Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Gundah Gulana


__ADS_3

Malik masih terbawa arus perasaan sedih semenjak keputusan Nadifa sore tadi. Ia terus menatapi kolam ikan didekat taman belakang rumahnya, duduk berdiam diri terus memegangi HP menunggu-nunggu pesan masuk dari Nadifa.


Malam ini jadi berubah, jadi berbeda! karena Malik tidak boleh mengirim puisi dahulu sebelum Nadifa memberi aba-aba bahwa dirinya sudah aman.


Yang biasanya bebas mengirim pesan cinta, bertemu dengan bahagia, merangkul dan memeluk dalam perjalanan pulang kerja sudah akan jarang untuk ditiadakan lagi atau mungkin ini adalah awal untuk memutus semua itu.


"Sudah jam 9 malam, tapi dia belum mengirimiku pesan," Kata Malik dalam hatinya. Ia menghembuskan nafas dalam dadanya yang saat ini cemas dan gelisah.


Malam ini adalah awal malam terberat untuk mereka berdua.


Bepp..Bepp..Bepp..!!


Notifikasi WA berbunyi, ia langsung membuka cepat siapa yang mengirimi ia pesan, hatinya pun langsung lega dan rasa di dada nya tidak seberat tadi.


Nadifa :


***Kamu lagi apa ?sudah makan belum?***


Malik :


***Aku tidak nafsu makan, memikirkan mu, menunggui pesan darimu***


Nadifa :

__ADS_1


***Maafkan aku, tadi HP ku dipinjam suami. sekarang aku lagi di kamar mandi, makanya bisa mengabarimu***


Malik :


***Aku sangat rindu kamu****


Terdengar suara Galih memanggil dari tempat tidurnya," Sayang...lama sekali di kamar mandi?"


Nadifa :


***Aku juga rindu sekali sayang, sekarang kamu tidur ya, jangan fikir macam-macam, besok kita bertemu. Jangan balas pesan ini ya***


Kemudian dengan cepat Nadifa meng end chat semua percakapan itu dan mulai mematikan data seluler HP nya, lalu menyalahkan air di wastafel sebentar agar Galih tidak curiga dengan apa yang ia lakukan kini didalam kamar mandi.


Nadifa memasukan HP kedalam celana dasternya tanpa sepengetahuan suaminya.


"Aku cuci muka sayang, bersih-bersih,"


"Hemmm," Galih tetap menatap Ipadnya.


Nadifa mulai naik ke tempat tidur dan menyelimuti dirinya dengan selimut, masih mengantungi HP nya didalam saku celana.


"Tadi siang makan dimana ?" tanya Galih santai

__ADS_1


Pertanyaan itu membuat Nadifa kembali membuka matanya dengan cepat.


"Pak Laode lihat kamu sedang makan siang bersama teman lelaki katanya,"


Galih pun menoleh melihati wajah istrinya dengan serius, ia menghentikan tatapan dari Ipad nya.


"Oh tadi siang, memang aku makan siang bersama Mas Fajar sehabis kita letih berbelanja kaos untuk kostum Fam Gath, karena sopir kami izin untuk makan dimobil makanya kita terlihat seperti hanya berdua,"


"Hemmm," Galih kembali menatap layar Ipadnya, entah ia percaya atau tidak.


"Mas," panggil Nadifa memegang dagu Galih untuk melihat dirinya.


"Untuk setelah ini, aku tidak suka istriku makan siang dengan lawan jenis tanpa sepengetahuan ku, kamu tau aku tidak menyukai itu!" Galih terus menatap Nadifa dengan serius tanpa canda.


Nadifa mengangguk tanda faham, ia terus memandangi Galih yang semakin kesini semakin berubah, cepat marah tidak santai, selalu mengetahui apa pun yang dirinya lakukan.


Semua perlakuan Galih ini semakin membuat Nadifa takut, ia ingat ucapan Galih jika mengetahui istrinya berselingkuh.


"Aku akan dibunuhnya..dan Malik pun akan ikut dihabisi nya..ahhhhhh...tidak..tidak..!" Nadifa menggeleng-gelengkan kepala spontan.


"Kamu kenapa ?" tanya Galih melihati sikap istrinya yang tiba-tiba seperti itu.


"Hah! oh..tidak sayang, sudah ah aku ngantuk mau tidur," Nadifa kemudian memilih memejamkan matanya dan melupakan bayangan menyeramkan itu.

__ADS_1


__ADS_2