
Kini udara malam semakin dingin dan gelapnya malam menemani jiwa-jiwa yang akan beristirahat karena sudah menjalani aktivitas seharian.
Dikamar ini terlihat Nadifa dan Galih sudah berada di atas tempat tidur, Galih sudah terlelap dari dua jam yang lalu. Tangannya di letakan di perut Nadifa dan tertidur dipelukan istrinya yang sedang cemas saat ini, sesekali Nadifa mengelus-elus punggung Galih dan mencium rambutnya.
Mata Nadifa masih terbuka hebat menatapi Jam yang telah menunjukan pukul 01.00 malam, Ia pun kembali membuka layar HP nya dan mengecek WA kembali.
"Sudah centang dua rupanya dan sudah diread, tapi WA ku tidak dibalas."
Nadifa tidak tahu sejak kapan Malik membaca pesannya itu.
"Kamu tega, membiarkan aku hampir mati karena cemas dan tidak bisa tidur memikirkan kamu," Nadifa menghela nafasnya menahan sesak didadanya agar tidak semakin menyeruak.
Rasa kantuk pun mulai melanda, ia pun tertidur sambil memeluk suaminya itu.
Benar-benar Nadifa kamu sangat berdosa!
****
--------- Darma Group---------
Pagi ini adalah pagi yang lain dari biasanya, seperti tadi malam yang tidak indah tanpa puisi pengantar tidur yang sudah menjadi kebiasaan Nadifa dan Malik.
Nadifa begitu kehilangan, hatinya kini sangat tidak karuan ia terus berlari cepat ke arah ruangannya untuk menemui Malik, sepertinya ia yakin jika Malik sudah datang.
Semua meja karyawan masih kosong belum dihuni sang pemilik, tetapi beda dengan pemandangan yang sedang ingin sekali ia tuju.
Ternyata betul...Malik sudah datang, ia sedang menatapi layar komputernya, ia terlihat gagah dari pandangan samping.
__ADS_1
"Alhamdulillah ya allah, kamu sudah datang," Nadifa mempercepat langkahnya menuju ruangan Malik, dimana ia sudah tidak tahan untuk menumpahkan rasa penyesalannya itu.
Tanpa salam Nadifa langsung membuka pintu ruangan kaca itu.
"Kamu sakit sayang?" Nadifa langsung menghampiri dan memeluk Malik yang masih tidak memberinya respon.
"Kenapa kamu tidak membalas satu pun Wa ku, kenapa sebegitu marahnya,"
Malik tetap terpaku melihati layar komputer tanpa menjawab pertanyaan Nadifa.
Nadif pun menangis sambil terus memeluk Malik ," Maafkan aku..hiks...Aku..salah..jangan tinggalkan Aku"
Nadifa makin menangis menjadi-jadi, Malik yang sedari tadi bersikap dingin kini menjadi luluh dan iba karna sikap wanita yang dicintainya ini.
Ia melemah dalam cintanya, merubah minset nya untuk meraih Nadifa kembali.
Malik mengusap-usap rambut Nadifa.
"Aku kemarin hanya pusing sedikit, dan sedang tidak enak hati dan fikiran," kata Malik
Nadifa mengangkat wajahnya mendekat ke wajah Malik ," Maafkan aku ya, aku ingin bilang dari awal tapi aku takut kamu marah dan tidak bisa menerimanya"
"Sudahlah lupakan, jangan bahas dia disini."
"Maafkan aku, jangan begini lagi. Aku tidak bisa tidur tanpa puisi kamu,"
"Aku pun sama, tidak bisa nyenyak tidur karena belum membaca puisimu," Malik mencium pipi Nadifa dengan lembut.
__ADS_1
Perasaan Malik sepertinya sudah membaik dan mencair.
"Jika kamu tidak ingin aku menjadi panitia dalam Fam Gath ini karena satu tim bersamanya, aku bisa mengundurkan diri,"
Mendengar penuturan ini Malik sangat kaget, diluar bayangannya jika Nadifa lebih memilih dirinya dibanding Fajar.
"Tidak sayang, tetaplah menjadi panitia, aku bangga. Maafkan aku kemarin, aku terlalu terbawa suasana karena kecewa,"
"Disini..aku hanya cinta kamu," jawab Nadifa mencium balik pipi Malik sambil mengusap-usap dagu sang kekasihnya itu.
Lalu Nadifa pun kembali ke posisi berdiri melepas pelukannya dari Malik, agar tidak ada orang yang datang dan melihatnya.
Mereka Lupa ada allah yang maha melihat segala perbuatan mereka.
"Hapus air matamu, berdandalah kembali. Biar Dania tidak curiga seperti yang pernah kamu bilang kemarin,"
"Benar ya, saat ini kamu sudah tidak marah. Masih sayang kan sama aku?"
"Benar sayang," raut wajah Malik kembali memancarkan cinta, ia sangat senang ketika mendengar Nadifa rela mundur dari kepanitiaan itu untuk dirinya.
"Baiklah, aku kembali dulu ya ke meja ku," Nadifa pun pamit dan melangkah kan kakinya untuk berjalan, lalu dengan cepat tangannya ditarik oleh Malik seketika Nadifa menoleh ke belakang...
dan....ehmmmmm !!!!
Malik mencium bibir Nadifa dengan cepat, Ia rindu dengan wanita cantik ini.
Nadifa yang tak kalah rindu pun hanyut membalas ciuman itu, kali ini Malik tak kuasa. Ia meneruskan ciuman itu sampai ke bagian leher Nadifa, terus dan terus berada dalam kenikmatan yang penuh dengan setan-setan yang mengiri mereka.
__ADS_1
Entah bagaimana mereka berhenti...biarkanlah..sehabis ini mereka akan menyakiti satu sama lain.