
"Maaf Lih, gue enggak bisa bantu!"
Tutttt....!!
Sambungan telepon diputus secara sepihak oleh Fajar. Ia terdiam agak lama, menatap Nadifa yang tengah asyik bersenda gurau bersama Dania.
Kini mereka tengah makan siang di salah satu restauran lesehan ala sunda, dimana suasananya sangat menenangkan hati karna diiringi langsung dengan pemandangan alam percikan air mancur buatan dan alunan musik suling bambu.
Membuat hati siapapun yang sedang terluka pasti akan sedikit tenang dan terobati.
"Siapa Jar ?" tanya Dania kepada Fajar yang sudah sampai di pandangan mereka lagi.
Fajar sambil menatap Nadifa yang tengah menyeruput Es kelapa," Itu Mba, rekanan,"
"Ohh," Dania mengangguk dan mereka pun mulai berbincang-bincang lagi.
__ADS_1
"Sudah kenyang semua?" Malik kembali ke saung setelah melakukan pembayaran di kasir.
Mereka bertiga mengangguk lalu turun dari saung untuk pergi berlalu meninggalkan tempat itu karna jam istirahat makan siang sudah mau habis.
Malik tetap berada dikemudi dan ditemani Fajar disebelahnya serta Nadifa duduk bersama Dania dikursi penumpang belakang.
"Makasi ya Pak, udah mau ajakin kita kesini," ucap Dania tertawa senang, karna baru kali ini selama bekerja ia ditraktir oleh atasannya itu.
Fajar menoleh dengan senyum ke pada Malik, Malik pun senyum melihati Nadifa dari spion dalam yang sedang berbalik senyum juga kepada dirinya.
"Yang penting Nadifa mau makan ya, liat tuh badannya makin kurus gitu kaya cacing," Fajar meledek Nadifa, agar canda tawanya kembali lagi riang.
Mereka yang ada didalam mobil pun kembali tertawa dalam suasana bahagia.
Mengingat sudah satu Minggu Nadifa meninggalkan rumah, Galih dan semua masalah yang membelenggunya. Mencoba untuk menghilangkan sementara jejaknya dari Galih.
__ADS_1
Nadifa ingin melupakan sebentar ucapan-ucapan Galih yang sangat menyiksa dirinya karna ucapan itulah yang membuat Nadifa merasa dirinya rendah dan sangat tidak berarti.
Mereka sekuat tenaga harus menutupi keberadaan Nadifa agar tidak dulu bertemu dengan Galih, berkali-kali Galih menyambangi kantor DG tapi hasilnya nihil, ia tidak bertemu dengan Nadifa, dan disamping itu ia sudah dilaporkan menjadi tamu yang patut diwaspadai karena pemukulan yang dilakukan olehnya kepada Malik beberapa waktu yang lalu.
Gita dan Galih selalu bergantian menghubungi Nadifa lewat HP, WA atau Medsos, Namun hasilnya nihil. Mereka tidak mendapatkan jawaban apa-apa dari Nadifa.
Sudah satu minggu ini Nadifa tinggal sendiri di kosan yang tidak begitu luas namun cukup untuk menampung dirinya, hanya bermodalkan gaji yang ia miliki, Nadifa pun menggunakan itu semua untuk menghidupi dirinya kini.
Ia harus bisa hidup sesederhana mungkin agar terus dapat melangsungkan hidupnya tanpa Galih. Tempat Kos Nadifa terletak dibelakang kantor DG yang bisa disusuri beberapa langkah saja untuk bisa sampai kesana.
Dania, Fajar dan Malik tetap setia menemani wanita ini untuk bisa keluar dari masa-masa sulitnya, mereka selalu memberikan alternatif pilihan untuk menyelesaikan masalah ini namun Nadifa selalu hanya diam dan menangis.
Galih memang tidak akan pernah menceraikan Nadifa sampai kapanpun dan bagaimanapun keadaanya. Galih masih amat mencintainya, beberapa kali meminta Fajar untuk membantu namun Fajar selalu bungkam.
Nadifa merasa ini adalah waktu yang tepat untuk membayar penyesalannya yang telah berani menghianati Galih, dengan cara melepas Galih untuk bisa Hidup bersama Gita dan anak mereka yang akan lahir kelak.
__ADS_1
Nadifa tidak ingin hidupnya menjadi setungguk parasit yang hidup melingkar ditengah keluarga mereka.
Nadifa sampai saat ini masih belum mau bersitatap muka dengan Galih, Ia tidak mau Galih berharap lagi dengan pernikahan mereka.