang masih tertutup.


"Lepas !" Nadifa mendorong tubuh suaminya sejauh 5 cm dari tubuhnya.


"Kamu salah faham Kao supasara ku,"


Benar-benar Galih, terus saja menyebutkan nama aktris kesukaan istrinya beberapa kali, dan itu berhasil membuat Nadifa agak berdecis geli.


"Diem !" Nadifa kembali menyala.


"Mama salah faham-----!"


"Beraninya kamu Pah!" Nadifa memotong ucapan itu dengan cepat.


"Makanya dengerin dulu, kamu nya tenang dulu. Percuma kalo aku jelasin, kamu nya enggak tenang," Galih menyeka air mata yang masih tertinggal dibawah mata istrinya.


Sontak Nadifa teringat dengan apa yang pernah ia lakukan dengan Malik dikantor, mereka pernah bercumbu rayu disana.

__ADS_1


"Isssssssssssss-----!" Nadifa mengeleng-gelengkan kepalanya.


"Kenapa?" Galih menangkup kepala itu agar berhenti menggeleng.


"Kamu jangan kaya gini Pah ! inget ada Gifali. Ada anak kita, umurnya aja belum genap 1 bulan, kuburan Mba Gita aja masih basah. Masa kamu tega udah main serong!" Nadifa kembali menangis terisak seperti lebih dari anak balita.


Galih mengerutkan dahinya, memiringkan dua bibirnya itu. "Lebay deh Mah, makanya jangan kebanyakan nonton film,"


"Ih Papah !" Nadifa berhenti dari tangisannya.


"Makanya tenang dulu ! aku udah bilang berkali-kali, kamu nya nangis terus," Galih mendekap istrinya kembali.


"Rileks, atur Nafas dulu!" Galih mencoba menenangkan sambil mengelus-elus punggung istrinya. "Nih, minum dulu," Galih melepaskan dekapannya, lalu membantu Nadifa untuk menegak segelas air.


Dilihat istrinya sudah tenang, ia pun mulai menceritakan kronologis kejadiannya dengan amat rinci. Terlihat beberapa kali guratan wajah Nadifa mengerut-ngerut. Entah ia percaya atau tidak.


Nadifa pun melihat sebuah CCTV yang berada dipojok belakang suaminya, bukan ia namanya kalau tidak secerdas itu.


"Aku mau liat rekaman CCTV nya!"


"Ya Allah, masih enggak percaya banget,"


"Tuhh kan, berarti bener kan kamu emang mau sayang-sayangan sama dia !"


Galih menggelengkan kepala nya, lalu beranjak bangkit menuju meja kerjanya.


"Hallo, Yud. Tolong kirimin potongan rekaman CCTV 1jam yang lalu ya, ke email saya. Oke sekarang!"


Karna merasa sedikit kesal dengan istrinya, ia pun kembali duduk di kursi kerjanya dan melanjutkan mengecek kembali beberapa dokumen, ia meninggalkan Istrinya yang masih rancau di sofa.


"Kalau sampai aku yang benar, aku makan kamu nanti malam, siap-siap aja!"


Masih ada sambungannya nih, karna hari ini, hari rabu aku akan UP 5 episode..stay tune yah❤️


Hayy kesayangan, jangan lupa LIKE dan VOTE dan tinggalkan komen kalian, thankyou❤️**

__ADS_1


__ADS_2