
Benar saja, gerimis pun turun menemani perjalanan mereka jika Dania tidak ikut bersama mereka ia pasti akan basah kuyup dijalan.
Dania yang duduk dibelakang terus melihati sikap Galih yang begitu manja kepada Istrinya, Galih tidak henti-hentinya menggenggam tangan istrinya yang diletakan di atas paha celananya.
"Begitu cintanya kepada Nadifa, aku akan mengutuk jika memang Nadifa dan Pak Malik memang benar ada hubungan special." kata Dania dalam hati yang tetap mencurigai mereka walau tanpa menemukan bukti sampai saat ini.
duarrrrrr !!!
Terdengar suara gluduk mengaung keras disertai kilat hebat berkilau disela-sela awan.
Nadifa menjerit, menutup telinganya dan beristigfhar dengan cepat Galih merangkul Nadifa dengan satu tangannya.
"Gapapa sayang," Galih menenangkan Nadifa yang sedang merintih takut.
Dania kembali takjub dengan adegan percintaan ini, merasa ikut bahagia sekaligus iri melihatnya.
1 jam kemudian, sampailah mobil mereka berada tepat di rumah Dania, Dania tepat mengarahkan jalan menuju rumahnya kepada Galih.
"Terima kasih banyak Mas Galih dan Nadif, sudah mau direpotin anter kerumah kayak gini,"
Galih menoleh ke belakang," Sama-sama mba dengan senang hati"
"Barangkali mau mampir dulu kedalam?"
"Ingin sekali main tapi lain kali saja ya Mba." Jawab Nadifa, mengingat ia harus cepat sampai rumah untuk memasak.
__ADS_1
"Baiklah, lain kali harus ya," Dania pun membuka pintu mobil belakang dan turun dengan cepat membuka pagar agar tidak kebasahan.
Mobil mereka pun kembali melaju menuju rumah menembus hujan.
Galih tetap fokus mengemudi dalam balutan air hujan yang sesekali menutup layar mobilnya.
Nadifa membuka HP nya dan mengetik pesan singkat untuk Malik.
Nadifa :
*** Kalau sudah sampai rumah, kabari aku ya***....send....
Kemudian menghapus semua history chat mereka dan kembali mematikan layar HP nya, ia tidak mau Galih mencurigai hal ini.
"Aku ingin menemani dan membantumu masak untuk makan malam," Galih membuka suara dalam keheningan mereka.
Merasakan nafas keluar dari hidung Nadifa yang mendarat di pipi kanannya itu membuat ia semakin larut dalam rasa bersalah teramat dalam.
"Kalau tidak bantu, dikomplen. Kalau mau dibantu dibilang tumben." balas Galih menyeleneh.
Nadifa hanya tertawa dan merekatkan kepalanya didada Galih, Galih semakin membara dalam penyesalan.
Ia terus mengemudi dengan baik menahan semua gejolak hati yang ingin dimuntahkan keluar, ia tidak bisa membayangi bagaimana hati istrinya setelah ini.
Apakah Nadifa tetap akan hidup dengannya dan mau memaafkannya.
__ADS_1
"Nadifa tidak boleh tau!" katanya dalam hati.
Mereka pun sampai dirumah, tepatnya kini sudah berada dikamar.
"Mas, tolong bukakan sleting belakang baju ku," pinta Nadifa, Galih pun membukanya dengan cepat dilihatnya kulit punggung istrinya yang mulus dan menggoda.
Dibukai sleting tersebut sampai pinggang disusupi punggung istrinya dengan bibir indahnya dan tangannya pun mulai menjalar masuk kedalam baju dari arah belakang menggapai dua gundukan kenyal milik Nadifa.
Terlihat Nadifa pun sudah menikmati hasil karya tangan Galih yang sudah menjamah kemana-mana, dikecupi bibir Nadifa hingga menjulang.
Membuka..
Melebarkan
Galih teramat buas dengan permainan itu, ia membalikan tubuh Nadifa kehadapanya dengan sigap melepaskan kain-kain yang terpasang menutupi saat ini.
Ia pun membenamkan wajah nya di leher dan turun ke bawah gundukan kokoh memberi kesejukan bagi mata memandang.
Nadifa mengeluh dengan pelan, Galih pun membaringkan tubuhnya istrinya dengan sigap
Berolahraga mengeluarkan keringat dengan cinta melepas sesuatu yang sedang membara dikeduanya.
Galih terus melakukan aksi nya. Ia seperti terlupa dengan masalah Gita dan kejadian tadi siang.
Gulangan Galih tercuat ketika dirinya telah sampai diperaduan kenikmatan, kembali membungkam bibir Nadifa yang hanya diam karna lemas.
__ADS_1
Kemudian berbaring berdampingan, Galih tanpa henti terus menciumi tangan istrinya yang kini hanya diam sesekali memejamkan mata, dan ia pun tertidur lupa akan rencana untuk masak bersama.
Galih menutup tubuh Nadifa dengan selimut tebal kepunyaan mereka.