
Yuk ah lanjut..Keep reading guys🖤
***
Entah mengapa Nadifa terlihat sexy sekali, walau perutnya belum membuncit tetapi beberapa imbuhan lemak sepertinya sudah menggapai dibeberapa lekuk tubuhnya.
Beberapa kali Galih menelan ludah nya jauh sampai ke dalam kerongkongan. Ia begitu menegang dihadang hasrat yang sudah tidak tertahankan lagi.
Dibaringkan tubuh sang istri dengan sangat lembut di bawah perangai nya. Ia terus memberikan kecupan hangat dari telinga sampai menjejang turun ke bawah. Membuang rasa takut yang masih ada di wajah Nadifa.
"Jangan takut, nggak apa-apa. Kamu juga butuh ini," bisikan Galih sangat sensual ditelinga sang istri, membuat ia merinding karna hembusan nafas yang bersamaan mengiring keluar.
Ucapan itu seperti angin segar kepercayaan bagi Nadifa, memang betul apa kata Galih. Istrinya butuh olahraga ini, untuk menghilangkan stress dibenak nya.
Nadifa mengikuti irama tubuhnya, ia mengecup bibir suaminya tanpa aba-aba, Galih hanya merasakan permainan lembut antara hantaman para lidah dan gigi mereka yang saling berpagut. Hormon kehamilan memang menjadi pemicu Nadifa untuk bersikap ekstrim lebih dari biasanya.
Galih yang hanya ingin merasakan, sontak mengimbangi permainan itu menjadi panas dan kasar. Membuat rintihan kecil berkumandang di dalam kamar yang sudah gelap tidak bercahaya.
Jari jemarinya bebas melukis apapun dilekukan tubuh istrinya, membuat Nadifa bergeliat, memuncak dan melekuk tanpa arah.
Galih terus memberikan pemanasan cukup tinggi, berkali-kali mendengar sang istri mengeluh dengan syahdu. Membuat ia menjadi semangat untuk memainkan sinar gitar nya.
"Mas?" suara Nadifa merana sexy.
"Hemm.."
Galih terus mengikuti irama tubuhnya, permainannya sudah sangat dihafali oleh sang istri.
__ADS_1
Galih mengangkat kepala melihati wajah sang istri seraya memberi kode, bahwa hentakan akan dimulai.
Nadifa mengangguk mantap. Ia terus menggenggam tangan suaminya. Kembali merintih ketika satu persatu hentakan telah disandarkan beriringan.
Galih sepertinya hilang kendali, ia begitu terbuai dengan pemuasan rindu yang sudah tertahan lama. Sampai ia tidak tersadar bahwa Nadifa sudah merintih kesakitan.
"Mas, perut aku keram!"
Galih seperti tidak perduli, ia terus saja mengikuti insting tubuhnya agar tersalurkan dengan baik.
"Mas, berhenti perut aku sakit!" Nadifa meremas punggung sang suami.
Disaat intinya akan mendekati sasaran untuk berbuih, ia harus rela melepaskan dengan ikhlas karna pemberontakan dari tubuh sang istri.
"Kenapa sayang..?" Galih bangkit dan menenangkan hati Nadifa.
Dirinya bangkit untuk menyalahkan lampu kamar. Menarik selimut untuk menutupi tubuh indah sang istri.
"Aku ambilin dulu kamu minum ya," Galih pergi ke luar kamar menuju dapur.
Nadifa mengangguk terus memegangi perutnya. Galih melangkah dengan perasaan amat bersalah, ia menyesal mengapa tidak bersabar sedikit saja untuk menahan keinginannya.
Ia jadi teringat perkataan dokter yang terus berulang-ulang menyadap fikirannya, gemuruh kencang meletup-letup di dadanya. Seharusnya ia tidak egois untuk membantah nasihat dokter.
Ia pun teringat nasihat Malik beberapa tempo lalu, bayangkan saja jika Nadifa kembali masuk Rumah Sakit hanya karna perkara seperti ini, sontak akan membuat ia dihujat habis-habisan karna menjadi suami yang tidak bisa siaga dalam menjaga sang istri.
Ia pun kembali membawa segelas air hangat untuk sang istri yang masih tergoler lemas diranjang.
__ADS_1
"Minum dulu sayang.." suara Galih sedikit parau diiringi degupan jantung yang tidak urung padam. Ia membantu sang istri untuk menenggak air hangat untuk membuatnya relax.
"Kayanya dedek bayi nggak mau ditengok dulu nih, maafin Papah ya Nak," Galih mengusap-usap perut datar sang istri.
"Maafin aku ya.." ia mengucapkan kembali khusus untuk Nadifa.
"Iya sayang nggak apa-apa, ini jadi ilmu buat kita yang masih awam," Nadifa menguatkan hati sang suami untuk tetap bertegar hati.
"Masih sakit nggak sekarang?"
Nadifa diam sebentar untuk merasakan lebih dalam bagaimana kondisi perutnya saat ini.
"Kok langsung hilang ya Pah keram nya?" wajah Nadifa kembali senang.
"Alhamdulillah.." Galih bernafas lega. Lalu ia menyibakkan selimut untuk mengecek takut-takut ada darah yang mengalir keluar seperti dulu.
"Oh Alhamdulillah, nggak ada darah," Galih bertambah lega.
"Ayo pakai baju mu lagi, aku bantu."
Galih dengan senantiasa membantu istrinya berpakaian. Ia tidak lagi menuntut atas apa yang ingin ia maui. Anak dan istrinya nomor satu saat ini. Biarlah ia akan menahan pusing sampai esok pagi, atau kembali mungkin akan berlama-lama keramas di kamar mandi.
***
Maafin kalo ada tulisan yang gak enak dibaca, aku agak meriang. Sedikit nggak enak body. Tapi tetep pengen lanjutin cerita yang udah kalian tungguin.
Like dan Vote ya..boleh tinggalin komen kalian...lancar ibadah puasanya guys🖤
__ADS_1