Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Hentakan dan sesakan


__ADS_3

Dalam keheningan mereka saling bersitatap, sekitar lima menit saling diam tanpa membuka suara, tapi tetap mau tinggal dalam satu atap.


"Kenapa dengan kamu..?"


Kamu adalah suatu panggilan yang digunakan ketika Malik masih menganggap Nadifa adalah miliknya. Sontak hal itu membuat Nadifa menjadi menajamkan kedua bola matanya untuk lurus ke arah bola mata Malik.


Malik terus melihati Nadifa dengan dua tatapan berbeda. Tatapan bingung dan tatapan rindu.


"Jangan begitu melihati ku, Malik. Jangan berikan aku celah kembali untuk masuk terperanjat kedalam hati mu. Bagaimana pun kamu pernah ada di hati ini, tentu melupakan begitu saja aku pasti butuh waktu. Walau kini 80% hati ku sudah terisi kembali oleh Galih, namun aku harus tetap melenyapkan mu sampai habis!"


Rintihan Nadifa dalam sanubari hati nya yang paling dalam.


"Difa nggak apa-apa Pak. Hmm...Difa masih banyak kerjaan, Difa pamit dulu ya," Difa bangkit dengan cepat seraya tidak punya pilihan lain selain kabur, tetapi Malik tidak akan semudah itu melepas Nadifa pergi tanpa sebuah penjelasan. Ia tidak mau ada perang dingin lagi dengan wanita ini.


"Jelaskan sama aku, kenapa dengan kamu?"


Nadifa kembali kaget dengan apa yang ia dengar saat ini. Ia tetap melemparkan arah mata ke sembarang manapun asal tidak bertautan dengan dua bola mata Malik, tatapan lepas tanpa sekat.


Malik masih mencengkram lengan Nadifa menunggu jawaban yang ingin ia dengar saat ini juga.


"Lepas!" suara Nadifa acuh.


Malik pun menuruti kemauannya, mereka pun duduk kembali du kursi yang membuat mereka saling berhadapan satu sama lain.


"Kamu jangan pura-pura enggak tau! aku tau banget kamu sama bunda mau ambil Gifali dari aku, dan kehamilan ku yang sekarang kalian jadikan alasan untuk merebutnya!"


"Hah?" Malik tercengang.

__ADS_1


"Aku nggak akan membiarkan anak aku direbut begitu aja!" Nadifa memajukan wajahnya lebih dekat ke arah Malik.


"Kinanti maksudnya?"


"Iya Istri kamu!" emosi Nadifa mulai kembali naik, ingatan nya tentang kejadian itu mulai muncul.


"Demi Tuhan, kami tidak ada maksud, aku sama sekali nggak tau jika Kinanti bisa mempunyai niat seperti itu,"


"Hah? apa aku nggak salah dengar? kalian itu hidup serumah dan setempat tidur, mana mungkin istri bisa menutupi maksudnya dari sang suami tercinta!" Nadifa mulai meninggikan nada bicaranya, melakukan penekanan diakhir kalimatnya.


Malik hanya bisa menelan ludah, ia terus berfikir mengawang-ngawang apakah betul, apakah salah, apakah iya dan apakah ini hanya salah faham saja. Malik tidak punya gambaran apapun. Ia ingin membela istrinya, namun jika melihat Nadifa yang sebegini emosinya sudah tidak salah lagi memang istrinya lah yang bersalah.


Malik mengambil asupan oksigen diudara, dadanya teramat sedak dengan sikap istrinya yang begitu gegabah.


"Menjual suatu kebaikan untuk sebuah kepalsuan, menjual suatu kelapangan dada untuk sebuah misi balas dendam yang belum terwujud !" Nadifa makin memperlihatkan wajah dinginya itu.


"Difa, jaga bicara kamu ! Istri ku tidak seperti itu!" Malik terbawa emosi.


"Katakan padanya, harus nya ia berterima kasih padaku, karna hatiku, cintaku, ketulusan ku semua ku beri kepada Gifali secara gratis ! Ingat ada Galih ayah kandungnya, ia berhak atas hak asuh anak kami!"


"Difa !" suara Malik mulai meninggi namun masih dalam batas wajar.


Berbeda dengan Nadifa yang masih tersulut api emosi.


"Ck ! tolong jelaskan pada istrimu, jika ia masih ingin membalas rasa sakit hatinya karena perbuatan kita yang lalu, aku siap dengan tangan terbuka untuk menghadapinya. Sungguh kejam dan tidak bermoral jika menggunakan anak ku untuk menjadi media pemuas hasratnya !"


"Difa, sudah cukup !" Malik menghentakkan tangannya ke meja dan membentak. Nadifa seketika diam, ia terperanjat dengan sikap Malik yang tidak pernah ia temui seperti ini. Ada rasa sakit yang menggebu-gebu di balik degupan jantungnya yang membuncak kencang. Matanya terus menatap wajah Malik tak urung-urung, dengan iringan air mata yang mulai menggenang.

__ADS_1


Hati perempuan ini sangat lah lembut dan rapuh, ia kembali teringat memori bersama dengan Malik selama 7 bulan. Malik yang selama itu selalu membuat Nadifa menjadi bibidari satu-satunya di dunia ini.


"Difa?" Malik mulai sadar jika perlakuannya sangat menyakiti wanita ini.


"Dan pada akhirnya, kamu akan tetap memilih bersama istrimu, membela dia secara mati-matian walau ia salah sekalipun!"


Nadifa bangkit berlalu meninggalkan Malik dengan beberapa berkas ditangannya dan air mata yang sudah mulai turun membasahi kedua pipinya. Ia tidak akan menyangka bahwa kisah cinta mereka hanyalah bias tidak berbekas.


"Akhh..." langkah Nadifa terhenti dan mengeluh sakit dibagian perutnya, ia terlalu tegang dalam emosi nya yang begitu berkobar-kobar.


Malik dengan cepat menghampiri dan memegangi tubuhnya. "Kenapa Difa?" guratan cemas muncul dari lelaki 35 tahun ini.


"Lepas! aku tidak butuh orang munafik seperti kalian !"


"Difa ? maafkan aku.." desahan Malik dengan iringan wajah yang sendu menatap rasa penyesalan.


Nadifa menatap dingin wajah itu


"Tunggu surat resign dari ku, selamat tinggal !" Nadifa melepas kasar genggaman tangan Malik dan kembali tertatih membawa tubuhnya yang sedikit sakit untuk pergi dari sana.


Perkataan Nadifa sangat menusuk hati Malik. Ia tidak akan menyangka jika Nadifa akan sebegitu murka kepadanya. Dan apa tadi ? resign ? benarkah Nadifa akan melakukannya ?


***


**Ini udah episode ke 4 yang aku upload hari ini guys dan belum juga direview sama tim manga. Ya gapapa deh, biar kalian kaya maraton aja bacanya...


Like dan komen yaa sayang-sayang

__ADS_1


boleh vote nya kalo kalian gak keberatan


makacih🖤🖤**


__ADS_2