
Ketika dilihat Fajar sudah tidak didekat Nadifa. Malik membunyikan klakson mobilnya, yang bertujuan memberikan signal kepada Nadifa, bahwa ia berada di Mobil besar berwarna silver.
Lalu Nadifa bergerak menuju mobil yang mengklaksoni nya, membuka pintu dan duduk disamping Malik.
Dilihatnya wajah Malik yang gagah dan manis, Wajah bahagia itu menatap Nadifa. Wajah yang tidak pernah orang kantor liat sebelumnya.
Wajah yang terpancar akan kebahagiaan karna sekarang bisa bersama orang yang ia sukai.
Wajah yang membuat Nadifa tersipu malu serasa tidak percaya, sekarang ia bersama berdua dengan Malik.
Malik bergerak mendekat ke arah tubuh dan wajah Nadifa. Nadifa seketika merasakan dadanya berdegup kencang dengan nafas tersengal-sengal. Ia takut dengan apa yang ingin dilakukan Malik.
"Pakai pengamannya dulu," lalu Malik menarik seat belt yang ada disebelah kiri Nadifa memakaianya dengan rapih ditubuh Nadifa. dada yang dirasakannya cukup berdetak kencang pun terhenti seketika.
"Duh baik banget dia, sampai dipakein segala. sungguh istrinya beruntung mendapatkan dia yang seperhatian begini," ucap Nadifa memuji Malik tetap dalam hatinya.
"Siap ya, kita jalan," ujar Malik sambil mengemudi, sembari melepas dasi yang ada dilehernya.
"Kok dilepas Pak?" tanya Nadifa.
__ADS_1
"Ya masa mau makan dipinggir jalan, pake dasi," Malik tertawa.
Lagi dan lagi mereka hanyut dalam tatapan cinta. Sibuk melihati diri masing-masing. sesekali Malik berdendang sambil mengemudi, Nadifa tetap duduk manis melihat kedepan jalan dengan gaya duduk yang masih kaku belum biasa.
"Pak Malik sering makan disana?"
"Enggak," Malik tersenyum.
"Ohh,baiklah,"
"Kata temen-temen kantor, es teller disini enak makanya saya ajak Nadifa kesini,"
"Ya kalau ramai, enggak usah turun yah. tidak jadi," jawab Malik masih santai.
Nadifa takut dirinya terlihat dengan yang dikenalnya pergi dan makan berdua bersama Malik yang bukan suaminya.
"Nadifa, sudah berapa lama menikah,"
"hampir 5 tahun Pak, kalau pak Malik," Nadifa bertanya balik.
__ADS_1
"Saya nikahnya telat hehehe...lalu saya dijodohkan oleh orang tua kami," Malik menjelaskan, Nadifa antusias terus mendengarkan.
"Mau telat atau tidak, kan sekarang sudah menikah dan mempunyai anak yah pak. Nadifa bahagia kalo liat foto wa nya pak Malik.
Malik tiba tiba batuk tersedak mendengar kalimat yang baru dilontarkan oleh Nadifa.
Entah benar perkataan Nadifa itu, benarkah ia merasa senang atau cemburu.
"Nadifa juga mesra sama suaminya ya, kalau dari foto profilnya," Malik mengimbangi.
Nadifa lalu terpaku diam, mengingat foto apa yang sedang ia pakai di profil wa nya.
Malik tetap menutupi dirinya yang dilanda tidak enak hati. Seketika suasana mereka berdua pun hening dan diam sejenak. Malik tetap mengemudi, dan Nadifa mengambil perhatian untuk sibuk melihati sisi kiri jalan.
Kini Mobil mereka terparkir baik disebuah tenda penjual es teller. Tenda yang tidak begitu luas hanya berisikan 6 meja dan 6 bangku.
Nadifa tidak mau turun, ia masih melihat ke kanan dan ke kiri serta ke dalam tenda. apakah ada orang yang mengenal dia dan Malik.
"Tidak ada siapa siapa, tenanglah," Malik meyakinkan dan melepas seat belt nya. Nadifa pun melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Mereka pun berjalan menuju tenda, Nadifa langsung duduk di meja paling belakang dan Malik mengikutinya.