Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Kehangatan


__ADS_3

Hayy aku balik lagi...ku ingat-ingat part yang tidak sengaja terhapus begitu saja. namun melihat semangat kalian, aku pun jadi lincah kembali.


Selamat baca🤗🤗


***


Sesaat sebelum tubuh itu terjulang ke bawah, dengan cepat sang suaminya merengkuh tubuh sang istri secara utuh agar tidak terjeledak di lantai dapur.


Nadifa yang masih setengah sadar, menarik sebuah handuk yang masih menguntai dileher Galih.


"Mas?" suara Nadifa begitu lemah. Ia terus melihati kedua wajah yang benar-benar seperti nyata dihadapannya kini. Dan tatapan itu berangsur samar dan tidak terlihat lagi.


"Mah..mamah?" hentakan kecil dikedua pipinya tak surut untuk membangunkan wanita ini dari ketidaksadaran dirinya. Nadifa pingsan.


Lalu Galih menggendong sang istri untuk menuju kamar agar direbahkan diposisi terenak diatas ranjang.


"Sayang...sayang?" Galih terus mengupayakan agar Nadifa membuka matanya, dengan mengoleskan minyak kayu putih disekitar kedua lubang hidungya.


Galih masih bertelanjang dada dengan rambut basah sehabis keramas, entah sejak kapan dia pulang dan bisa keramas di kamar mandi dapur, yang lampu nya sudah putus sejak satu minggu lalu. Membuat Nadifa begitu stres, panik dan takut. Apalagi setelah dibumbuhi mimpi yang menakutkan barusan.


"Sayang...?" hentakkan kecil kembali dicuatkan dikedua pipi istrinya, namun belum ada respon. Tapi mungkin inti tubuh Galih yang mulai sudah memberikan respon, ia rindu wanita ini. Kemudian ia mulai mendekatkan wajahnya untuk mencium Nadifa.


Dan


Katupan kelopak mata dibawahnya pun terbuka, ada suara jeritan terpancar dari sang istri karena melihat sosok bertubuh gegap berada diatas wajahnya kini, setengah samar namun belum bisa melihat jelas wajah Galih.


Sontak teriakan nya membuat Gifali kaget dan terbangun dari tidurnya lalu menangis.


"Hey Mah, ini Papah..Mah, coba liat baik-baik! ini Papah bukan...hantu!" ucap Galih sambil memegangi kedua tangan Nadifa agar tidak menghujaninya dengan pukulan dan hantaman.


Lalu ia mencoba mengikuti suara itu yang memang tidak asing baginya, itu suara suaminya.


Nadifa pun membuka mata melihat wajah Galih yang masih panik dan gelisah.

__ADS_1


"Mas?" teriak Nadifa senang lalu memeluk tubuh suaminya yang masih sedikit basah lalu menangis sejadi-jadinya dipelukan itu.


"Iya sayang, ini aku. Suami kamu, cinta mati nya kamu!" ucap Galih berdecis geli, ingin menghilangkan rasa ketakutan pada istrinya saat ini.


Nadifa pun mulai berhenti dan meringis geli mendengar ucapan nyeleneh barusan.


"Kamu ah!" Nadifa melepas pelukan itu dan menjatuhkan wajahnya didada sang suami. Galih menurunkan wajahnya untuk menatap kedua mata istri yang sudah seminggu ini mendiaminya, mencuekinya dan mengacuhkan dirinya. Dan bibir mereka pun saling bertemu seraya mengucap selamat datang untuk persatuan hati mereka kembali.


Namun pergumulan bibir itu tidak berlangsung lama, ketika mereka baru disadarkan dengan tangisan Gifali sedari tadi.


Betul saja! mereka sangat merindu.


Galih pun melepaskan tubuh Nadifa dan beringsut dari ranjang untuk mengambil Gifali, menimang-nimang agar anak itu tertidur, Galih menciumi anak itu tanpa henti sampai warna memerah timbul di pipi bayi gendut itu.


"Ada kejadian apa hari ini Mah? kenapa tidak cerita sama Papah?"


"Kenapa sekarang Papah sudah dirumah? bukannya rencana pulang dari Surabaya besok sore?"


Nadifa tahu betul siapa suaminya, ia tahu disaat raut wajah itu sedikit berbohong untuk menenggelamkan suatu alasan yang benar.


"Benar begitu?" tanya Nadifa menyelidik.


Galih menarik nafas dari dalam tubuhnya lalu diam sebentar untuk dihembuskan ke udara dengan pelan, ia berfikir jika tidak jujur lagi saat ini, maka hubungannya dengan Nadifa akan berantakan lagi.


"Maaf Om, gue nggak bisa nepatin janji! by the way, makasi broh udah jaga istri gue!" gumam Galih dalam hatinya, sembari menerawang membayangi wajah lelaki yang sedari dulu ia benci tanpa ampun.


Dilihatnya Gifali sudah kembali nyenyak, maka ia mengembalikan bayi itu kedalam box nya.


Ia kembali duduk ditepi ranjang, sambil melipat kakinya dan meraih tangan sang istri yang masih terasa dingin karna ketakutan tadi.


"Malik menceritakan kejadian yang menimpa Mama hari in---"


"Soal kejadian aku nabrak mobil orang?" Nadifa menyelak.

__ADS_1


Galih mengangguk.


"Dan soal Fajar?" ujar Nadifa dengan takut-takut.


Galih mengangguk lagi, tetapi kali ini tanpa raut wajah marah atau kesal. Mungkin nasihat Malik ketika menghubungi dirinya untuk memberitahukan kejadian ini dapat diterima baik alasannya oleh Galih.


"Hah?" Nadifa meletakan kedua telapak tangannya untuk menutupi wajahnya yang malu dan kaget.


"Sudah Mah, nggak apa-apa. Papa ngerti kok!"


"Maafin Mamah ya Pah, Mama nggak maksud buat bohongin Papah, karena Papah lagi jauh di Surabaya, aku takut ganggu kosentrasi kamu disana." ucap Nadifa memelas.


"Udah nggak apa-apa, harga penggantian mobil tidak sebanding dengan kamu di hidup aku! kamu jauh lebih berarti, dan mungkin sekarang aku harus bisa mengalah dan percaya bahwa Malik adalah lelaki yang pantas untuk ku beri maaf!"


"Terus kenapa kamu bisa mandi dibawah?"


"Aku hanya punya kunci serep pintu utama, tapi kunci kamar tidak punya. Aku baru ingat untuk menyuruhmu mengunci pintu kamar, maka dari itu aku tidak bisa masuk. Karena aku haus dan tubuhku gerah, maka aku sekalian saja mandi disana."


Nadifa dan Galih saling melempar senyum dalam tatapan kerinduan, tak terasa air mata mereka pun saling menghiasi, mereka pun lagi-lagi saling menerjang dalan pelukan permohonan maaf.


"Maaf kan Mamah, Pah. Mamah sudah bodoh tidak percaya kamu, lebih mempercayai orang lain dari pada suami sendiri!" Nadifa meletakan wajahnya di bahu sang suami, sehingga tetesan air mata itu turun membasahi lengan Galih.


"Maafkan Papah juga Mah, aku masih saja cemburu dan tidak mempercayaimu! dan aku masih juga teperdaya dengan hasutan orang lain!" si lelaki bertubuh kekar itu pun melepaskan cuatan air mata diceruk leher sang istri.


Jika satu minggu yang lalu, mereka saling menangis bersamaan dalam malam penuh kebencian, umpatan serta makian. Namun saat ini berbeda, mereka saling menangis bersamaan dalam penuh kehangatan cinta, kerinduan dan keterbukaan.


Yang harus mereka ketahui adalah, setiap hujan yang turun dengan deras pasti akan ada pelangi indah yang muncul seketika setelah hujan sudah kenyang membasahi bumi.


Nadifa dan Galih harus sama-sama belajar dengan kejadian terberat mereka untuk terus bersama mengarungi biduk rumah tangga sampai anak-anak bertumbuh besar.


***


Kaya biasa, Like Vote Rate dan komennya ya guys..mungkin tinggal beberapa episode lagi nih. stay tune❤️

__ADS_1


__ADS_2