
Nadifa masih memainkan Hpnya, ia merasa kikuk berdua dengan Malik sedekat ini. Entah mau memulai pembicaraan dari mana lagi. Malik tetap melihati Nadifa dengan senyum.
"Ohiya, Nadif kenal sama Fajar ?"tanya Malik ingin mendengar penjelasan yang ia lihat barusan di tempat parkir.
"oh mas fajar itu. Belum terlalu kenal si pak, kita itu berkenalan waktu nadifa sarapan lontong sayur disamping kantor. Kebetulan makannya sebelahan, dan dia bayarin Nadif,a"
"Ohh begitu," Malik mengangguk.
"Terus waktu mau bilang makasi, Nadifa lupa namanya dan diruang apa kerjanya, alhamdulillah tadi ketemu dan baru teringat," Nadifa menjelaskan lagi.
"Setelah ini jangan terlalu dekat sama dia ya .." Malik menjawab. Nadifa kaget dan bingung sambil menahan geli tawa.
"Memangnya kenapa Pak, kan kita hanya berteman," Nadifa meledek Malik.
"Saya saja yang dekat denganmu, yang lain tidak boleh," Malik memberikan raut wajah manis kepada Nadifa. Lalu dengan reflex Nadida memukul mukul bagian pundak Malik dengan tekanan kecil.
Ketika mereka tertawa dalam rasa cinta yang ada, pesanan mereka pun datang. Dua buah mangkuk es teller dan roti bakar keju cokelat.
__ADS_1
"Beneran enak ya Pak, es teller disini," kata Nadifa sambil terus menyeruput es teller nya.
"Enak kan, makanya saya datang kesini ajak kamu untuk membuktikan kebenarannya kan saya juga baru pertama kali coba..hahaha," Malik tertawa lepas.
Nadifa menoleh ke wajah Malik dan mendapati cuatan coklat yang keluar dari roti bakar yang berada disudut bibir Malik.
Nadifa mengambil tisu dan mengelapnya dengan ragu ragu. Seketika tangannya digenggam oleh Malik, Mata mereka saling bertatapan.
"Elap lah," perintah Malik, dengan mantap Nadifa mengelap sudut bibir Malik dengan tissu nya.
Malik dan Nadifa terus menikmati kebersamaan mereka, tidak ada yang indah selagi berdua. Mereka ingin kebersamaan ini tidak ada waktu pemutusnya, ingin terus bersama mengeluarkan penat hidup yang mengiringi langkah mereka.
"Mie goreng kamu waktu itu enak sekali," Malik kembali membuka obrolan.
"Isyarat ini yah, biar dibuatkan lagi ?" tanya Nadifa senyum meledek. Dimana pada saat itu dia rela mencari sarapan keluar untuk mengganti bekal sarapan yang ia berikan untuk Malik tanpa sengaja.
"Iya yang banyak yah," Ucap Malik tertawa.
__ADS_1
Lelaki 35tahun ini rasanya sangat rindu akan masakan rumah oleh seorang istri karena jelas dirumah ia lebih banyak pesan makan diluar jika Kinanti pulang telat karna jadwal siaran yang cukup padat.
"Kalau malam sebelum tidur saya Wa apakah boleh ?" tanya Malik.
"Boleh kok enggak apa-apa," jawab Nadifa. Ia merasa dirinya akan aman karna Galih tidak pernah menggeledah isi HP nya.
Malik pun tersenyum indah memancarkan kedua lesung pipit yang berada dikanan dan kiri pipinya, yah. ia senang mendapatkan Angin segar.
1 jam berada ditenda untuk makan siang, kini mereka beranjak untuk pulang.
Malik terlebih dahulu bangkit untuk membayar ke kasir, diikuti oleh Nadifa dari belakang.
Pembayaran pun selesai dilakukan, dengan menggerakan langkah kaki, Malik menggenggam tangan Nadifa menuju keluar tenda.
Nadifa kaget dan terpana melihat tangannya digenggam menuju mobil. Malik terus menggenggam nya tanpa rasa canggung.
K**ini Malik melepas sudah apa yang ia mau didalam hatinya, ia tak perlu menyatakan perasaan suka nya kepada nadif dan tidak perlu menanyakan perasaan Nadif kepadanya. Mereka sudah sama-sama tau mereka saling menyukai satu sama lain, mereka bukan lah pasangan Anak SMA yang harus ada proses menyatakan cinta dan menembak dengan kalimat mau kah kamu denganku. Mereka adalah pasangan yang telah berumah tangga kini sedang merajuk menjalani Cinta terlarang.
__ADS_1