Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Diketahui


__ADS_3

"Baiklah, mau dijemput tidak, Dif?" terdengar suara wanita disambungan telepon Nadifa.


"Enggak usah Mba, aku udah pesan taxi!"


Tutttt....perbincangan mereka terputus dan berhenti.


Nadifa yang sudah berganti pakaian terus berdiri mematung ditengah kamar, melihati Galih yang sudah tertidur.


Air matanya turun lagi, deras lagi.


Aku ijin pamit, maaf tidak bisa masak dulu, kalau kamu lapar masak lah apapun yang ada dikulkas atau beli saja diluar, vitamin mu ada di lemari obat, jangan lupa minum susu dulu sebelum berangkat kerja, kemeja kantor mu sudah beberapa ku setrika dengan baik, ketika mau berangkat matikan seluruh lampu, AC, air dan pastikan kamu sedang tidak menyalahkan kompor, jaga rumah mu ini dengan baik.


Kalimat panjang lebar itu ditulis olehnya disecarik kertas, diletakan tiga buah ATM dan kunci rumah serep yang selama ini ia bawa kemana-mana.


Sudah 5 tahun, ke tiga ATM itu selalu digenggam oleh Nadifa, sekarang ia merasa tidak punya hak apapun walau masih sah menjadi istri pertama, Nadifa pun merasa kelak rumah ini lebih berhak untuk Gita dan Anaknya.


"Aku pergi ya,Mas." Nadifa menyeka air matanya, meninggalkan kamar mereka yang belum dibereskan.


Meraih koper nya kembali dan berjalan menuju luar, ia tidak pernah membayangkan dirinya akan pergi meninggalkan rumah selarut malam seperti ini.


Ia turuni anak tangga satu persatu, melihati sisi sudut rumah yang ia tata dan selalu rapih mempesona.


Ia terhenti di meja makan yang berhadapan langsung dengan dapur.

__ADS_1


Besok ia mulai tidak memasaki suaminya, mereka tidak akan bercanda lagi dimeja makan, tidak saling merangkul dan suap-suapan.


Ia berfikir, mungkin saja setelah ini Gita bisa lebih baik memberi pelayanan serta perhatian dari nya.


Nadifa terus berjalan, melangkah pelan meninggalkan rumah ini, ia memandangi foto pernikahan yang masih terpajang indah di dinding.


Mengenang bagaimana proses pernikahan dan indahnya honeymoon setelah itu.


Air matanya turun lagi..ia meletakan tangan untuk memegang dadanya, ia semakin berpeluh dalam rintihan asa terus memanggil nama Alm. Mama dan Papanya yang sudah meninggali dia sejak umur 8 tahun.


****


Nadifa kembali menangis dipelukan Dania, Nadifa merasa tidak ada pilihan untuk pergi selain ke rumah ini.


Kebetulan suami Dania mulai berangkat malam ini untuk tugas ke medan beberapa hari.


Nadifa makin mengerang dalam tangisnya, ia menangis dengan menahan suara untuk tidak keluar.


Dania mengelus-elus lagi rambut yang terurai panjang dan sangat wangi itu.


"Harus dibicarakan dengan kepala dingin Dif, Galih juga pasti punya alasan dibalik ini, aku tau suamimu sangat mencintai kamu, aku ingat dan lihat perlakuannya kepadamu di mobil saat kalian mengantar ku pulang, sangat lah lembut dan teramat sayang"


"Namanya sebuah pernikahan pasti ada pasang dan surut, ada naik dan jatuh, tapi janji adalah janji, yang tetap harus kalian tepati sampai maut memisahkan,"

__ADS_1


Nadifa masih menangis, masih bersandar di pelukan Dania.


"Aku ingin tanya sama kamu, tapi kamu harus jawab Jujur!" Dania melepaskan pelukannya dan menatap wajah Nadifa yang masih berpeluh basah karena gelinangan air mata nya.


Dania pelan-pelan mengutarakan pertanyaan ini, entah ia merasa mungkin saja moment ini tepat untuk sekalian menyatukan semua masalah hingga menemukan titik point.


"Apa ada hubungan special dengan Pak Malik?"


Nadifa diam, terhenti dari tangisnya, ia lupa akan Malik sehari ini, aktivitasnya dengan Galih membuat ia benar-benar lupa.


"Hemmm?" Dania menunggu jawaban Nadifa yang masih tertahan didalam bibirnya yang masih rapat.


Nadifa menatap mata Dania lekat-lekat, ia melihat raut wajah Dania amat sangat kasian padanya.


"Iya Mba, sudah tujuh Bulan," Nadifa mengucap pelan.


Terlihat Dania sudah tidak kaget lagi karena sudah membaca semua itu dari awal.


"Bagaimana hubungan kamu ?"


Nadifa yang masih diam kembali menatap wajah Dania,"Kami masih bisa menjaga satu sama lain, tidak sampai kebablasan seperti.."


Nadifa menangis lagi, ia kembali membayangkan Galih dan Gita.

__ADS_1


Like and coment yaa guyssss🖤


see you....


__ADS_2