Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Perang dingin


__ADS_3

**Assalammualaikum Readers kesayangan. Aku kangen deh sama kalian, nih aku balik lagi. Semoga dilancarkan Ibadah Puasanya ya.


Keep Reading guys🖤**


***


"Masih mau muntah sayang?" tanya Malik bernada cepat, tanpa sadar dengan kalimat terakhir yang barusan ia ucapkan. Sontak Nadifa yang sedang menahan dirinya untuk muntah, seketika menatap Malik dengan serius.


Malik yang mati gaya, langsung bersikap aneh karna malu. Lalu mengalihkannya dengan cepat.


"Ayo muntahkan!" Malik menyiapkan kantong plastik ditangannya, agar Nadifa leluasa untuk muntah.


Tanpa sengaja Malik refleks memijit leher mantan kekasih hati nya itu. Nadifa kembali kaget, namun ia tidak memperdulikan hal itu. Dirinya terus mencoba untuk memuntahkan apa yang membuat ia mual didalam perutnya.


Tidak lama kemudian, ada sesosok lelaki yang baru sampai dengan nafas tersengal-sengal tidak beraturan. Ia berlari cepat dari luar Rumah Sakit sampai ke Poliklinik Kandungan, tempat dimana istrinya kini berada.


"Sayang," panggil Galih yang baru sampai.


Seketika ia kaget melihati Malik dan Nadifa yang sedang duduk berhadapan. Malik terus memijiti leher Nadifa. Sikap Malik terlihat begitu heroik untuk istrinya.


Mendengar suara memanggil, sontak membuat Malik menolehkan kepalanya dengan cepat, ia melihati Galih yang tengah berdiri melihati dirinya, begitu dekat dalam merawat Nadifa.


Malik masih membuka lebar kedua tangannya untuk menengadahkan kantong plastik menampung cairan bening yang keluar dari mulut Nadifa.

__ADS_1


Nadifa pun tertohok mengetahui kedatangan suaminya. Namun ia belum mampu menyambut kedatangan Galih. Karna dirinya masih digelayuti rasa mual untuk menuntun dirinya memuntahi cairan yang ada didalam perutnya itu.


"Sayang, kamu makin parah ya. Aku khawatir banget?" Galih duduk dibelakang punggung istrinya.


Menghalau tangan Malik untuk segera enyah dari leher istrinya dengan kasar.


"Terima kasih anda sudah mengabari saya, anda sudah boleh pulang sekarang!" jawab Galih dingin. Ia begitu cemburu namun tetap menahannya dengan sopan.


Malik dan Nadifa kembali tertohok, mendengar ucapan Galih yang begitu menyeramkan.


"Saya tetap disini, karna awalnya saya yang mengantar. Saya juga atasan Difa langsung, saya juga bertanggung jawab atas dirinya." ucap Malik tegas.


Nadifa tidak bisa berbicara apapun saat ini, dirinya lemas tidak berdaya, terus muntah dan muntah. Sampai entah kapan diri itu mau berhenti menyiksa Nadifa.


"Enak aja nih bocah ! nyuruh-nyuruh saya langsung pulang, kalau bukan berkat saya, mana mungkin dia bisa kesini." batin Malik geram terus menatapi Galih.


"Untuk kali ini, loe. Gue maafin karna gue udah berhutang budi perihal keadaan istri gue sekarang!"


Galih pun sama, ia tetap menatapi Malik dengan tatapan tidak biasa.


"Emmmm---!" Nadifa menyudahi muntahnya. Ia kembali mengangkat wajahnya dan meletakan kembali tubuhnya dalam keadaan tegap dikursi roda. Saat ini ia hanya menatap lurus kedepan, tidak menoleh ke arah manapun.


"Ayo, Difa minum dulu!" Malik memberikan air botol kemasan yang sudah ia beli tadi di kantin Rumah Sakit.

__ADS_1


Nadifa pun menerimanya dengan baik, berbeda dengan Galih yang masih mengeraskan kedua rahangnya karna tidak menyukai hal itu.


Tetapi saat ini ia sadar, Nadifa sedang sakit. Tidak mungkin Galih menghajar kembali Malik dengan kecemburuannya yang sedang berbuih.


"Sini sayang, sama aku," Galih merangkul tubuh Nadifa dan mendekapnya erat. Raut kemenangan diarahkan kehadapan Malik.


Malik terlihat masih cemburu melihat adegan tersebut.


Namun kememangam Galih tidak berlangsung lama, Nadifa kembali mual dan melepaskan dekapan tersebut untuk beralih ke arah Malik yang masih memegangi kantong muntahannya.


"Ayo Dif, keluarin semua biar kamu plong!" Malik membimbing dan memberikan senyuman mengejek ke arah Galih.


"Sialan---! dasar tua bangka ! Kalau enggak utang budi karna udah bawa istri gue kesini, udah gue hajar dari tadi !" Galih mengumpat Malik habis-habisan didalam batin nya yang begitu mendidih.


"Rasain anda, berani-beraninya mau buat saya cemburu!" Malik ikut geram dan emosi.


Kini mereka terlihat seperti anak kecil karna rasa cinta yang menyuluti, untuk wanita ini.


Untuk saat ini saja, mereka bisa dibilang sudah kehilangan wibawa. Mengingat mereka adalah para sosok petinggi besar di perusahaan masing-masing.


Masih ada lanjutannya ya guysss..tungguin


Oiya aku mau minta tolong ya sama kalian, yang masih punya point atau koint bisa ya Vote cerita ini.

__ADS_1


Like nya jangan lupa yah❤️🖤


__ADS_2