
Galih masih terjaga mengurusi sang istri yang tengah hamil muda. Saat ini ia sedang mendalami perannya sebagai seorang ayah dan suami siaga untuk istri dan anak-anak nya.
Ia telah memberi kabar kepada Alea dan Dendi, untuk cuti bekerja selama tiga hari. Ia akan fokus, mengurusi rumah dan Gifali. Agar Nadifa bisa bedrest total dirumah sesuai arahan Dokter Kandungan.
Kini anak dan istrinya sudah tertidur lelap. Dilihati wajah mereka rapat-rapat. Wajah Galih kembali mendung, ia begitu terharu karna Allah telah mengembalikan Nadifa diwaktu yang tepat. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana dirinya saat ini, jika Nadifa tetap memaksa untuk bercerai dari nya.
Sungguh masalah-masalah yang kemarin datang silih berganti diantara mereka telah berubab menjadi sebuah kebahagiaan yang tidak ternilai harganya.
"Pah, Mamah haus," ucap Nadifa setengah mengantuk.
"Iya sayang, Papah ambilkan air ya,"
Galih sengaja belum mau tidur, ia akan menunggui dulu sampai Nadifa benar-benar pulas, sebisa mungkin ia akan selalu menemani dan mengantarkan istrinya ke kamar mandi jika sedang mual dan muntah.
"Ayo minum," Galih membantu mengangkat kepala belakang istrinya, untuk minum dengan baik walau dengan posisi berbaring.
"Pah, Mamah mau muntah,"
"Papah gendong ya," Tangan Galih di letakan dibawah paha dan diatas tengkuk leher Nadifa. Sebisa mungkin ia mengurangi aktivitas istrinya untuk bergerak, walau hanya jalam biasa tidak lebih dari 10 langkah.
Aktivitas bolak-balik kamar mandi sudah terjadi lebih dari 7x. Namun Galih tetap bersabar dan siaga untuk sekuat tenaga mengurusi Nadifa.
Rasa capek nya belum sebanding dengan apa yang dirasakan oleh istrinya saat ini, jelas Nadifa lebih menderita.
Waktu sudah menunjukan pukul 02:30 tengah malam. Terlihat Galih sudah terlelap dengan posisi memeluk istrinya. Biar dia tau jika istrinya bergerak ia akan cepat untuk terbangun.
"Pah?" Nadifa membunyikan suara nya tepat ditelinga Galih.
"Iya Mah ? kenapa ? mau muntah lagi ?" Galih cepat membuka matanya dengan lebar.
"Mamah laper Pah, pengen ketoprak,"
__ADS_1
"Hah? ketoprak ? jam segini?" Galih melihati jam dinding yang menunjukan pukul 02:30 malam. Namun demi istri yang sedang hamil agar tubuhnya kembali fit. Galih merelakan tubuhnya untuk menembus angin dingin diluar.
"Jangan deh Pah, udah malem. Dibawa tidur aja, nanti juga kepengenan nya hilang,"
"Enggak apa-apa, belum terlalu malam. Aku beli dulu ya, kamu kalau mau muntah jangan ke kamar mandi, aku udah sediain baskom dibawah tempat tidur!"
Nadifa mengangguk dan tersenyum amat bahagia karna diperhatikan sebegini nya oleh Galih.
****
"Masih ada enggak ya jam segini, yang jualan ketoprak?" gumam Galih. "Dingin banget lagi nih, mana lupa tadi bawa jaket,"
Galih terus berjalan menyusuri komplek rumah, melihati satu persatu pedagang yang mangkal. Dengan hanya menggunakan kaos tipis, celana training dan sendal jepit ia ditantang untuk mendapatkan ketoprak dikegelapan malam menembus dingin nya angin.
"Permisi Pak, mau tanya. Kalo yang jual ketoprak, ada yang mangkal nggak ya?"
tanya Galih kepada bapak-bapak yang sedang bertugas di pos siskamling.
"Eh Pak Galih, mau sahur Pak jam segini nyariin ketoprak ?" Pak Harun meledek, dia tengah bergilir dengan bapak-bapak lain untuk menjaga pos ronda.
"Ada pak dikomplek kemuning, Pak Galih lurus aja dari depan portal nanti belok ke kanan lalu lurus lagi mentok belok kiri, nanti ada si mang Daud yang jual ketoprak, semoga aja belum habis Pak,"
"Baik Pak makasi ya, saya permisi,"
Galih berlalu dari mereka, terus mengikuti jalan yang sudah diarahkan oleh Pak Harun tadi.
"Kalau tau gitu jalannya sejauh ini. Mending bawa mobil aja. Mana gelap, sepi, hening. Aduh sayang, jangan sampai tiap malem kaya gini. Bisa abis nih badan aku, kena angin malem mulu," Galih mulai sedikit menggerutu walau jauh dihati yang paling dalam, ia amat senang tengah menikmati ke ngidaman sang istri.
Guk..Guk..Guk..
"Kayak nya ada mahkluk halus nih, pake gonggong segala," Galih mulai panik ketika mendengar nyaring suara gugukan anjing entah dari mana.
__ADS_1
Galih terus berjalan lurus, menembus keheningan malam untuk sampai di tukang ketoprak.
Guk..Guk..Gukk..
Suara gugukan anjing pun kembali terdengar, ia pun menoleh cepat kebelakang tubuhnya. Terlihat lah anjing Siberian Husky telah menjukurkan Lidahnya, seketika lelaki ini menjadi kalang kabut kaget terperjak.
Ia berlari kencang sekuat tenaga, Siberian Husky yang awal nya hanya diam menggonggong ikut mengejar Galih dengan cepat.
"Astagfirullohaladzim Ya Allah, tolong saya. Anak saya yang satu masih bayi dan yang satu lagi masih dikandungan. Istri saya cantik, saya enggak mau liat dia jadi janda. Tolong jangan cabut nyawa saya dulu sekarang,"
Rintihan Galih terus berlari menghindari kejaran Anjing tersebut. Ia terus berlari sampai tepat di pedagang ketoprak yang diberitahu oleh Pak Harun tadi.
Ia sudah tidak mendengar suara gugukan anjing lagi, Siberian Husky kemungkinan sudah ditemukan terlebih dahulu oleh sang majikan.
"Bang satu ya, pakein telur,"
"Maaf Pak, ketoprak nya habis, tadi sisa satu tapi udah dibeli, baru aja. Saya juga udah mau pulang nih,"
Seketika hati Galih robek dan patahm. Seperti mendapat pecutan halilintar tak kunjung usai.
"Ditemen saya aja Pak, dikomplek Flamboyan dekat tiang listrik agak mepet sedikit kedalam,"
"Astagfirullohaladzim, itu kan daerah rumah gue. Ngapain coba gue sampe jauh-jauh kesini, Masya Allah," Galih menahan kesal, menahan letih, seluruh baju sampai celana nya basah karna lari-larian menghindari kejaran Siberian Husky tadi.
****
"Sayang, ayo nih makan dulu. Mau aku suapin enggak ?" Galih mengguncang lengan Nadifa yang sudah terlelap tidur.
"Kamu aja yang makan Pah, aku udah nggak kepengen lagi. Sekarang aku mau tidur, ngantuk banget !" ucap Nadifa dengan entengnya sambil memejamkan mata lagi.
Entah bagaimana raut wajah Galih saat ini. Mengingat banyak terjangan ranjau yang menghadang dirinya, ditengah dinginnya malam hanya untuk sebungkus ketoprak.
__ADS_1
Aku tunggu Jempol like dan komen kalian..serta VOTE terbaiknya.
Hatur Nuhun 😘😘😘