
Galih Hadnan, POV
Saat ini aku merasa menjadi lelaki yang amat sempurna. Lengkap sudah penantian panjang yang telah ku lewati bersama istriku. Lima tahun menanti bukan lah waktu yang sedikit untuk menimang buah cinta kami.
Untuk mendapatkannya pun kami harus melewati banyak cobaan dan rintangan. Hampir menyerah? TIDAK. Aku tetap menerima Nadifa secara utuh, karena dia pun berbuat hal yang sama untukku.
Hati kami hancur? SUDAH PASTI. Kehancuran beberapa kali menerpa pernikahan ku dengannya. Namun karena cinta yang masih bertahta, kita lalui semua ini dengan kuat dan lapang dada. Penuh kesabaran dalam uji coba kehidupan kami.
Kini ku lihat istriku sudah berbaring di meja operasi. Sesekali matanya menoleh ke arahku dengan genangan air mata. Ia tetap tersenyum, ku tahu pasti hatinya pasti lirih. Berkali-kali ku bisikan doa dan cinta di telinganya. Dengan suara ku yang sudah bergetar, Nadifa pasti tahu bagaimana perasaanku sekarang.
"Sakit, Mas..." lirih nya ketika suntikan telah menyemprotkan cairan ke punggung belakangnya. Ia terus menggenggam tanganku. "Sabar sayang.." Air mata ku jatuh tumpah ruah begitu saja.
"Mas?" ucapnya peluh sebelum kedua matanya terpejam. Sinar lampu yang ada diatas kami, memang sangat menyilaukan. Aku tetap di sampingnya. Beberapa saat aku kembali teringat Gita yang dulu pernah ada di posisi ini.
"Kamu kuat sayangku, terus lah berjuang!" Jantungku terasa terpompa kuat. Dada seketika berdebar-debar tidak karuan. Aku terus menatapi wajah istriku yang sudah terlelap. Mendengar suara Dokter dan Perawat saling bersautan dalam jalannya operasi, tanpa terasa membutku semakin menangis.
Aku kembali teringat Gita, malah bagiku baru kemarin rasanya ada ditempat seperti ini.
"Bagaimana jika setelah ini aku tidak lagi melihatmu? Bagaimana dengan nasib kedua anakku? Bagaimana kehidupan ku setelah ini?"
"Jangan tegang ya Pak, rileks saja.." suara Dokter tanpa menatapku begitu saja terdengar. Sepertinya hembusan nafas ku yang kasar terdengar sampai ke telinganya.
Aku malu? TIDAK. Karena aku merasa wanita yang melahirkan akan selalu berpapasan dengan dunia kematian.
Lalu tak berapa lama
Ku dengar suara teriakan bayi yang kencang. Itu dia bayi ku. Anak kami.
__ADS_1
"Selamat ya Pak, anaknya perempuan.." Dokter berucap lagi ketika sedang menjahit perut Nadifa.
Rasa bahagia memancar di raut wajahku. Aku tersenyum puas. Anak pertama ku dari rahim Nadifa, sudah lahir dengan selamat.
"Bagaimana dengan istri saya, Dok?"
"Keadaannya bagus Pak, sebentar lagi pasien juga akan sadar--"
Seketika dada ku menggelosor lega. Aku bangkit dan bersujud dilantai kamar operasi untuk mengucap syukur. Begitu baiknya Allah kepada hamba nya yang hina ini.
Tidak berapa lama, operasi pun selesai. Nadifa masih di kamar pemulihan. Ada riakan meringis sakit menerpa dari mulutnya.
"Sakit, Mas!" ucapnya keluh dengan bibir yang kering. "Sabar sayang, sebentar lagi sakitnya juga hilang!" Aku hanya bis menciumi wajahnya dan terus menggenggam erat kepalan tangannya.
Aku baru merasa menjadi suami dan ayah yang sempurna. Setelah ini aku akan berjuang lagi untuk merawat dan menjaga pemulihan Nadifa serta bayi kami.
"Iya sayang, nanti jika keadaanmu sudah pulih aku akan menyuruh mereka untuk membawa anak kita--"
"Bagaimana bayi kita, Mas?"
"Masih di ruang bayi, katanya nanti siang baru diantar."
"Sehat kan Mas? Lengkap? Sempurna?"
"Iya sayang, udah kamu nggak usah cemas! Tidurlah, biar nanti ketika menggendongnya kamu sudah kuat!"
Nadifa menganggukan kepalanya yang lemah. Lalu ia kembali menutup mata sambil diiringi rasa sakit.
__ADS_1
Anak pertama ku dengan Nadifa berjenis kelamin perempuan. Kami sepakat untuk memberikan nama "PUTRI GANAYA HADNAN"
Dia akan menjadi adik perempuan dari anak lelaki ku PUTRA GIFALI HADNAN.
***
Satu tahun kemudian, kala itu aku sedang memangku Gana sambil melihati Gifali bertatah-tatah mengejar kucing ditaman belakang. Hidupku lengkap sudah. Tak pernah aku bayangkan, aku pun bisa menjadi seorang suami dan papa yang baik untuk anak dan istriku.
Lalu
Kebahagiaan kembali menerpa, tak kala ku lihat istriku berlari-lari menghampiri ku. Sambil membawa benda kecil ditangannya. Ia menyodorkan tepat dikedua mataku. Garis senyumku kembali terangkat, dengan cepat aku mendongak ke arah wajahnya.
"Pah, Mama Hamil lagi!"
****
Alhamdulillah di episode 249, kisah Galih dan Nadifa dalam 2 season sudah TAMAT.
Oiya aku mau ngasih tahu kalo PART TIGA nya aku buat di cover baru ya.
judulnya :
"GIFALI DAN MAURA"
bisa cari di profil aku, Cerita nadifa dan galih masih ada dan ditambahkan tentang ke empat anak mereka. Nggak akan adalagi Pelakor dan Pebinor disana, cukup hanya di BDCT aja.
Kayak biasa
__ADS_1
Like Vote Rate dan komen kalian ya, aku selaluu baca💋💋