
Yang udah penasaran, yuk kita lanjut baca🤗🤗
***
"Ayo diminum dulu!" Malik menyodorkan segelas air kepada Nadifa, ia takut ibu hamil ini menjadi stress dan shock.
"Makasi ya Pak." Nadifa mulai menenggak minumannya, kedua matanya masih melihati Malik dalam-dalam. Seraya sedang menghitung beberapa luka lebam di wajah lelaki ini.
"Difa nggak apa-apa tadi kan? diapain sama Fajar sampai nggak sadar kaya gitu?" tanya Malik menyelidik.
"Difa juga nggak tau Pak, tadi awalnya lagi makan bakmi, terus tiba-tiba udah nggak ingat apa-apa." jawab Nadifa apa adanya.
"Brengsek memang si Fajar, dia hampir aja mau celakain kamu tadi, untung saya datang tepat waktu!"
Nadifa mengerutkan dahi nya dalam-dalam. Malik pun mengerti bahwa wanita ini masih bingung dalam menyimpulkan apa yang tengah diucapkannya barusan.
"Pak Malik mungkin salah faham, Nggak mungkin Mas Fajar mau berbuat tidak senonoh seperti itu!" ucap Nadifa memelas.
"Fajar itu masukin obat tidur ke makanan kamu! dia punya rencana jahat! aduh saya nggak bisa ngebayangin ini semua." Malik menggeleng-gelengkan kepalanya untuk tidak mau membayangi kejadian itu lebih jauh.
"Pak Malik bisa tau gitu dari mana..?"
"Menurut saya aja, dan pasti tepat kaya gini!" Malik tetap bersipaku dengan keyakinannya.
"Difa obatin dulu ya lukanya? dikompres terus dikasih salep? tunggu ya!" Lalu Nadifa bangkit, tak lama tangannya digenggam oleh Malik, seketika menghentikan langkah kaki sang ibu hamil ini. Ia menoleh cepat melihat kedua bola mata Malik "Kenapa--?" tanyanya.
"Duduk dulu disini!" Malik menepuk bagian sofa yang ada disampingnya. Nadifa pun menurut untuk mengikuti kemauan Malik.
Mereka saling bertatapan dalam keheningan.
"Difa harus janji ya sama saya?"
"...Hmmm?"
"Iya kamu harus janji, untuk bisa jaga diri dan hati kamu hanya untuk Galih, suami kamu!"
Jag.
Degupan jantung keduanya seperti tengah bergemuruh, mungkin rasa cinta dikedua nya sudah lama memudar namun rasa simpatik seperti keluarga masih bertahta kuat. Entah bagaimana untuk menafsirkan kedua perasaan mereka saat ini. Yang jelas Malik tidak mau Nadifa salah jalan, cukup dulu saja mereka pernah melakukan kesalahan.
Nadifa diam masih menunggu apa yang ingin dibicarakan oleh mantan kekasih terlarang nya itu.
"Saya nggak mau, kamu menderita lagi! cukup udah kemarin-kemarin saya tersiksa lihat kamu tidak mempunyai daya dengan pernikahan Galih dan Gita. Saya nggak mau dengan adanya Fajar, membuat hidup kamu semakin susah!" imbuh Malik semakin merintih.
__ADS_1
Mereka masih menatap mata masing-masing, terlihat peluh ketulusan mengalir di mata Malik untuk Nadifa.
"Pak..hmm!" Nadifa mengikuti ritme nafasnya sebentar. "Apa sebaiknya Difa resign aja dari kantor? sepertinya semua masalah terjadi berawal dari karir Difa disana." kelopak mata Nadifa mulai sedikit basah karna tetesan air mata yang sedang tergenang.
Malik menggelengkan kepalanya seraya tidak setuju. "Jangan Difa, saya dan perusahaan masih butuh tenaga dan pemikiran kamu. Kamu masih muda dan cerdas, sayang jika tidak diasah untuk menghasilkan. Saya tau mungkin semua kebutuhan sudah dicukupi oleh Galih. Tapi saya minta kamu tetap bekerja disini, masalah dengan Fajar. Saya akan janji untuk selalu jagain kamu kalau sedang dikantor!"
"Saya tidak ingin hubungan keluarga jadi tercerai berai, keluarga saya juga punya andil atas Gifali. Difa jangan dulu emosi jika saya berkata seperti ini, karna saya mengucapkan suatu hal yang memang benar adanya."
Malik meyakinkan Nadifa dengan nasihat pamungkasnya, lelaki ini tidak akan menyetujui ucapan Nadifa begitu saja. Ia akan selalu bersikeras untuk menahan Nadifa untuk tetap dikantor.
Malik mulai lega ketika melihat Nadifa seperti setuju akan apa yang ia ucapkan.
"I-iya Pak, Difa ngerti." Nadifa sedikit menundukan wajahnya karena merasa malu pernah berucap kasar kepada Malik tempo lalu.
Nadifa kembali menatap Malik dengan senyuman menawan, lelaki ini pun membalasnya sama. Lalu semua itu cepat memudar ketika terdengar suara.
Kriuk...Glegg..
"Pak Malik, laper? itu perutnya bunyi, hahahaha---" Nadifa tertawa terbahak-bahak.
Malik jadi salah tingkah dan malu.
"Makan dulu ya? laper kan abis olahraga tinju?" ledek Nadifa tidak urung-urung.
"Nggak usah Dif, saya balik lagi ke kantor aja ya. Kasian kamu pasti lelah ingin istirahat!"
Malik pun mengangguk pasrah, memang tidak dipungkiri ia sangat lapar sekali saat ini, apalagi mengingat Nadifa menawari masakannya yang sudah lama tidak ia cicipi lagi.
Nadifa pun berlalu ke dapur untuk menyiapkan makanan dan membawa sebuah kotak obat untuk Malik.
15 menit kemudian.
Terlihat Malik sudah selonjoran di sofa sambil memejamkan matanya. Ia tertidur pulas. Terdengar sedikit dengkuran yang menghiasi tidur nya.
"Pak, ayo bangun." Nadifa mengelus bahunya.
Malik pun membuka mata dengan perlahan lalu bangkit untuk duduk menyila diatas sofa menghadap ke posisi Nadifa yang duduk menyerong.
"Sini Difa obatin dulu." Nadifa mendekatkan tubuhnya sedekat mungkin ke arah Malik, mengolesi luka lebam di tulang pipi dan sudut bibir dengan salep.
"Noleh ke kanan sedikit!" pinta Nadifa. Lelaki itu pun menurut saja perintah wanita yang ada dihadapannya.
"Ahh..linu Dif---" Malik mengerang kesakitan.
__ADS_1
"Sabar ya, maafkan Mas Fajar juga sudah begini ke kamu--" Nadifa mengucap maaf atas nama Fajar. Sontak wajah Malik berubah menjadi emosi kembali, sebelum ia membuka mulutnya untuk menyanggah, lebih dulu Nadifa mendaratkan jari telunjuk nya di bibir lelaki itu seraya memberi kode jika ia tidak perlu membahas nya lagi.
Malik pun diam, kembali menikmati terus alur tangan Nadifa yang sedang mengobati wajahnya.
Setelah selesai mengobati, Nadifa pun menyodorkan piring berisi nasi goreng plus telur dadar, ini adalah kesukaan Malik sewaktu dulu. Dia akan selalu memuji bahwa nasi goreng Nadifa adalah nasi goreng terenak di dunia.
"Makan dulu ya, habis itu minum obat. Difa ada obat nyeri, biar kamu nggak demam nanti malam!"
Malim mengangguk dan mulai melahap makanannya dengan gerakan pengunyahan yang cepat. Nadifa pun terus melihati kelahapan yang mencuat dari wajah Malik.
Kringggggggggg
Suara telepon rumah tiba-tiba berdering. Nadifa yang hanya berjarak 30 cm dari meja telepon lalu mengangkatnya cepat.
"Hallo sayang?"
Nadifa hafal betul suara siapa yang kini tengah menyapanya dalam kegugupan dan kegelisahan. Disana Galih hampir gila karna terus menelpon Nadifa tapi tidak kunjung mendapatkan jawaban, akhirnya ia telepon kerumah. Karena sebelumnya ia sudah menelpon Dania untuk menanyakan kabar perihal istrinya, namun temannya itu mengatakan bahwa sang istri tidak masuk kerja karna anak mereka sakit. Sontak membuat Galih menjadi frustasi disana.
"Kamu mau nggak Dif, sini aku suapi hahaha." suara Malik terdengar meledek.
Jag.
Tiba-tiba dada Nadifa terasa panas, matanya sejurus menatap ke depan. Ia hanya bisa diam sambil terus memegangin gagang telepon. Mulutnya ternganga ketika suaminya mengatakan.
"SUARA SIAPA ITU???"
Dengan amat kencang Galih berteriak histeris, ia seperti hafal pemilik suara itu. Terdengar suara garpu dan sendok saling bertabrakan disamping Nadifa yang sangat terjelas di sambungan telepon saat ini.
Prakkk...
Telepon dengan cepat ditutup oleh Nadifa ketempat semula. Nafasnya tersengal-sengal kasar, ia merasa gundah gulana saat ini. Entah alasan apa yang harus ia katakan kepada Galih setelah ini.
"Siapa yang telepon?" tanya Malik menoleh.
"...Salah sambung Pak, ayo habiskan makananan mu!"
***
Janjinya habis magrib mau aku UP, cuman sekarang aku majuin lebih awal buat nemenin kalian ngabuburit dirumah. Selamat berbuka lancar ibadah puasanya💖💖💖
Aku terharuu banget sama komenan positif kalian, dukung banget aku..unch sosweet😘❤️ maaf kalo ada yg kelewat nggak dblas chatnya..insya allah kalian kesayangan akuu..hehehe🤗
Kaya biasa🤭🤭
__ADS_1
Like dan Komen yaa..meminta kebaikan hati kalian untuk mem Vote dan Rate bintang dicerita ini..biar aku semangat.
thankyou❤️😘😘