Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Hukuman 1


__ADS_3

Plang....!!


Gelas yang ingin diraih oleh Nadifa di meja malah begitu saja lepas dan jatuh ke lantai, membuat Gita yang sudah pulang cepat dari kantor 30 menit lalu, bangun dari sofa untuk mengambil gelas itu.


"Biar aku saja," Gita membungkuk mengambil gelas itu.


"Kamu masih lemas Dif?" tanya Gita penuh khawatir.


Saat ini Gita sudah menerima posisinya yang hanya menjadi kedua di antara Galih dan Nadifa.


"Mba tolong hubungi Mas Galih, tadi dia bilang mau makan sebentar kenapa sudah 2 jam begini belum kembali," Nadifa merasa cemas dan khawatir.


Gita mengangguk dan menelpon.


"Enggak diangkat Dif, mungkin sedang dijalan," Gita pun ikut cemas.


Nadifa kembali menyandarkan kepalanya dibantal.

__ADS_1


"Selamat sore Ibu Nadifa," sapa dan salam yang hangat diberikan oleh Dokter dan Perawat yang sedang memvisite dirinya.


"Trombositnya sudah bagus, naiknya cepat kalau mau pulang sudah boleh, dirumah harus istirahat lagi, makan yang cukup buah2an dan vitamin ," Dokter menjelaskan kepada Nadifa dan Gita.


"Alhamdulillah makasi ya Dok, Sus,"


Gita memberi raut wajah senang melihat Nadifa sudah sembuh, karna dari kemarin ia terus menyesali apa yang telah ia lalukan sehingga membuat keluarga ini berantakan.


Gita mulai berubah.


"Aku saja yang urus administrasinya ya, biar kita bisa cepat pulang dari sini," Gita menawarkan diri.


Suster pun mencopot selang infus yang terpasang ditangan kanan Nadifa, Ia pun mulai berbenah memasukan kembali baju-baju yang selama ia gunakan disini kedalam tas besar.


Tak lama kemudian ada Galih yang datang masuk kedalam kamar.


"Kamu mau kemana?" Galih mengagetkan Nadifa yang sedang membungkuk membelakangi dirinya karna masih sibuk membereskan baju-baju kedalam tas.

__ADS_1


"Aku sudah diperbolehkan pulang Mas, dan Mba Gita sedang mengurus administrasi dibawah,"


"Kamu dari mana aja Mas, kok makan lama banget?" Nadifa menoleh lagi melihati wajah Galih, ia pun tidak mengubris pertanyaan itu karna hatinya masih kesal, jiwanya hancur namun ia tetap menutupi itu semua sampai waktunya tepat untuk dikuak didepan Nadifa.


"Kenapa harus Gita yang kesana? dia kan sedang hamil tidak boleh letih-letih!"


Ucapan Galih bermakna rasa keberatan jika Gita melakukan hal itu, ia sengaja seperti ini karna ingin perlahan untuk membalas rasa ketidaksukaannya karna sudah dihianati.


Mendengar Galih yang seperti ini, sontak membuat Nadifa kaget bukan kepalang, sambil melipat dahinya rapat-rapat," Memangnya kenapa Mas? kalau ada kamu juga kan pasti kamu yang urus, Mba Gita juga kan enggak aku suruh lari-lari!" ucap Nadifa bernada tidak suka.


"Ini kah istriku, Nadifa! wanita yang selalu memanjaku, melayani dan bermesraan denganku yang tega membagi hati dengan lelaki lain, aku sangat tidak menyangka jika kamu sama saja seperti Gita !" Galih mengumpat dalam hati nya.


"Oh kamu sudah datang Lih, dari mana aja ?" Gita sudah datang dengan membawa beberapa kertas kwitansi yang ada ditangannya.


"Kamu kenapa pulang sendiri? aku kan bisa jemput ke kantor, ingat kamu sedang hamil muda, hamil anakku!" suara Galih sangat memanjakan dan mengkhawatirkan Gita. Galih sengaja melakukan ini, ia ingin tau bagaimana perasaan Nadifa, cemburuh kah? apakah istrinya ini masih mencintainya!


Nadif hanya diam menahan sedikit sesak didalam dada, bagaimanapun ia pasti cemburu akan hal ini.

__ADS_1


"Ada apa nih sama Galih, enggak biasanya dia sebegini perhatiannya sama aku," batin Gita.


Galih terus menatapi Nadifa yang sedang memblakangi mereka, ia akan bermain-main dulu untuk memberi hukuman kepada sang istri tercinta dengan caranya.


__ADS_2