
Selamat berbuka puasa ya, untuk para pembaca kesayanganku..keep readππ€ππ€
***
Galih terus menggenggam tangan Nadifa dibangku taman Rumah Sakit. Mereka saling merangkul satu sama lain. Melepas semua penat dan lelah akan masalah-masalah yang datang silih berganti.
Nadifa pun sepertinya menyerah dengan perhelatan batin yang ia buat sendiri, ia masih butuh sosok Galih disampingnya, bagaimana pun Galih adalah suami sah nya. Suami yang tetap menerima kondisinya apa adanya.
Terbukti bahwa Galih sangat berlapang dada untuk menerima segala penghianatan yang telah dilakukan oleh istrinya. Dahulu Ia pernah berkata, jika istrinya ketahuan berselingkuh maka ia tidak akan segan-segan untuk membunuhnya, nyatanya itu semua tidak ia lakukan.
"Maafin aku ya, Mas. Kemarin aku udah nampar kamu, aku khilaf!" Ucapnya memohon ampunan.
Galih terus melihati istrinya dengan tatapan cinta,"Hanya mengenai tamparan saja?" Galih berbalik untuk bertanya.
"Maksudnya?" jawab Nadifa tidak faham.
"Bagaimana dengan kesalahanmu pergi dari rumah berbulan-bulan !"
"Meninggalkan suamimu !"
"Meninggalkan aku !"
"Meninggalkan kewajibanmu sebagai seorang istri !"
__ADS_1
Nadifa diam tidak bisa berkutik, ia merasa seperti anak itik yang sudah terhimpit oleh jeratan mata pemangsa.
Bagaimanapun Nadifa mengelak, tetap saja ia salah !
"Aku tau sebagai suami, belum bisa memberikan contoh yang baik bagimu!"
"Aku sebagai suami sudah menyakitimu dengan perkataanku !"
"Namun aku hanyalah suami yang tidak luput dari kesalahan, melakukan banyak kehilafan..oleh karna itu!" Galih meraih tangan Nadifa lalu diletakan di atas paha celananya.
"Aku butuh kamu sebagai sandaran, kalau aku lupa maka kamu bisa mengingatkan, sebagaimana aku juga akan mengingatkan kamu, kalau kamu lupa!" Galih menciumi tangan istrinya itu berulang kali.
"Apapun kamu, bagaimana kehilafan yang telah kamu lalukan dimasa itu, kamu tetap adalah jodoh terbaik yang diberikan oleh Allah kepadaku, yang harus aku jaga dan aku didik. Begitupun aku sebaliknya kepada kamu,"
Nadifa terenyuh, wajahnya begitu memelas dan merintih mendengar ketulusan hati suaminya. Ia tidak percaya Galih akan sebijaksana itu dalam menghadapi masalah mereka.
Ia pun menjatuhkan dirinya ke rumput taman, berjongkok lebih merendah, memegang kedua kaki suaminya dan menenggelamkan wajahnya diatas paha celana Galih. Ia menangis sejadi-jadinya disana. Galih pun meraih tubuh itu, mendekapnya dengan tangan terbuka, diciumi nya garis pertengahan rambut Nadifa yang begitu licin dan wangi.
"Aku akan menceraikan Gita, sehabis ia melahirkan, karna aku tidak bisa hidup dengan wanita yang tidak sama sekali ku cintai," Galih menegaskan ucapan itu.
Nadifa terus menangis tiada henti, ia merasa seperti bidadari yang sangat berharga dimata suaminya, ia tetap menjadi pilihan dibalik kesalahan yang pernah ia lakukan dan kekurangan yang ia miliki.
"Gita harus bisa menemukan cinta sejatinya, cinta yang benar-benar menginginkan dirinya,"
__ADS_1
Batin Galih menggema sambil menatap langit yang mulai membiru karna sore sudah mulai datang menggantikan siang.
Orang yang lalu lalang pun menjadi saksi atas ke romantisan yang kini mereka lakukan, tanpa mengenal malu.
"Aku ingin kamu pulang kerumah, rumah itu adalah istana kita, istana tidak akan lengkap jika tidak ada ratunya," Galih mengangkat wajah Nadifa agar menatapnya lebih jelas.
Galih mencium kedua mata Nadifa yang terus mengeluarkan air mata.
"Kenapa kamu keliatan lebih cantik sekarang?
Galih mengangkat dagu Nadifa, melihati wajah, rambut dan penampilan Nadifa yang telah berubah.
"Jadi kemarin itu aku enggak cantik?"
"Oh enggak, kemarin itu kamu tetap cantik,"
"Jadi kemarin, kemarinya lagi aku engga cantik?" Nadifa merungut kesal, menghentikan isak tangisnya.
"Enggak..eh cantik kok, cantik banget!" jawab Galih meledek sambil mencubit pipi Nadifa.
"Iiiihhh tuh kan..!" Nadifa memukul-mukul dada Galih dengan tekanan kecil. Bersikap Manja kembali seperti anak balita.
"Aduh ! tuh kan, baru aja baikan udah ngambek," Galih menciumi kembali pipi Nadifa dan merangkulnya.
__ADS_1
Kebersamaan akan terasa lebih bermakna ketika kita pernah merasakan kehilangan.