Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Pecah Duniaku


__ADS_3

Malam ini Malik gusar dalam tidurnya, membolak-balikan tubuhnya kesana kemari, ia terus melihati arah jarum jam yang sedang berhenti di angka 02.00.


Bola matanya bergerak-gerak terus menatap sudut kamar, ia secepatnya ingin hari senin, ingin bertemu dengan Nadifa.


Meraih HP nya yang ada di nakas tempat tidur, melihati kontak WA Nadifa dan ingin sekali berucap walau hanya dengan kata HALLO.


"Kenapa jadi begini ya!" batin Malik memaki.


Malik terus menatapi malam tanpa pejaman mata sampai pagi..mungkin di hari Minggu besok ia akan memilih untuk tidur seharian dari pada terus memikirkan kata putus dari Nadifa.


*****


"Aku berangkat!" ucap Galih tanpa mencium kening Nadifa, setelah menghabiskan sarapannya ia pamit untuk pergi ke kantor dengan celana jeans dan kemeja biasa, mengingat hari ini adalah hari Minggu maka ia masuk hanya akan memantau jalanya persiapan stock opname yang akan dilaporkan dalam rapat besar di hari Senin.


Galih, Gita, Dendi dan karyawan lain yang bersangkutan pun turut hadir ke kantor di hari Week End ini.


Nadifa masih termenung di meja makan, ia tahu Galih masih kecewa padanya tentang Hal kemarin, Nadifa merasa kini Galih sedikit berubah lebih cepat emosi dari pada biasanya.


Nadifa mempunyai ide untuk membuat hati suaminya ini baik kembali.


"Aku mau bawain cemilan ah buat Galih, sama teman-temannya, dia pasti suka aku ke kantor," garis senyum Nadifa terlihat jelas.


Ia pun mulai mempersiapkan segala bahan-bahan yang akan ia bawa sebelum jam makam siang.


Disisi lain hatinya juga masih memikirkan Malik yang sudah kepalang basah menyakiti hatinya, membuatnya cemburu dan tidak mau menghargai perasannya.


Namun dilubuk hati yang paling dalam, ia mengakui bahwa hal yang dilakukan Malik adalah hal yang memang wajar untuk dilakukan.

__ADS_1


Bermesraan dengan keluarga Sah mereka.


******


"Aku kangen kamu sayang," Gita bermanja-manja dilengan Galih. Galih pun melepas tubuh Gita dengan cepat, ia takut jika ada karyawan yang melihatnya.


"Jangan begini, nanti kalau ada yang lihat bisa bahaya Git!"


"Malam ini menginap dirumah ya, temenin aku kalo lagi mual dan muntah malam-malam," lirih Gita.


"Enggak bisa dong, aku harus tetap pulang kerumah ku kan ada istriku disana,"


Gita melepaskan tangannya dari lengan Galih, ia mengerang dan marah.


"Aku juga istrimu!"


"Iya, Maaf," Galih kembali menatap layar komputernya.


Karena kesal di acuhkan, Gita pun bangkit melangkah kan kakinya untuk pergi, ia harap Galih memanggilnya atau menarik lengannya.


Nyatanya sudah 5 langkah kakinya berayun, Galih tetap tidak bergeming apa-apa, ia seperti membiarkan Gita pergi begitu saja.


Itu memang mau nya !


"Aduhhhh..duhh...!" Gita merundukan tubuhnya ke bawah sambil memegang perutnya.


Galih terpedaya lagi dengan akting sang monster.

__ADS_1


"Kamu kenapa Git?" Galih dengan cepat memegang tubuh Gita yang sedang mengaduh kesakitan.


"Sakit Lih, perut aku,"


"Makanya jangan marah-marah terus!" Galih mengusap-usap lembut perut Gita.


"Aku cuman pengen diperhatiin kamu, Lih." cicit Gita manja.


"Iya tapi kan enggak di sini, Git! Tolong dong aku udah nikah, apa kata orang kalau mereka lihat kita seperti ini." ucap Galih memohon.


"Tapi aku kan juga Istri kamu, Lih! Lagi mengandung Anak kamu!" Gita semakin berlegak kencang.


Dan tak berapa lama kemudian


Brug.


Terdengar suara tas terjerembab jatuh ke atas lantai. Galih dan Gita, bersamaan menoleh ke arah sumber suara, tepat persis dihadapannya.


Deg.


Galih terperanjat histeris, serta wanita yang baru saja ia nikahi sirih itu, menutup mulut dengan kedua telapak tangannya.


Ada Nadifa yang tengah berdiri diambang pintu, melihati aksi mereka sejak dua menit yang lalu. Sangat membekas ditelinganya dengan kalimat terkahir yang Gita ucapkan.


Netra gelap Nadifa terlihat berkobar-kobar dengan sulutan api kemarahan, tidak menyangka jika suami yang selalu mengucap cinta sedang merangkul wanita lain yang telah mengaku menjadi istri keduanya.


Menatap lurus Galih dengan segala kebisuannya, lalu berotasi menatap Gita dan akhirnya memutar turun ke bagian perut Gita.

__ADS_1


__ADS_2