
"Maaf Lih, aku kesiangan enggak sempat buatin kamu sarapan," ucap Gita menghampiri Galih yang sudah siap berpakaian kantor, kini tengah duduk di meja makan sambil memainkan Ipadnya, lain hal dengan Gita yang baru bangun tidur.
"Mandi dulu sana, sarapanya beli aja nanti dijalan," jawab Galih tanpa menatap Gita. Ia pun berlalu angkat kaki dari hadapan suaminya.
Di meja makan terlihat sangat kosong, tidak ada lagi tataan rapih tumpukan lembar roti dan beberapa botol selai. Tidak ada lagi susu hangat digelas yang siap untuk ia minum. Ia tidak lagi merasakan bunyi berisik aktivitas masak-memasak didapur.
Ia pun berjalan untuk membuka kulkas, berharap menemukan sesuatu yang bisa dimakan nyatanya nihil, kulkas kosong melompong, tidak ada susu kemasan, tidak ada sekelompok telur, buah-buahan dan sayur mayur, kini kulkas itu sangatlah polos.
Dibukanya lemari kitchen set paling atas, tempat dimana mie instan, gula, dan beberapa kebutuhan yang lain selalu tertata rapih kini sudah kosong tidak berpenghuni.
Bahkan untuk membuat segelas kopi pun tidak bisa karna air galon sudah habis.
Baju-baju bertempuk didalam bak kotor yang sudah satu minggu ini belum dicuci, Gita bilang padanya akan membawanya ke Laundry.
__ADS_1
Foto-foto begitu tertutup dengan bayangan debu yang menutupi indahnya kenangan mereka.
Rumah ini seperti tidak bernyawa setelah peninggalan Nadifa dari rumah. Karna bagaimanapun rumah akan terasa indah jika sang ratu sedang bahagia, namun jika sang ratu sedang bersedih maka raut rumah pun akan terasa lebih menyeramkan, tidak ditemukan rasa senang, suka dan bahagia.
Begitu besar perubahan yang terjadi setelah drama pertengkaran yang mereka lakukan minggu lalu. Galih sangat mengutuk dirinya atas segala ucapan yang keluar dari mulutnya itu. Ia tidak menyangka Nadifa akan berani bersikap seperti ini dan meninggalkan dirinya.
Nadifa sangat berarti untuknya, untuk rumah dan untuk orang lain.
Galih sudah salah melepas berlian untuk bertahan dengan perak.
Galih selalu mengirimi pesan WA atau SMS sebanyak 5x sehari, kata-kata penyesalan dan permintaan maaf pun sudah berbuih ia ucapkan, selalu mencoba menelpon setiap jam namun semua usaha itu gagal.
Nadifa tidak memberi ruang untuk Galih untuk bisa meraih dirinya lagi. Datang ke kantor pun sudah dilakukan sampai harus diusir Security karna terus berdiri lama seharian menunggui Nadifa untuk mau menemui dirinya.
__ADS_1
Galih pun sangat tersiksa ketika Nafsu biologisnya datang, ia tidak bisa menyalurkan hasratnya kepada siapapun, walau ada Gita yang siap dengan bahagia, Galih tetap tidak mampu melakukanya, ia masih belum bisa mencintai Gita, itu sama saja akan melukai dirinya dan semakin merambah kedalam penyesalan.
Ia masih bersama Gita saat ini, hanya karna ada anak mereka yang sudah mulai kelihatan besar diperut Gita, sudah jalan 19 minggu atau sekitar kurang lebih lima bulan.
"Ayo Mas kita berangkat," Gita sudah siap dengan tas kerjanya. Galih pun bangkit dari sofa menuju garasi untuk menjalankan mobilnya.
"Kamu mau sarapan apa Mas? didepan sana banyak Nasi uduk," Gita memberi ide.
"Ya boleh lah," Galih mengikut saja apa saran dari istri keduanya itu.
Mereka pun menepikan mobilnya dideretan penjual sarapan pagi, ia terus terdiam menikmati sepiring nasi uduk yang sudah dipesannya.
"Sudah lima tahun menikah dengan Difa, baru kali ini aku merasakan sarapan diluar seperti ini, Istriku itu tidak pernah membiarkan ku pergi berangkat kerja dengan perut kosong karna belum sarapan!" batin Galih memuncak ia mulai semakin dalam menyesali kepergian istrinya.
__ADS_1
Kesalahan yang telah dilakukan Nadifa seolah tertutup dan hilang dimata Galih, ia merasa lebih sakit ditinggali dari pada dihianati.
Hayyss guyss, makasi yang udah berbaik hati mengirimi ku VOTE, LIKE dan KOMENT positif untuk mendukung cerita ini. love you guys..🖤🖤