Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Galih Khawatir


__ADS_3

Tak lama kemudian notifikasi pesan wa masuk. Malik antusias membukanya. seketika wajahnya berubah biasa ketika melihat WA yang masuk bukan dari Nadifa.


Nadifa terus melihati kertas yang keluar dari printer kantor. ia urutkan sehingga menjadi file dokumen.


"Alhamdulillah selesai juga, pundak ku pegel banget nih," Nadifa menggerak gerakan kepala serta pundaknya kekiri dan ke kanan, tetapi ia belum tertarik membuka HP nya, mungkin juga ia tidak terlalu mendengar ada wa masuk.


Di salon. Malik tetap stay cool membaca majalah tetapi hatinya masih berdetak detak kencang menunggu jawaban WA sang pujaan hati. Ia takut, Nadifa menanggapinya hanya biasa saja.


Setelah file dokumen sudah rapih. Nadifa mematikan komputer dan mencabut flasdhis nya dari CPU. Membereskan meja kerja dan mengayunkan tas di pundak sebelah kanan. sambil berjalan menuju lift untuk turun ke loby kantor ia membuka aplikasi wa nya.


Terlihat ada pesan masuk dari nomor yang belum dia save. Nadifa membacanya penuh senang.


"Wah Pak Malik wa aku," Nadifa antusias secepat kilat membalas pesan nya.


Bep..Bep..Bepp..


Notifikasi WA Malik berbunyi.


"Waalaikumsallam Nadifa save ya Pak,"

__ADS_1


Malik tersenyum senang, sang pujaan hati membalas pesannya.


"Masih dikantor Dif? pulanglah jangan sampai malam disana,"


"Iya Pak baik, tugas Nadifa sudah selesai sekarang lagi menuju kebawah sambil minum susu kotak strawberry," balasnya lagi.


"Malik mengirimi tanda emotion 😁😁😁,"


"Makasi ya Pak susunya, ini jadi dopping lembur," balas Nadifa lagi.


"Sama-sama, kamu hati-hati yaa dijalan lalu kabari saya kalau sudah sampai rumah," balas Malik.


kedua insan ini sepertinya tau kalau mereka saling bersautan akan cinta yang baru tumbuh.


****


Galih masih berada di meja kantor bersama dendi bawahanya. Mendiskusikan beberapa vendor yang ingin ia batalkan. Tetapi suasana hatinya masih tidak baik, ia tetap masih memikirkan Gita. Bukan karena cinta melainkan karna rasa kasihan yang amat sangat.


"Den," Galih memangil Dendi. Dendi menoleh

__ADS_1


"Iya Pak, kenapa ?"


"Lamar lah Gita, Den, ambil hatinya. Jadikan dia istrimu," ucap Galih.


"Saya udah capek Pak mengejar dia. sudah 3x ditolak dan ditampar pun sudah,"


"Gita wanita yang baik, tunjukan keseriusanmu lebih lagi. Aku yakin dia pasti akan nerima kamu." Dendi diam terpaku.


Dirinya merasa sudah letih, tidak ada daya untuk mengejar Gita kembali. Dendi pun tau yang hanya dicintai Gita hanyalah Galih, tanpa Galih mengehtaui apa yang diketahui oleh Dendi.


Galih kembali terdiam, dan mengambil hp yang ada disaku bajunya. Ia menelpon Gita.


Gita tidak mengankat telepon cepat seperti biasanya.


"Mungkin dia lagi istirahat," gumamnya mantap. Lain hal disana, Gita masih menangis sejadi jadinya. Matanya sembab, hidungnya tersumbat dan badanya mulai demam tinggi serta sayatan hati yang baru terjadi.


"Aku benci kamu Galih---!" Gita lemas memeluk guling tangannya tetap memegang hp yang sedari tadi menunggu kabar dari Galih, tetapi setelah ada telepon masuk, ia tidak mengangkatnya. Ia ingin membuat Galih jadi khawatir memikirkan dirinya.


Nadifa sudah sampai dirumah. Ia bergegas masuk kedalam kamar mengganti pakaian kantornya dengan daster batik stelan atasan celana panjang.

__ADS_1


Menaruh tas yang disangkutkan didinding dan berjalan turun menuju dapur. Membuka kulkas dan menyiapkan sayur dan ikan untuk dimasak nya sebagai makan malam bersama Galih, suaminya.


__ADS_2