
Matahari sudah menyingsing naik ke peraduan, mengembalikan fungsinya yang sudah ditunggu oleh jutaan umat manusia. Semilir angin yang masuk melewati celah-celah ventilasi jendela kamar, sepertinya menyerbak hinggap di kulit Galih.
Pluggggg...
Tangannya dihentakan ke bantal sebelah, merasa tidak meraih apapun disana. Ia pun langsung membuka matanya perlahan, ia tidak melihat keberadaan istri disebelahnya. Mengingat ini sudah jam 8 pagi, Nadifa pasti sudah lebih dulu bangun.
Ia pun mengucek-ngucek kedua matanya lebih pasti, menghilangkan rasa kantuk yang sedikit masih bergelayutan dikedua matanya.
"Sayang?" panggil Galih sembari menuruni anak tangga kelantai bawah. Ia pun tidak menemukan sosok istrinya di ruang tamu, dapur, di meja makan, dikamar tamu atau disisi dalam rumah ini. Tapi sarapan pagi untuk Galih sudah tersaji dengan baik dimeja makan.
Gleg..gleggg.
Bunyi suara persatuan lidah dan tenggorokan yang terdengar ketika Galih menyeruput susu yang sudah tersedia dengan manis di samping piring yang berisikan nasi goreng dengan telur mata sapi setengah matang kesukaan dirinya.
Ketika hendak makan, ia seperti mendengar suara samar-samar yang merasuk ke dalam telinganya.
"Kaya ada suara orang lagi ngomong?"tanya nya dalam hati.
__ADS_1
"Atau jangan-jangan Nadifa lagi teleponan sama seseorang, ngumpet-ngumpet dibelakang aku?"
Entah setan apa yang kini sedang merasuk dikepala Galih. Ia terus saja berfikir macam-macam sedikit mencurigai jika ada gerak-gerik tubuh Nadifa yang tidak biasa baginya.
Karna ia sudah berjanji dalam dirinya, akan terus mengawasi langkah Nadifa agar tidak salah jalan lagi seperti dulu.
Ya begitulah, seperti ibarat paku yang sudah tertancap di dinding, memang bisa dicabut dengan mudah namun bekas lubang nya akan terus ada tidak bisa tertutup kembali. Begitu pun hati Galih yang sudah memaafkan namun tetap tidak akan bisa melupakan.
Pedih memang, tapi inilah kenyataanya !
Galih tidak pernah merasa bersalah atas kebohongannya yang sudah menikahi Gita dan menghamilinya, karna ia merasa ini bukan kemauannya, ia tidak pernah melakukan hubungan itu dengan dasar cinta. Namun semua terjadi karna suatu keterpaksaan yang ia belum sadari alasannya sampai saat ini.
"Iya sayang, apa...ci..luk..ba..hehehe," ternyata Nadifa yang tengah mengajak bicara Gifali yang tengah ia jemur diatas pahanya.
"Ohh!" Galih menurunkan ritme dadanya yang sedikit menjadi agak kencang sedari tadi. Dadanya terasa plong ketika melihat Nadifa hanya berdua dengan Gifali di teras belakang rumah.
"Sayang?" ucap Galih menghampiri Nadifa dan duduk disebelahnya.
__ADS_1
Nadifa hanya diam, tanpa menyaut memberi tatapan berarti untuk menyambut kedatangan suaminya itu.
Galih mencium pipi istrinya lalu beralih ke Gifali.
"Maafin aku tadi malam ya, aku yang salah. Enggak ngertiin kamu yang udah capek urus rumah, urus Gifali dan urus aku dan maksa kamu untuk selalu mau layani aku ditempat tidur, abis aku kangen terus bawaanya," Galih memelas, merayu dan memeluk tubuh Nadifa dari samping, meletakan kepalanya di bahu sang istri.
"Aku enggak masalah sama hal itu, itu semua udah hak kamu dan juga kewajiban aku." Nadifa diam sebentar ," Aku cuman ingin dipercaya sama kamu lagi, aku enggak pengen disetiap obrolan kita dibumbui dengan kesalahan kita masing-masing dimasa lalu, itu kan dulu. Yang dulu mah yaudah, jangan diinget-inget lagi!" Nadifa berhasil memuntahkan segala unek-unek yang ada didalam hatinya.
"Iya aku faham, maafin aku ya!" tanpa mau menimpali lebih panjang, Galih pun mengalah dulu. Tentu lawan kalah bicara dengan istri bukanlah suatu hal yang memalukan untuk suami.
"Kamu kemari mau ngmong apa, belum sempat diterusin?" tanya Galih sambil menyeka rambut Nadifa yang menutupi pandangan matanya untuk terus melihati wajah istrinya dari samping.
"Aku kan besok harus udah masuk kerja, harus ngantor lagi, aku bingung gimana sama Gifali, mau dititipin ke siapa? aku udah telepon ke yayasan baby sitter cuman mereka lagi enggak ada stok," jawab Nadifa mencemaskan keadaan Gifali besok.
"Enggak usah khawatir, selama belum ada baby sitter, aku akan masukan Gifali ke jasa penitipan anak aja, disana juga menyediakan penitipan bayi. Pagi-pagi kita antar kesana dulu, nanti pulangnya kita jemput lagi," Galih memberikan udara segar untuk Nadifa. Nadifa merasa sudah salah menerka jika masalah ini dilewatkan oleh sang suami.
"Ahhh.. aku seneng banget. Lega rasanya dada aku, Makasi ya sayang!" Nadifa mendaratkan satu kecupan di bibir suaminya.
__ADS_1
Semoga saja keputusan Galih dan Nadifa ini akan terus berjalan baik tanpa membawa petaka masuk kedalam kehidupan mereka lagi.
Berikan semangat kalian untuk Author dengan memberi LIKE, VOTE, RATING & KOMEN ya guysss❤️🖤❤️🖤💕