Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Mengalah


__ADS_3

"Makasi ya Mas, lagi-lagi jadi penolong buat kami," Nadifa memelas sambil terus mengelus-elus Gifali yang ada dalam dekapannya.


"Allah yang suruh aku jadi perantara buat kalian, ayo kita-----," Ucapan Fajar terhenti ketika ada sesosok lelaki muncul dihadapan mereka yang sedang merungkukkan tubuh nya karna letih berlari dengan nafas yang terseok-seok. Ia mengejar waktu, menembus udara melalui kabut.


"Mas Galih!" teriak Nadifa.


Galih terperangah melihat Fajar tengah berdiri disamping istrinya. Wajah Galih memerah, ia kaget melihat rupa Fajar saat ini. Galih geram, ia tidak suka !


"Pasti abis ini dia akan fikir macam-macam, aduh!" batin Nadifa.


Fajar menghampiri Galih dengan beberapa langkah kakinya.


"Obatin luka istri lo, tadi dia jatoh dari motor, lain kali yang bener jadi suami!" Fajar mengusap bahu Galih dengan santai.


"Dif, aku duluan ya!" Fajar pamit ke arah Nadifa dan berlalu pergi dengan mobilnya.


Galih yang geram dan emosi mendengar kalimat terkahir dari Fajar hanya bisa diam, menatap lurus wajah istrinya yang sedang mendekap seorang bayi dihadapannya kini.


***


"Aku enggak sukak kamu dekat-dekat sama dia!" ucap Galih sambil mengejar Nadifa yang sudah berada jauh didepannya dari pintu masuk rumah sampai ke anak tangga.

__ADS_1


"Dengerin dong!" Galih mencengkram lengan istrinya.


"Aku males sama penipu !" Nadifa terus melangkahkan kaki nya untuk menaiki anak tangga menuju kamar, sambil membawa Gifali yang sudah terlelap, ditemani luka lecet yang sudah dibumbuhi dengan goresan darah yang sedikit mengering.


"Apa sih maksudnya?"


Galih makin tidak bisa diam, ia tetap berbicara seenak jidadnya.


"Berisik Ih!" Nadifa meletaki Gifali yang sedang tertidur di dalam box bayi kepemilikannya.


Galih kemudian duduk ditepi ranjang melihati Nadifa yang sekarang bergerak membukai seluruh pakaian kantornya untuk diganti dengan daster. Biasanya ia akan mandi setelah masak makam malam.


"Coba jelasin!" Galih mencoba berbicara dengan pelan. Ia menahan emosinya agar tidak kebablasan dalam berbicara, mengingat karna ucapanya dulu membuat Nadifa kabur dari rumah.


"Ngapain sih ngikutin!" Nadifa menoleh sebal, ketika Galih tepat berada 2 cm di belakang tubuhnya.


"Kenapa si kunyuk itu bisa disana? coba jelasin!" Galih mengulang lagi pertanyaannya.


"Yang kunyuk tuh kamu! janji datang jam 4, magrib baru sampe ! bapak macam apa sih!" Nadifa mengingati janji Galih yang tidak sesuai dengan janjinya.


"Maafin aku, aku lupa," Galih merintih menyesal.

__ADS_1


Jawaban Galih tidak digubrisnya, ia terus konsentrasi berkutat dengan kompor, bahan sayuran dan lauk pauk yang ia ambil mondar-mandir dari dalam kulkas. Ia pun mulai menyambi mencuci pakaian kotor yang sudah ia masukan ke dalam mesin penggiling.


Melihat istrinya begitu lelah, ia tidak sampai hati lagi untuk mengumpat, ia pun ingat kalau hari ini sudah melakukan kesalahan yang besar untuk istrinya.


Menghampiri istrinya dan memeluk dari belakang." Kita makan diluar aja yuk malam ini"


Galih tau, kesukaan Nadifa adalah makan malam diluar, salah satu cara yang digunakan untuk kembali mencairkan hati istrinya.


"E---nggak ! aku masih bisa masak, buang-buang uang aja makan malam diluar segala, mending uangnya buat beli susu Gifali!"


Zonkkk !


Galih lagi-lagi kalah, semenjak ada bayi lelaki itu. Ide untuk makan malam diluar sepertinya sudah terhempas dari hidupnya.


"Sana Mandi ! jagain Gifali takutnya dia bangun," ucap Nadifa dengan ketus.


"Sini aku obatin luka kamu, kenapa bisa jatuh dari motor?," ucap Galih lembut ia mencoba mengalah untuk kembali mengambil hati istrinya.


"Udah sana!" Nadifa menolehkan wajahnya dengan tatapan seram yang membuat Galih langsung menciut dan menghilang dari hadapannya bagai jin yang digosok dari cerek.


Galih menyimpan dulu segala pertanyaan yang membuat dadanya sesak sedari tadi, karna melihat Fajar ada disana, ia tidak mau membuat suasana makin panas. Saat ini Galih sudah banyak belajar dari pengalaman Nadifa yang pernah meninggali nya selama tiga bulan.

__ADS_1


Ia tidak mau gegabah lagi.


__ADS_2