
"Hallo?" Dania mengangkat telepon yang berdering di meja Nadifa.
"Hallo, sayang.." Ucapan Galih terhenti ketika ia sadar ini bukan suara istrinya.
"Maaf siapa ini?" tanya Dania.
Galih diam sebentar, lalu melanjutkan lagi," Apakah ini ruangan Nadifa? saya suaminya"
Dania mengencangkan wajahnya, tepat sekali. Ia akan berpihak pada posisi Galih saat ini, ia tidak mau Nadifa terjebak lagi dalam hubungannya dengan Malik.
"Nadifa tidak ke kantor hari ini," balas Dania
Lalu ada suara jeda dibalik telepon itu
"Hallo?" Dania mengucap lagi.
Galih masih diam, sepertinya melanjutkan pembicaraan ini tidak ada fungsinya lagi. Ketika ia mau berucap untuk pamit, Dania bersuara lagi.
"Kamu tenang saja, Mas. Nadifa aman kok!"
Hati Galih lega, dadanya gempita luas.
"Dimana dia ? aku ingin menjemputnya sekarang,"
"Hemmmm," Dania diam kembali masih berfikir.
"Mba?"
"Baiklah, semalam Nadifa menginap dirumah saya, dia menangis semalaman. Saya tau dia letih, maka Saya enggak nyuruh dia untuk masuk kerja dulu," Dania mengucap dengan sangat pelan.
"Tolong bantu aku, Mba!" Galih memohon.
__ADS_1
Dania berfikir kembali.
"Baiklah, tolong jemput saya ke kantor, baru kita ke rumah saya,"
"Baik, terima kasih!"
Telepon kembali diletakan ditempatnya, ia berjalan ke mejanya untuk bersiap membereskan pekerjaanya, mematikan Komputer dan mengayunkan tas untuk bersandar di bahunya.
"Permisi Pak, maaf Niah mau ijin kesekolah anak dulu, mungkin kembali habis istirahat,"
Dania meminta ijin kepada Malik.
Malik yang tidak bergairah hanya mengangguk tanpa ucapan bermakna.
"Baik Pak, terima kasih," Dania pun berlalu dan turun ke lobby untuk menunggu Galih.
*****
Galih telah memakirkan mobilnya dengan baik didepan rumah Dania. Wanita ini sangat bersikap ramah untuk mempersilahkannya masuk, dengan dua jinjingan Pizza ditangan kanan dan kiri yang dibawa Galih, ia pun mulai masuk mengikuti langkah Dania dari belakang.
Belum sampai menepi ke tengah ruang tamu, Nadifa sudah lebih dulu menuruni anak tangga.
Galih tidak perduli lagi dengan malu nya, ia jatuhkan dua jinjingan pizza dan terjatuh ke lantai. Ia berjalan cepat memeluk istrinya yang masih berdiri di bawah anak tangga
"Kita pulang ya, aku enggak bisa kalau enggak ada kamu dirumah,"
Galih memeluk Nadifa erat sekali.
Dania menganggukan kepala untuk memberi kode kepada Nadifa untuk mengiyakannya.
"Iya, Mas. Kita pulang kerumah," Nadifa mulai menguatkan dirinya.
__ADS_1
"Makasi ya, Mba," Nadifa menghampiri dan memeluk Dania, ia ingin menangis lagi tetapi urung karna matanya sudah berat.
"Saya titip Nadifa sama kamu," Dania merangkul Nadifa menatap mata ke arah Galih.
"Baik, Mba. Pasti!"
"Tolong turunkan koper ku, Mas!" pinta Nadifa, bergegas lah Galih menaiki tangga setelah diberi tahu dimana letak kamar tamu.
Dania memeluk Nadifa lagi.
"Bersabar lah, Allah tidak akan selamanya memberi luka dihidup kita!"
"Doakan aku, Mba." Nadifa melepas sedikit pelukan itu.
Dania mengangguk dan memeluk kembali.
Galih pun terlihat sedang menuruni tangga dengan membawa koper berwarna merah muda kepunyaan Nadifa.
Dania mengantar mereka di ambang pagar rumah nya.
Nadifa terus melihati Lambaian tangan Dania yang mengantar mereka untuk pulang. Galih menjalankan deruh mesin mobilnya.
"Mas?"
"Iya sayang," jawab Galih yang senang bukan kepalang melihat Nadifa sudah membaik, ia terus memegangi tangan Nadifa tanpa mau dilepas.
"Kita jangan pulang kerumah dulu ya," pinta Nadifa.
"Baik, aku siap akan mengantar kamu kemana aja,"
Nadifa mengangguk.
__ADS_1
"Aku mau kerumah Mba Gita!"
"Hah?!"......